BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Aplikasi Biopestisida Cair pada Tanaman Tembakau Berdampak Positif Terhadap Penekanan Serangan OPT dan Morfologi Tanaman

  Aug 14, 2017     Admin BPTP  

Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Provinsi Jawa Barat giat mengawal kesuksesan pelaksanaan pembangunan perkebunan di Jawa Barat. Upaya ini seiring dengan tugas, pokok, dan fungsi yang dijalankan oleh BPTP salah satunya yaitu melaksanakan kegiatan perlindungan tanaman perkebunan. Perlindungan tanaman perkebunan diwujudkan dalam bentuk kegiatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yang bertujuan untuk meningkatkan potensi perkebunan secara berkelanjutan dan aman dikonsumsi masyarakat. Dewasa ini sudah banyak dikenal masyarakat mengenai pengembangan teknologi PHT, salah satunya adalah pengendalian hayati yang ramah lingkungan. Pengendalian hayati merupakan pengendalian yang efektif, efisien, dan ekonomis terutama untuk diterapkan di lingkungan petani. Balai Proteksi Tanaman Perkebunan saat ini sedang mengembangkan potensi Biopestisida cair yang merupakan salah satu inovasi dari konsep PHT.

Biopestisida cair yang dikembangkan di BPTP di antaranya yang berasal dari mikroorganisme Trichoderma spp., Paecilomyces sp., Beauveria bassiana, Pseudomonas fluorescens, dan Spicaria sp; dan berasal dari bahan baku tanaman yaitu biji nimba. Balai Proteksi Tanaman Perkebunan menamai inovasi tersebut Bang Ali atau Pengembangan Agensia Pengendali Hayati Cair dan Papa Tina atau Pengolahan Pestisida Nabati Biji Nimba. Pada kesempatan kali ini, biopestisida cair berupa metabolit sekunder jamur antagonis Trichoderma spp. dan Papa Tina diaplikasikan untuk mengendalikan OPT tanaman tembakau bersama dengan Kelompok Tani Makmur Tani Cidadali di Desa Tanjungkarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kedua jenis biopestisida cair tersebut diaplikasikan sebanyak empat kali pada pagi atau sore hari, dengan interval waktu aplikasi selama tujuh hari dengan dosis 10ml/l. Kegiatan ini diawali dengan pengamatan awal sebelum aplikasi, aplikasi perlakuan metabolit sekunder Trichoderma spp. pada satu blok tanaman, dan aplikasi perlakuan pestisida nabati ekstrak biji nimba pada blok tanaman lainnya.

Para petani tembakau di Desa Tanjungkarya sebelumnya hanya menggunakan pupuk kompos sebagai upaya pemeliharaan dan peningkatan pertumbuhan tanaman tembakau. Menurut para petani tembakau Kelompok Tani Makmur Tani Cidadali, daun tembakau seringkali terserang oleh hama ulat grayak (Spodoptera litura), hama ulat jengkal (Argyrogramma signata), hama bereng/kutu daun, hama belalang (Valanga nigricornis), dan penyakit bercak daun (Cercospora nicotianae), dan Tobacco Mosaic Virus (TMV). Serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) tersebut yang menyebabkan rendahnya kualitas, kuantitas, dan harga jual dari daun tembakau. Sebelum teknologi inovasi ini sampai ke tangan petani, mereka sangat kesulitan untuk mengatasi OPT tanaman tembakau. Gejala yang biasa muncul di antaranya terdapat bercak-bercak coklat yang meluas di permukaan daun, daun berlubang akibat gigitan hama ulat, permukaan daun berwarna hijau kekuningan, daun mengkerut/keriting karena virus, ukuran daun yang sempit, permukaan daun berwarna hijau kusam, bahkan layu. Hal ini diduga karena tidak seimbangnya asupan hara dan nutrisi, serta teknik pengendalian OPT yang kurang efektif.

Pada tanaman tembakau yang diberikan perlakuan biopestisida cair metabolit sekunder Trichoderma spp. didapat nilai rata-rata persentase serangan OPT sebagai berikut: pada minggu ke-1 persentase serangan hama ulat sebesar 21%, minggu ke-2 sebesar 16%, minggu ke-3 sebesar 13%, dan pada minggu ke-4 persentase serangan menurun menjadi 11%. Kemudian rata-rata persentase intensitas serangan penyakit bercak daun minggu ke-1 yaitu 8%, minggu ke-2 menjadi 7%, minggu ke-3 dan ke-4 menjadi 3%.Sementara pada tanaman tembakau yang diberi perlakuan Papa Tina ditemukan hasil pengamatan dengan nilai rata-rata persentase serangan OPT yaitu: persentase serangan hama ulat minggu ke-1 37%, minggu ke-2 menjadi 29%, minggu ke-3 menjadi 23%, dan minggu ke-4 menjadi 20%. Selanjutnya intensitas serangan penyakit bercak daun pada minggu ke-1 yaitu 6%, minggu ke-2 hingga minggu ke-4 menurun menjadi 3%.

Setelah diaplikasikannya metabolit sekunder Trichoderma spp. dan pestisida nabati biji nimba dapat dirasakan oleh petani, bahwa gejala serangan-serangan OPT semakin berkurang setiap minggunya. Selain itu, perubahan morfologi dari pertumbuhan tanaman seperti warna daun lebih hijau, permukaan daun lengket, daun lebih tebal menjadi lebih baik. Kriteria-kriteria tersebut yang menjadi standar akan kualitas dan tingginya nilai jual tembakau di pasaran. Hal ini membuktikan bahwa aplikasi biopestisida cair metabolit sekunder Trichoderma spp. dan Papa Tina dapat menekan OPT yang terdapat pada tanaman tembakau di Desa Tanjungkarya, meningkatkan pertumbuhan tanaman, meningkatkan hasil produksi, dan ramah lingkungan.

Penulis : Hilda Sandra Utami, SP.

Editor : MS. Ansori, SP., M.P.

Foto : Tim Dokumentasi BPTP

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id