BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Manfaatkan Limbah Organik Bahan Baku Biopestisida yang Ampuh Bagi Tanaman Perkebunan

  Apr 28, 2017     Admin BPTP  

Bandung, (PR).- Sejumlah jenis limbah organik kini sangat bermanfaat mendukung kesehatan, produksi, dan kualitas sejumlah komoditas perkebunan, pertanian, serta perikanan secara ranah lingkungan.

Pemanfaatan sejumlah limbah organik tersebut dilakukan melalui produksi dan penggunaan biopestisida cair untuk mengantisipasi dan menyembuhkan penyakit dan pengendalian hama tanaman tahunan dan ikan dengan pola zero waste.

Gambaran tersebut muncul dari praktik penyemprotan biopestisida produksi mandiri yang dilakukan personel Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, di Pasirjati, Bandung, Rabu (26/4/2017). Penyemprotan bersifat antisipatif dan kuratif terhadap tanaman kopi arabika, cengkih, dan kakao agar tak terkena penyakit maupun penyembuhan sejumlah tanaman yang sengaja dijadikan kontrol serangan hama dan penyakit.

Disebutkan personel BPTP, Mochamad Sopian Anshori, pemanfaatan sejumlah limbah organik untuk dibuat biopestisida, untuk dari bahan sisa-sisa tanaman misalnya dari air cucian beras, air kelapa, dll., di samping bahan starter dari media jagung. Ada juga berbahan limbah hewan seperti ceker dan tungir ayam, keong racun (bekicot), bahkan bangkai tikus.

Ditunjukan, biopestisida yang dibuat dari bahan-bahan limbah organik dimaksud, untuk yang berasal dari sisa tanaman ternyata ampuh untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit tanaman bahkan meningkatkan kualitas komoditas perkebunan seperti pada tanaman kopi, tembakau, teh, dan kakao, termasuk tanaman hortikultura seperti cabai. Begitu pula yang berbahan baku limbah hewan, selain mengantisipasi dan menyembuhkan sejumlah penyakit dan hama, juga terbukti ampuh untuk menyembuhkan penyakit jamur pada ikan air tawar seperti ikan emas dan ikan nila seperti aplikasi yang sudah dilakukan di Tasikmalaya.

Dalam praktiknya, menurut Sopian Anshori, bahan-bahan limbah organik dari bahan sisa-sisa tanaman sebagai bahan jamur antagonis seperti trichoderma. Sementara itu, dari limbah sisa-sisa hewan, sebagai bahan sumber bakteri antagonis yang diambil dari keringat atau kaldunya dengan cara direbus.

Untuk bahan-bahan campuran sebagai formulanya, dikatakan Sopian Anshori, juga tergolong mudah dicari di sekeliling. Misalnya, tumbuhan liar putri malu yang karakternya perdu diambil perakarannya, akar bambu, gula putih, terasi, dll.

“Soal aplikasinya, dapat melalui cara injeksi kepada tanaman maupun penyemprotan. Perlakuannya tergantung kondisi, untuk injeksi bisa sebulan sekali, sedangkan penyemprotan sekali sepekan rata-rata maksimal tujuh kali,” kata Sopian Anshori.

Membersihkan lingkungan

Kepala BPTP Pasirjati, Dede Wahyu mengatakan, dengan adanya manfaat dari sejumlah limbah organik tersebut, bisa memunculkan pemanfaatan lebih luas bagi penanganan tanaman tahunan, terutama komoditas perkebunan di Jawa Barat secara ikon produk-produk ramah lingkungan. Begitu pula bagi para petani dan masyarakat, akan mampu menekan jumlah limbah organik yang terbuang percuma karena bisa dimanfaatkan bersifat zero waste.

Dikatakan,biopestisida dalam bentuk cair ini ternyata lebih efektif, efisien, dan lebih mudah aplikasinya dibandingkan bentuk padat. pembuatannya dapat dilakukan secara mudah oleh para petani pekebun atau masyarakat, bisa menjadi peluang usaha baru bisnis biopestisida alias pestisida organik secara kelompok.

“Jika sudah berkembang dan meluas penggunaan dan pemanfaatannya, tentu produksinya secara mandiri oleh para petani pekebun atau masyarakat menjadi meningkat. Manfaatnya, lingkungan masyarakat atau para pedagang pun menjadi lebih bersih dari limbah organik, bahkan para petani, misalnya pada tanaman padi tak lagi kebingungan membuang bangkai tikus,” ujar Dede Wahyu.

Produksi biopestisida yang dilakukan BPTP Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat tersebut merupakan hasil dipelajari di Universitas Jendral Soedirman (UNSOED) Purwokerto di bawah bimbingan Loekas Soesanto selaku pencipta biopestisida dimaksud. Dari BPTP Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat yang mempelajarinya 12 orang dan kini sudah diproduksi, dikembangkan, dan diuji coba pada sejumlah tanaman perkebunan. (Kodar Solihat)

Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat edisi Jumat 28 April 2017 hal. 18

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id