BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Harumnya Bisnis Kopi Java Preanger

  Jan 16, 2017     Admin BPTP  

Bisnis kopi di Kabupaten Garut mulai menggeliat seiring meningkatnya produksi kopi di wilayah tersebut. Kedai-kedai kopi satu demi satu bermunculan di wilayah perkotaan Garut dan menjadi tempat nongkrong anak muda. Garut kini memupuk mimpi besar agar kopinya bisa tersohor layaknya kopi gayo dari Aceh.

Aroma kopi melayang-layang di rumah Enung Sumartini di Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut. Harumnya membuat setiap orang yang datang ingin segera menyeruput kopi. Siang itu, Enung menyuguhkan secangkir kopi hangat. Harum kopi seketika meliuk-liuk di depan hidung. Bahkan, aroma kopi bisa tercium tanpa perlu mendekatkan kepala ke cangkir. Saat diseruput, rasa asam menyapa lidah pertama kali. Kopi arabika dari Garut memang khas. Rasanya tergolong lembut, tak terlalu pahit dan terselip rasa asam.

Menurut Enung, kopi itulah yang menjadi incaran penggemar kopi di Amerika Serikat dan beberapa Negara di Eropa dalam tiga tahun terakhir. Memang, beberapa tahun belakangan, bisnis kopi di Garut semakin maju hingga mampu mengekspor.

Petani bersemangat menanam kopi sejak adanya bantuan jutaan bibit kopi arabika dan robusta dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bantuan tersebut merupakan salah satu upaya Pemprov Jabar untuk menjadi produsen kopi unggul yang digemari pencinta kopi dalam negeri dan luar negeri. Kopi dari Jabar yang diberi nama Java Preanger.

Garut dipilih menjadi salah satu sentra pengembangan kopi Java Preanger, selain Pangalengan di Kabupaten Bandung. Di Garut, kopi ditanam di sekitar Gunung Papandayan dan Gunung Guntur.

Enung menjadi pengumpul gabah kopi dari 13 kelompok tani untuk diolah menjadi biji kopi hijau atau green been. Pada musim panen 2016 lalu, produksi biji kopi hijau hasil olahan Enung mencapai 100 ton. ”Lagi panen, kopi di sini banyak baget. Satu musim panen, saya bisa produksi 2 truk green been,” kata Enung, Jumat (13/1/2017).

Menggeliatnya bisnis kopi membuat para pelaku usaha kopi di Garut membubungkan harapan agar kopi asal garut bisa tersohor seperti kopi gayo dari Aceh. Namun, harapan itu masih membutuhkan upaya lebih keras agar bisa terwujud. Soalnya, proses pengolahan kopi di Garut masih tergolong tradisional.

Sarana prasarana yang dimiliki petani dan pengolah biji kopi seperti Enung belum memadai. Enung hanya mempunyai huler sederhana yang dapat menghasilkan dua kuintal green been per jam. Sementara huler yang lebih canggih bisa menghasilkan satu ton green been per jam.

Terbatasnya sarana prasarana juga dirasakan para petani. Ketua Kelompok Berkah Tani Pangauban Ajum Rahayu mengatakan, dua mesin pulper atau pemisah biji kopi dari kulit kopi yang ia miliki masih sederhana. Kerap kali, kulit kopi dan biji kopi masih tercampur sehingga harus disortir secara manual.

Tanpa sarana dan prasarana yang memadai, harapan untuk membuat kopi asal Garut menjadi tersohor di dalam dan luar negeri seperti kopi gayo masih jauh dari kenyataan. (Rani Ummi Fadila/”PR”)***

Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat Edisi Sabtu 14 Januari 2017 Halaman 8

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id