BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Evaluasi Pengamatan OPT Tembakau Setelah Aplikasi Metabolit Sekunder Trichoderma spp. dan Pestisida Nabati Biji Nimba

  Apr 26, 2017     Admin BPTP  

 Soreang, 25 April 2017

 

Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Provinsi Jawa Barat kembali mengadakan kegiatan lanjutan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tembakau menggunakan teknologi terbaru. Kegiatan ini sebelumnya telah dilaksanakan pada hari Selasa, 18 April 2017, di Desa Sukanagara, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Diawali dengan pengamatan terhadap OPT utama tanaman tembakau seperti bercak daun, kutu daun, dan ulat (grayak, daun, jengkal, tanah, dsb). Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi Metabolit Sekunder (Metsek) Trichoderma spp. dan Pestisida Nabati dengan bahan aktif yang berasal dari biji Nimba (Papatina) yang telah disemprotkan pada satu minggu sebelumnya. Kegiatan ini melibatkan sebanyak 20 orang petani dari Kelompok Tani Giri Mukti, dimana masing-masing petani memiliki satuan petak lahan pengamatan dan percobaan dari dua jenis teknologi tersebut.

Berdasarkan hasil pengamatan dan kesimpulan para petani menunjukkan bahwa, aplikasi metabolit sekunder Trichoderma spp. dan pestisida nabati biji nimba memiliki pengaruh yang cukup baik terhadap performa tanaman tembakau. Menurut salah satu anggota kelompok tani Giri Mukti, Bapak Warman, setelah diaplikasikannya metabolit sekunder Trichoderma spp., daun tanaman tembakau berwarna hijau terang dan lebih tebal dibandingkan dengan tanaman tembakau tanpa aplikasi teknologi.

Pengamatan juga dilakukan pada 5 plot tanaman tembakau yang diaplikasikan pestisida nabati biji nimba. Lima kelompok petani yang menggunakan pestisida nabati biji nimba sepakat bahwa, aplikasi pestisida nabati ini mampu menekan hama penyakit, serta meningkatkan pertumbuhan tanaman tembakau menjadi lebih baik. Hal ini dibuktikan dalam jangka satu minggu, aplikasi pestisida nabati biji nimba mampu menekan hama ulat pada tanaman tembakau. Meskipun yang terjadi di lapangan, ditemukan teknik budidaya Multiple Cropping (tumpangsari) yang masih dalam satu famili.

Dari segi hama penyakit, belum ditemukan adanya OPT berupa kutu daun dan bercak daun. Sementara pada beberapa sampel tanaman dalam setiap plot pengamatan, ditemukan adanya gejala berlubang oleh hama ulat. Ulat tersebut diduga merupakan hama yang berasal dari tanaman tomat, kacang panjang, mentimun, paria, terung, dan buncis yang juga menyerang tanaman tembakau rata-rata masih berusia 3 Minggu Setelah Tanam (MST). Keempat jenis tanaman hortikultura tersebut telah ditanam 3-4 bulan lebih dulu sebelum tanaman tembakau.

Para petani tembakau anggota Kelompok Tani Giri Mukti sejauh ini merasakan dampak baik yang cukup signifikan dari kegiatan pengendalian OPT tembakau. Mereka optimis bahwa kedua jenis teknologi berbasis Pengendalian Hama terpadu (PHT) ini mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tembakau ke depannya. Tentu aplikasi metabolit sekunder Trichoderma spp. dan pestisida nabati biji nimba tidak dapat disimpulkan hanya melalui dua kali aplikasi dan dua kali pengamatan saja. Terlebih lagi pada umur tanaman yang belum mencapai 1 bulan. Maka, akumulasi dari kegiatan pengamatan di minggu ke-1 sampai ke-5 yang akan menunjukkan bagaimana pengaruh dari aplikasi kedua teknologi ramah lingkungan tersebut.

 

Penulis : Hilda Sandra Utami, SP.

Editor : MS. Ansori, SP., MP.

Dokumentasi : Tim Dokumentasi BPTP

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id