BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Yuk Ngopi!

  Nov 02, 2016     Admin BPTP  

Oleh Ahmad Heryawan

SUDAHKAH Anda menyeruput kopi pagi ini? Jika belum, mangga, silahkan! Tapi, jangan ngopi sembarang kopi. Pilihlah kopi terbaik. Java Preanger Coffee salah satunya.

Jika Anda menyeruput kopi arabika itu, ada baiknya juga nama-nama ini Anda ketahui: Nicholas Witsen dan Adrian van Ommen. Keduanyalah yang ikut berperan menebar kopi arabika itu di Tanah Pasundan, selain Anda bisa pula membayang-bayangkan warga pribumi yang ikut memainkan peran dalam lakon yang menyedihkan pada awalnya, pelaku tanam paksa yang represif di zaman penjajahan itu.

Witsen adalah Wali Kota Amsterdam pada 1696 itu. Dialah yang memerintahkan komandan pasukan Belanda di Malabar, India, van Ommen, membawa bibit kopi arabika ke Nusantara. Di daerah Priangan, di bumi tempat kita hidup saat ini, perkebunan kopi pertama hadir di Indonesia, setelah diuji coba lebih dulu di kawasan Pondok Kopi, Jakarta Timur kini.

Sejak 1711, kopi khas Priangan ini sudah mulai membanjiri daratan Eropa. Java Preanger Coffee menjadi kopi dengan kualitas terbaik di dunia saat itu. Lebih seabad lamanya kopi arabika dari Nusantara dengan pusatnya di Tanah Sunda, menjadi pewarna kehidupan pagi para bule itu di Eropa, hingga akhirnya penyakit karat daun yang disebabkan oleh jamur Hemileia vastatrix meruntuhkan kejayaan kopi Jawa Barat itu.

Jika hari-hari ini, juga beberapa tahun belakangan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencoba membangkitkan kembali kejayaan Java Preanger Coffee, tentulah itu bukan sekadar untuk bernostalgia. Kita sadar, kita paham, kopi merupakan komoditas dengan potensi yang tinggi di Jabar dan menyangkut kehidupan banyak warga. Karena itu, upaya untuk terus mendorong kemajuan kopi arabika di Tanah Pasundan ini harus kita lakukan. Dari hulu hingga ke hilir.

Di hulu, kita terus berupaya meyakinkan masyarakat, bahwa menanam kopi, dari banyak sisi, memberi keuntungan ekonomis dibanding menanam sayuran, misalnya. Sebagai tanaman tua, kopi tak hanya bernilai ekonomis, melainkan juga lebih kuat dalam upaya pelestarian alam.

Sejauh ini, kopi di Jabar baru ditanam di lahan seluas 36 ribu hektare. Umumnya ada di kawasan Kabupaten Bandung, Garut, dan Sumedang. Padahal, potensi lahannya bisa mencapai 200 ribu hektare. Artinya, yang tertanam belum sampai 25% dari potensi yang ada, masih bisa dikembangkan secara lebih masif.

Sebagaimana lazimnya, kopi memang tumbuh subur di kawasan pegunungan. Kebetulan, Jabar adalah daerah dengan topografi pergunungan yang ada di mana-mana. Maka, kopi Jabar itu tumbuh di Gunung Malabar, Gunung Puntang, Hunung Halu, Gunung Tilu, Gunung Papandayan, Gunung Tampomas, Gunung Patuha, Gunung Guntur, hingga Gunung Manglayang. Semuanya dengan citarasa yang sedikit berbeda meski berasal dari akar kopi yang sama.

Untuk upaya pengembangan tersebut, Pemprov Jabar akan membantu masyarakat petani dengan bibit kopi berkualitas. Jika ada petani yang saat ini belum kebagian bibit tersebut, mudah-mudahan tahun depan bisa mendapatkan jatahnya. Sebab, kita rencanakan membagikan lima juta bibit pohon kopi unggulan untuk masyarakat Jabar tahun depan itu.

Dari sisi permodalan pun, kita mencoba membantu petani dengan mendorong perbankan menyalurkan kreditnya untuk petani. Sejauh ini, sudah ada dua perbankan nasional yang siap membantu petani dan perajin kopi. Bank BNI menyediakan kredit usara rakyat (KUR), sementara Bank Jabar Banten (BJB) menyediakan pula Kredit Cinta Rakyat (KCR) kepada petani dan perajin kopi.

Ke hilir, Pemprov Jabar juga aktif mempromosikan kopi Jabar, baik dalam aktivitas berupa festival kopi, expo, hingga kegiatan ekspor yang bisa sekalian ditunggangi dengan promosi besar-besaran. Seperti kita ketahui, sejak hampir tiga tahun lalu, kopi Jabar yang berabad-abad lalu memesona masyarakat Eropa, sudah mulai kita ekspor lagi. Eskpor perdana, saat itu, kita kirim ke Maroko, negeri hub antara Eropa dan Afrika Utara; salah satu pasar utama kopi dunia. Dari Maroko, kita berharap aroma kopi Jabar itu bisa menembus Spanyol, Italia, atau Mesir di Afrika.

Siapa eksportirnya? Bukan lagi VOC seperti dulu Java Preanger Coffee diekspor ke Eropa, bukan pula perusahaan swasta murni, melainkan koperasi! Dalam hal ini adalah Koperasi Mitra Malabar. Tentu saja, dengan koperasi memainkan peran vital dalam perdagangan luar negeri ini, kita berharap kesejahteraan masyarakat, utamanya petani anggota koperasi, angkat terangkat.

Begitulah kopi Jabar. Dia memang istimewa, tak patut tersia-sia. Dia bisa jadi penggerak roda ekonomi bagi sebagian masyarakat di Tanah Pasundan dan karena itu patut kita dorong bersama-sama. Bukan hanya petani, pemerintah, tetapi juga masyarakat konsumen. Caranya, ya dengan beralih menyeruput Java Preanger Coffee, kopi yang digiling dan bukannya digunting, diseduh tanpa gula. Sebab, di situlah kenikmatan kopi sesungguhnya, kenikmatan yang tak hanya kita nikmati saat menyeruputnya, tapi juga mudah-mudahan memberi kenikmatan lain bagi petani, perajin, dan pelaku industrinya.

Dengan begitu, kita berharap suatu ketika jika orang bicara soal Java Preanger Coffee, maka yang ada dalam lintasan sejarah tidak lagi hanya Nicholas Witsen (Wali Kota Amsterdam tahun 1696), Adrian van Ommen (komandan pasukan Belanda di Malabar), tapi juga Ayi Sutedja petani kopi asal Gunung Puntang yang mendapatkan penghargaan juara dalam SCAA Expo 2016 di Atlanta, Amerika Serikat, atau Wildan Mustafa (Mekarwangi-Andungsari), Slamet Prayogo (Malabar Honey), Asep (Java Cibeber), dan Dedi Darmadi (West Java Pasundan Honey). (*)

Sumber : Harian Umum INILAH KORAN Edisi 31 Oktober 2016 

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id