BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Ekspor Teh Indonesia Anjlok

  Nov 22, 2016     Admin BPTP  

Jakarta – Ekspor teh Indonesia periode Januari - September 2016 hanya sebanyak 86,35 juta dolar AS atau anjlok 17,21 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai 104,3 juta dolar AS. Kondisi ini dinilai ironis, karena permintaan teh dunia sedang mengalami peningkatan sekitar tiga persen tiap tahunnya.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Dody Edward, di Jakarta, Senin (21/11/2016) mengatakan, penurunan disebabkan karena produksi yang belum meningkat pesat. Selain itu penurunan juga disebabkan oleh terbatasnya teknologi pengolahan teh. “Pasar teh dunia saat ini memerlukan teh dalam bentuk olahan seperti untuk kosmetik dan obat-obatan. Tetapi kita mengalami kendala permesinan dan pengemasan,” ujarnya pada Forum Ekspor Teh Tahun 2016.

Dia mengatakan, ekspor teh Indonesia bergantung pada produk primer sehingga nilai tambah belum maksimal. “Kontribusi ekspor untuk produk hilir perlu ditingkatkan karena sekarang masih enam persen dari teh nasional,” ujarnya.

Ketua Dewan Teh Indonesia Rachmat Badrudin mengatakan, komoditas teh masih dianggap kecil bahkan oleh pemerintah sendiri. Hal ini berbeda dengan Negara lain seperti Sri Langka yang melakukan promosi habis-habisan. “Pemerintah menganggap teh kecil hanya sekian hectare jadi kalau dikembangkan tidak terkena dampak. Padahal dari segi lingkungan, tenanga kerja, dan devisa teh bisa menghasilkan keuntungan,” ucapnya.

Alih-alih mendorong petani mengembangkan komoditas teh, menurut Rachmat, pemerintah malah memberikan beban dengan menerapkan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen sejak dua tahun lalu. “Hal ini justru dibebankan pada petani. Padahal sebelumnya margin teh sudah tipis,” kata dia.

Rachmat mengatakan, kondisi ini menyebabkan Indonesia justru digempur oleh teh impor tetapi memiliki kualitas yang rendah. Bahkan produk impor tersebut memiliki Maksimum Residu Level (MRL) yang tinggi sehingga berisiko membahayakan konsumen. “Misalnya teh Vietnam banyak beredar di Indonesia, padahal MRL-nya tinggi dan membahayakan konsumen dalam negeri. Ini belum ada regulasi dari kita dari segi MRL,” ujarnya.

Tahun 2015, import teh mencapai 25.000 ton. Sementara Indonesia memproduksi 130.000 ton. “Kita sekitar 22 persen impor, padahal Indonesia penghasil teh,” kata dia.

Sementara itu, petani teh asal Cianjur Egi Abdul Kudus mengatakan pasar teh Indonesia untuk lokal sedang mengalami penurunan. Hal itu dipengaruhi oleh faktor cuaca dan penerapan PPN. “Dalam dua tahun ini terus menerus hujan sehingga mereka tidak berani stok banyak. Apalagi dengan adanya PPN 10 persen jadi ada persaingan, ada dua golongan yaitu yang mempertahankan kualitas tetapi harga mahal dengan yang harganya tetap tapi kualitasnya menurun, “ujarnya.

Egi menambahkan, dirinya juga mengalami penurunan penjualan sebesar 50 persen sejak Agustus. “Di saya saja yang rata-rata biasanya terjual 100 kg, saat ini maksimal 50 kg sebulan,” ujarnya.

 

Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat, Selasa 22 November 2016. Kolom Bisnis Halaman 18.

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id