BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Pelatihan Pengembangan Agens Pengendali Hayati Cair di Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman

  Apr 13, 2017     Admin BPTP  

Salah satu masalah yang sering dihadapi pada sub sektor perkebunan, adalah adanya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Akibat adanya serangan OPT, selain berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetative tanaman dan produksi, juga dapat menurunkan nilai tambah dari produk perkebunan, bahkan sampai kepada peningkatan kesejahteraan hidup petani atau pekebun. Tidak jarang serangan OPT mengakibatkan kegagalan panen. Oleh karena itulah, diperlukan adanya tindakan pencegahan dan pengengelolaan OPT agar masalah OPT di pertanaman dapat ditekan atau diatasi. Terkait dengan hal tersebut di atas, maka konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) muncul dan berkembang sebagai sistem pengendalian populasi hama atau Organisme Pengganggu Tumbuhan  (OPT) lainnya dengan memanfaatkan semua teknologi yang dapat digunakan bersama untuk menurunkan dan mempertahankan populasi hama atau OPT lainnya sampai di bawah batas ambang toleransi.

Penerapan PHT didasarkan pada pendekatan ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, dengan tujuan mengendalikan populasi atau intensitas serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan sampai tingkat yang tidak menimbulkan kerusakan ekonomis, menjamin produksi pada taraf tinggi, menghindari residu pestisida, dan menjamin keberlanjutan produksi. Strategi operasional PHT adalah dengan mengutamakan peran lingkungan sebagai faktor pengendali alamiah dan memprioritaskan pemanfaatan dan pelestarian musuh alami.

Dengan demikian, maka Penggunaan Agens Pengendali Hayati (APH) akhir-akhir ini mulai marak dan banyak digunakan di hampir semua bidang pertanian secara luas, begitupun di bidang perkebunan. Banyak penelitian di berbagai bidang menggunakan APH, baik dari kelompok jamur maupun bakteri antagonis. Hal ini didasarkan kepada semakin sadarnya konsumen untuk mengkonsumsi produk pertanian sehat dan aman dikonsumsi serta kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Selain itu, semakin banyaknya pemanfaatan APH di dunia perkebunan muncul dari rendahnya tingkat kompetisi produk perkebunan kita di pasar bebas karena kualitasnya yang rendah terutama akibat kandungan residu bahan kimia di dalam produk perkebunan.

Akan tetapi, meskipun APH sering digunakan di dalam mengatasi masalah OPT perkebunan, masih banyak OPT perkebunan yang belum dapat diatasi dengan pemanfaatan APH secara konvensional. Misalnya, masalah penggerek batang, penggerek cabang atau ranting, penggerek buah, penyakit layu pembuluh, dan penyakit mati pucuk tanaman perkebunan. Hal ini dikarenakan OPT perkebunan tersebut berada di dalam jaringan tanaman dan bahkan keberadaannya di dalam jaringan tanaman tidak terdeteksi karena mempunyai jalur pergerakan yang khas.

Berdasarkan kondisi tersebut, perlu inovasi baru di dalam pemanfaatan APH, khususnya di dalam mengatasi OPT perkebunan yang sampai sekarang belum dapat dikendalikan. APH mempunyai tingkat kemempanan yang tinggi atau rendah di dalam mengendalikan OPT dilapangan. Banyak hasil penelitian pemanfaatan APH untuk mengendalikan OPT,  tidak terkecuali OPT perkebunan, yang menunjukkan hasil positif; artinya ,dapat menekan tingkat serangan OPT di lapangan, meskipun diaplikasikan dengan cara konvensional. Keberhasilan APH tersebut sangat tergantung dan ditentukan dengan seberapa banyak jumlah dan jenis metabolit sekunder yang dihasilkan. Peran metabolit sekunder APH dapat secara tunggal, artinya hanya satu jenis metabolit sekunder saja yang berguna. Akan tetapi, umumnya metabolit sekunder APH berperan ganda, baik secara aditif maupun sinergis. Hal ini sering nampak pada hasil aplikasi APH, selain dapat mengatasi atau mengendalikan OPT juga dapat berpengaruh kepada tanamannya, khususnya terhadap pertumbuhan tanaman.

Pengendalian dengan cara hayati memiliki kekurangan yaitu hanya berjalan di tempat, keuntungannya aman, bersifat non residu, merupakan salah satu komponen PHT, dan banyak ditemukan di alam. Namun tidak hanya itu pengendalian hayati memiliki banyak kekurangan yaitu bersifat spesifik lokal, terkendali geologi dan suhu, tidak dapat menembus ke dalam jaringan tanaman, dan lain-lain. Solusi dari permasalahan tersebut salah satunya adalah menggunakan Metabolit Sekunder Agens Pengendali Hayati. Kelebihan Metabolit Sekunder : Mampu diserap oleh akar tanaman, Pelindung tanaman di masa dewasa, Praktis penyiapan, aplikasi, penyimpanan, dan pengemasan dan Tidak terkendala lingkungan, hal yang terpenting adalah dapat dijadikan sebagai Peluang usaha.

Terkait dengan hal tersebut di atas, maka dalam rangka memperoleh inovasi teknologi baru Agens Pengendali Hayati (APH) dalam mengatasi Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tersebut, yaitu dengan penggunakan metabolit sekunder APH, maka perlu diadakannya kegiatan pelatihan yang dirancang untuk mengembangkan sumber daya manusia melalui rangkaian kegiatan identifikasi, pengkajian serta proses belajar yang terencana mengenai pengembangan inovasi teknologi baru Metabolit Sekunder Agens Pengendali Hayati (APH).

Hal ini dilakukan melalui upaya dalam rangka membantu pengembangan kemampuan, keterampilan dan wawasan berpikir pegawai UPTD Balai Proteksi Tanaman Perkebunan dengan harapan agar dapat melaksanakan tugas, baik sekarang maupun di masa yang akan datang karena melalui kegiatan pelatihan dapat dijadikan sebagai sarana yang berfungsi untuk mengoptimalkan kinerja pada UPTD Balai Proteksi Tanaman Perkebunan, seperti efektivitas, efesiensi dan produktivitas kinerja.

 

Tujuan Pelatihan.

  1. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan berpikir petugas dibidang perlindungan tanaman,
  2. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan petugas dalam menerapkan dan mengimplementasikan inovasi baru dibidang pengembangan metabolit sekunder Agens Pengendali Hayati (APH),
  3. Meningkatkan produktivitas kinerja Pegawai UPTD Balai Proteksi Tanaman Perkebunan di dalam memproduksi metabolit sekunder Agens Pengendali Hayati (APH),
  4. Menciptakan inovasi teknologi baru metabolit sekunder Agens Pengendali Hayati (APH) dalam mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dalam rangka wujudkan tanaman perkebunan yang sehat guna memperoleh hasil produk yang aman dikonsumsi,
  5. Berkembangnya usaha tani yang berorientasi agribisnis berbasis komoditas perkebunan.

 

Penulis : Mochammad Sopian Ansori

Editor : Dede Wahyu

Fotograper : Tim Dokumentasi BPTP

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id