BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Teh Hitam Indonesia Harus Kuat Menghadapi Persaingan Ekspor

  Jul 13, 2017     Admin BPTP  

Bandung, (PR).-

Kalangan produsen teh hitam indonesia kembali memperoleh sandungan pasar dari Eropa dengan munculnya tambahan persyaratan keamanan pangan dari pihak tertentu di benua tersebut. Setelah sebelumnya didera isu kandungan antrakuinon yang diatas ambang batas, kali ini produk teh hitam terhadang urusan kandungan folpet.

Salah seorang peneliti dari Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Dadan Rohdiana, di Bandung, Senin (3/7/2017), mengatakan, walau sejauh ini pasar Eropa masih lebih rendah dibandingkan dengan pasar Asia, bisnis produksi teh hitam asal indonesia harus sanggup membuktikan sebenarnya sangat aman dan layak konsumsi. Isu soal kandungan folpet menyusul sebelumnya antrakuinon yang dimunculkan lembaga swadaya urusan pangan di Eropa sebagai persyaratan yang diterapkan semakin ketat untuk produk-produk pangan, termasuk teh.

Menurut dia, bertambahnya hadangan menuju pasar Eropa tersebut lebih banyak dialami unit-unit perkebunan besar karena kebanyakan memproduksi teh hitam. Apalagi, saat ini di dunia diketahui sedang terjadi oversuplai produksi teh hitam yang diwaspadai ada pihak yang ingin menjatuhkan harga teh hitam asal Indonesia.

Disebutkan, folpet gambarannya adalah semacam senyawa kimia yang menutupi lapisan daun, termasuk pada daun tanaman teh. Biasanya, kandungan folpet yang tinggi disebabkan perawatan tanaman banyak menggunakan fungisida berbahan kimia.

Padahal, katanya, secara umum unit-unit perkebunan besar di Indonesia, Jawa Barat merupakan produsen utama teh nasional, sudah lama biasa menggunakan bahan-bahan kimia. Namun, baru belakangan ini, pihak di Eropa mempersoalkannya.

“Sandungan ini sebenarnya merupakan peluang bagi para pihak berkepentingan atas produksi dan bisnis teh Indonesia agar sanggup membuktikan bahwa perlakuan tanaman teh di negara ini sebenarnya sangat aman. Kalaupun memang terbukti menggunakan bahan-bahan kimia tertentu, harus dapat dibuktikan dan diumumkan kepada publik bahwa sebenarnya aman konsumsi,” kata Dadan Rohdiana.

Metode

Yang menjadi persoalan, disebutkan, adalah metode yang selama ini digunakan di Indonesia, apakah diakui atau tidak di Eropa. Yang pasti, persoalan antarakuinon maupun folpet akan dibahas oleh Dewan Teh Indonesia di Eropa, Agustus 2017 mendatang.

Dadan Rohdiana juga membandingkan dengan produk-produk teh asal Vietnam yang diketahui kandungan kimianya lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Ironisnya, produk-produk teh asal Vietnam banyak masuk ke Indonesia tanpa diketahui konsumen dicampurkan kepada produk-produk industri teh mana saja.

Walau demikian, disebutkan, ditengah isu yang mendera bisnis teh hitam untuk berbagai unit perkebunan besar di Indonesia ini, tak demikian halnya untuk usaha teh rakyat. Soalnya, usaha teh rakyat umumnya untuk memproduksi teh hijau, di mana produksi dan persaingan dunia tak setinggi teh hitam.

Sementara itu, Kepala Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Dede Wahyu mengatakan, secara aspek keamanan pangan, usaha teh rakyat terus ditingkatkan aspek kepercayaan pasar.

Disebutkan pola pengelolaan tanaman secara ramah lingkungan dan terus didorong kepada bahan-bahan organik. Diantaranya terus disosialisasikan melalui sekolah lapangan pengendalian hama terpadu pada berbagai sentra kebun teh rakyat. (Kodar Solihat)

Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat edisi Selasa 4 Juli 2017 hal. 18

Dokumentasi oleh : Anindita Arsita Putri & Hilda Sandra Utami

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id