BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Peningkatan Mutu Benih dengan Teknik Invigorasi Menggunakan Matricoditioning

  Dec 31, 2015     Admin BPP  

Benih yang ditanam memberi dua kemungkinan yakni menghasilkan tanaman normal sekiranya kondisi alam tempatnya tumbuh optimum. Kedua benih tersebut tumbuh abnormal atau mati. Dalam kehidupan sehari-hari benih yang diproduksi tidak selalu segera ditanam. Benih itu mengalami penundaan tanam, umumnya dengan penyimpanan. Vigor benih yang mencapai tingkat maksimum saat masak fisiologi benih, harus dipertahankan  selama pemanenan maupun proses selanjutnya. Kemunduran benih adalah proses yang alami, semua benih pasti mengalami kemunduran. Tetapi prosesnya bisa diperlambat. Kemunduran benih adalah mundurnya mutu fisiologis benih yang dapat menimbulkan  perubahan menyeluruh di dalam benih, baik fisik, fisiologi maupun kimiawi yang mengakibatkan menurunnya viabilitas benih. Kemunduran dapat terjadi selama periode simpan, perlakuan pemanenan yang tidak tepat, atau selama dalam transportasi.

Untuk mengatasi terjadinya kemunduran mutu benih baik yang diakibatkan oleh faktor penyimpanan maupun diakibatkan oleh faktor kesalahan dalam penanganan benih, dapat dikendalikan dengan cara "invigorasi" melalui proses hidrasi-dehidrasi. Invigorasi adalah suatu perlakuan fisik atau  kimia untuk meningkatkan atau memperbaiki vigor benih yang telah mengalami kemunduran mutu. Dengan metode invigorasi benih ini diharapkan benih yang telah turun viabilitasnya dapat diperbaiki minimal 10-20% dan penggunaan benih kurang baik mutunya dapat dihindarkan sehingga mengurangi resiko kegagalan dilapang.

Banyak cara yang dapat digunakan untuk memperbaiki perkecambahan benih, akan tetapi conditioning yang sudah terbukti efektif dan paling mudah dilakukan adalah matriconditioningMatriconditioning adalah perlakuan hidrasi terkontrol yang dikendalikan oleh media padat lembab dengan potensi matrik rendah dan potensi osmotic yang dapat diabaikan.

 

METODOLOGI PENGUJIAN

Pengujian dilakukan di Laboratorium Pengujian Mutu Benih BBPPTP Surabaya dengan menggunakan bahan Benih Kakao F1, Serbuk Gergaji, Arang Sekam, Jerami, Aquades, Air, ZPT (Air Kelapa) dan Pasir, serta alat yang digunakan adalah Bak perkecambahan, Plastik, Kerdus, Sarung tangan, Masker, Gunting, Kamera, Gelas Ukur.

Pengujian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 2 faktor yaitu lama penyimpanan dan bahan matri. Lama penyimpanan terdiri dari : Tanpa penyimpanan (P0), Lama simpan 1 minggu (P1), Lama simpan 2 minggu (P2), dan Lama simpan 3 minggu (P3). Sednagkan bahan matri terdiri dari : Tanpa matriconditioning (M0), Martriconditioning dengan jerami (M1), Matriconditioning dengan abu sekam (M2), Matriconditioning dengan serbuk gergaji (M3), Matriconditioning dengan jerami + ZPT (M4), Matriconditioning dengan abu sekam + ZPT (M5), dan Matriconditioning dengan serbuk gergaji + ZPT (M6).

Parameter pengamatan yang dilakukan adalah kadar air benih, daya berkecambah benih, keserempakan tumbuh, panjang akar primer, dan bobot kering kecambah.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Daya Berkecambah

.

Dari hasil pengujian, untuk parameter daya berkecambah didapatkan hasil yaitu bahwa perlakuan kombinasi dari P0M0 (Tanpa penyimpanan & tanpa matriconditioning),  P1M1 (Penyimpanan benih selama 1 minggu & matriconditioning jerami), P1M2 (Penyimpanan benih selama 1 minggu & matriconditioning abu sekam), P1M0 (Penyimpanan benih selama 1 minggu & tanpa bahan matriconditionong),  P0M1 (Tanpa penyimpanan & matriconditioning jerami), P0M3 (Tanpa penyimpanan & matriconditioning gergaji), P0M6 (Tanpa penyimpanan & matriconditioning gergaji dan ZPT), P1M5 (Penyimpanan benih 1 minggu & matriconditioning abu dan ZPT), P1M3 (Penyimpanan benih 1 minggu dan matriconditioning gergaji), P0M4 (Tanpa penyimpanan & matriconditioning jerami dan ZPT), P1M6 (Penyimpanan benih selama 1 minggu & matriconditioning gergaji dan ZPT), P0M2 (Tanpa penyimpanan & matriconditioning abu sekam), P1M4 (Penyimpanan benih 1 minggu & matriconditioning jerami dan ZPT) tidak berbeda signifikan satu sama lain namun berbeda signifikan dengan kombinasi perlakuan yang lain (ditunjukkan dengan perbedaan notasi). Dengan demikian 13 kombinasi perlakuan tersebut diatas adalah kombinasi perlakuan terbaik dalam pengujian ini untuk parameter daya berkecambah.

Daya berkecambah benih Kakao Lindak F1 masih bertahan hingga 89 % pada perlakuan lama penyimpanan 1 minggu meski diberi perlakuan faktor matriconditioning. Namun, pada perlakuan lama penyimpanan 2 minggu dan 3 minggu, daya berkecambah benih mengalami penurunan meski dikombinasikan dengan perlakuan matriconditioning apapun. Pada periode penyimpanan 1 minggu diduga efektifitas mencapai maksimum. Karena pada lama periode simpan selanjutnya benih mulai memasuki periode kritikal, yang dicirikan daya berkecambah mulai turun dan upaya melakukan invigorasi tidak bisa memberikan pengaruh positif. Pada perlakuan P3 (lama penyimpanan benih 3 minggu) benih tidak berkecambah hingga pengamatan 14 hst. Hal ini disebabkan karena kondisi benih yang lembab dan banyak terdapat jamur pada benih sehingga berpengaruh pada perkecambahan dari benih kakao tersebut.

Benih kakao yang disimpan dengan media simpan yang tepat akan mengurangi respirasi. Laju respirasi yang rendah dapat menghambat pengurasan cadangan makanan yang akan digunakan untuk perkecambahan. Benih yang cepat berkecambah cenderung memiliki daya berkecambah yang tinggi (Rahayu, 2002 dalam Sumampow, 2011). Daya berkecambah yang tinggi tersebut karena benih selama dalam penyimpanan dapat mempertahankan cadangan makanan dan bisa menekan perombakan akibat proses respirasi sehingga pada saat dikecambahkan memiliki energi yang besar untuk cepat berkecambah. Hasil penelitian Ishak (1990), penyimpanan benih kakao dengan menggunakan sedia serbuk gergaji lebih baik daya berkecambahnya dibandingkan dengan media sabut kelapa. Serbuk gergaji mempunyai sifat lambat lapuk sehingga media ini sangat baik untuk menyimpan air dan mempertahankan kelembaban di sekitar benih.

 

Kadar Air

.

Dari tabel anova di atas dapat dilihat bahwa nilai siginifikansi P lebih dari 0,05. Oleh karena nilai signifikansinya lebih dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata kadar air benih yang signifikan antar level faktor P (lama penyimpanan). Hasil pengamatan pada kadar air benih berbeda tiap perkakuan penyimpanan, namun kadar air benih kakao semakin menurun setelah disimpan selama 2 minggu dan 3 minggu.

Benih kakao tidak mempunyai masa dormansi dan kadar airnya cukup tinggi yaitu sekitar 40%. Hal ini menunjukkan bahwa benih kakao adalah benih rekalsitran, viabilitas benih rekalsitran hanya dapat dipertahankan beberapa minggu atau bulan saja, meskipun disimpan pada kondisi optimum. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hasid, 2010 menjelaskan bahwa kadar air benih rekalsitran kakao umumnya menurun setelah disimpan tanpa kemasan selama satu hari sampai dengan lima hari.

 

Panjang Akar

.

Dari tabel anova di atas dapat dilihat bahwa nilai siginifikansi P dan M kurang dari 0,05 sedangkan nilai signifikansi interaksi lebih dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan   bahwa :

  1. Terdapat perbedaan rata-rata panjang akar yang signifikan antar level faktor P (lama penyimpanan).
  2. Terdapat perbedaan rata-rata panjang akar yang signifikan antar level faktor M (Matriconditioning).
  3. Tidak terdapat perbedaan rata-rata panjang akar yang signifikan antar kombinasi perlakuan antar  faktor P dan M (pengaruh interaksi signifikan).

Oleh karena pengaruh interaksi tidak signifikan maka yang dihitung adalah pengaruh utama P dan M, untuk menentukan level faktor terbaik pada masing-masing faktor .

Panjang akar primer dapat dijadikan indikator untuk menentukan vigor benih. Benih yang memiliki perakaran yang panjang diindikasikan bahwa benih tersebut masih mempunyai cadangan makanan yang besar untuk membentuk epikotil dan radikel yang lebih besar dan kuat. Benih yang tumbuh cepat dan kuat akan terhindar dari lingkungan yang tidak menguntungkan. Tanaman yang ukuran benihnya lebih besar mempunyai tinggi tanaman, daya berkecambah dan panjang akar lebih besar dari pada tanaman dari benih kecil, karena cadangan makanan awal yang lebih banyak pada benih berukuran besar sehingga kemampuan membentuk epikotil dan radikel akan lebih besar dan kuat (Miller, 1938 dalam Koes dan Ramlah, 2011).

 

Berat Kering

.

Dari hasil pengujian, untuk parameter berat kering didapatkan hasil yaitu bahwa perlakuan kombinasi dari P0M0 (Tanpa penyimpanan & tanpa matriconditioning),  P0M3 (Tanpa penyimpanan & matriconditioning gergaji), P0M6 (Tanpa penyimpanan & matriconditioning gergaji dan ZPT), P0M2 (Tanpa penyimpanan & matriconditioning abu sekam), P0M6 (Tanpa penyimpanan & matriconditioning gergaji dan ZPT) tidak berbeda signifikan satu sama lain namun berbeda signifikan dengan kombinasi perlakuan yang lain (ditunjukkan dengan perbedaan notasi). Dengan demikian 4 kombinasi perlakuan tersebut diatas adalah kombinasi perlakuan terbaik dalam pengujian ini untuk parameter berat kering tanaman.

Pada perlakuan P3 (lama penyimpanan benih 3 minggu) benih tidak berkecambah hingga pengamatan 14 hst. Hal ini disebabkan karena kondisi benih yang lembab dan banyak terdapat jamur pada benih sehingga berpengaruh pada perkecambahan dari benih kakao tersebut.

 

KESIMPULAN

Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa perlakuan penyimpanan benih tanpa penyimpanan (P0) dan penyimpanan benih selama 1 minggu (P1) menghasilkan daya berkecambah lebih dari 80 % , meski dikombinasikan dengan beberapa bahan matriconditioning. Sehingga dapat disimpulkan perlakuan matriconditioning tidak berpengaruh pada hasil daya berkcambah pada perlakuan penyimpanan 0 hari dan 1 minggu. Untuk parameter kadar air tidak terdapat perbedaan rata-rata kadar air benih yang signifikan antar level faktor P (lama penyimpanan). Untuk parameter panjang akar tidak terdapat perbedaan rata-rata panjang akar yang signifikan antar kombinasi perlakuan faktor P dan M (pengaruh interaksi signifikan). Untuk parameter panjang akar tidak terdapat perbedaan rata-rata panjang akar yang signifikan antar kombinasi perlakuan faktor P dan M (pengaruh interaksi signifikan). Untuk parameter berat kering terdapat perbedaan rata-rata berat kering  yang signifikan antar kombinasi perlakuan antar  faktor P dan M (pengaruh interaksi signifikan).

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id