BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Pelaksanaan Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Serangan Hama Ulat Artona catoxantha Pada Tanaman Kelapa di Kabupaten Pangandaran

  Dec 20, 2017     Admin BPTP  

Oleh : Dede Wahyu, SP.MP.

 Kabupaten Pangandaran merupakan Daerah Otonom Baru yang merupakan pemisahan dari Kabupaten Ciamis, Tanaman kelapa di Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu dari lima sentra produksi kelapa di Jawa Barat, dengan total areal tanaman kelapa berdasarkan data statistik perkebunan provinsi Jawa Barat Tahun 2016, seluas 25,354 ha,mProduktivitas kelapa masih rendah, yaitu sebesar 708 kg/ha/tahun. Idialnya rata-rata produktivitas kelapa berdasarkan hasil penelitian dari Balai Penelitian Kelapa dan Palm Menado dengan menggunakan jenis varietas unggul produktivitas kelapa berkisar antara 2,8 – 3,3 ton kopra/ha/tahun.

Beberapa faktor yang menjadi penyebab rendahnya produktivitas dan kualitas perkebunan kelapa di Kabupaten Pangandaran, diantaranya adalah:

  • Potensi daya hasil bahan tanaman yang digunakan masih rendah,
  • Kualitas kopra masih tergolong rendah,
  • Petani pada umumnya kurang memahami penerapan aspek teknologi budidaya dan pengolahan hasil tanaman kelapa secara baik dan benar.
  • Adanya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). OPT – OPT ini merupakan salah satu kendala utama yang sangat penting, sehingga perlu dilakukan tindakan pengendalian guna mencapai produktivitas tanaman perkebunan yang optimal.
  • Sejalan dengan perubahan iklim dan perubahan agroekosistem disekitar kebun dan jenis (klon) tanaman yang dikembangkan, kemungkinan telah terjadi perubahan OPT penting yang menyerang tanaman perkebunan, sehingga perlu dilakukan pemantauan secara rutin.

Hama Artona catoxantha merupakan salah satu Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) utama pada tanaman kelapa, hama ini memiliki siklus hidup antara telur sampai menjadi kupu-kupu berlangsung selama 29 – 37 hari dengan metamorfosis sempurna telur-larva-kepompong-ngengat, yaitu :

  • Stadia Telur.

Stadia telur berlangsung selama 3 – 4 hari, telur ulat Artona berbentuk lonjong (bulat panjang), berwarna putih bening atau hijau kekuningan bening dan memiliki ukuran panjang sekitar 0,5 mm – 1 mm.

  • Stadia Larva.

Stadia larva berlangsung selama 17 – 22  hari, warna larva putih kekuningan, jernih dan berukuran 11 – 12 mm. Pada bagian punggung terdapat garis yang lebar dan memanjang berwarna hitam ungu, disebelah garis tebal terdapat garis kecil. Larva memiliki kepala yang berwarna kuning kemerahan, tubuh larva bagian depan berukuran lebih besar daripada tubuh bagian belakang.

  • Stadia Kepompong.

Stadia kepompong berlangsung antara 10 – 12 hari, kepompong yang masih muda berwarna kekuning-kuningan, sedangkan kepompong yang sudah tua berwarna merah sauh karena tertutup oleh lapisan kulit kokon. Kepompong memiliki ukuran panjang berkisar antara 12 – 14 mm dan lebar 6 – 7 mm.

  • Stadia Ngengat (Kupu-kupu).

Kupu-kupu Artona berukuran panjang antara 10 – 15 mm dengan jarak antar sayap 13 – 16 mm, berwarna hitam merah kecoklatan, dan pada kuduk, tubuh bagian bawah serta pinggir sayap depan terdapat sisik-sisik kuning. Sepanjang siang hari, kupu-kupu Artona diam dan berdiri pada kedua kakinya, berjajar sampai berpuluh-puluh ekor pada anak-anak daun kelapa yang menggantung. Aktif pada pagi dan petang hari, baik kupukupu jantan maupun betina beterbangan mengitari pohon-pohon kelapa untuk kawin. Biasanya kupu-kupu betina mulai meletakkan telurnya pada anak daun di bagian bawah, berkelompok sebanyak 3 – 12 butir.

Gejala serangan larva Artona catoxantha biasanya merusak daun kelapa tua, sedangkan larva yang baru menetas akan merusak daun dari permukaan bawah, sehingga timbul bintik-bintik luka. Larva melukai daun hanya sampai batas lapisan epidermis atas, sehingga lapisan yang ditinggalkan mudah kering dan selanjutnya dengan ge5 jala berbentuk garis yang semakin lama semakin luas. Serangan yang berat menyebabkan helaian daun habis, bahkan dalam keadaan tertentu tinggal lidinya saja.

Kondisi iklim disekitar areal serangan hama Artona catoxantha agak lembab, sehingga perkembangan populasi hama Artona catoxantha akan lebih cepat berkembang.

Serangan hama Artona catoxantha terjadi di kelompok tani Minasih Jaya II Kampung Kalijati Desa Kalijati Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran., dengan jumlah anggota, sebanyak 50 orang.

Awal terjadinya serangan hama Artona catoxantha pada tanaman kelapa di Kampung Kalijati, adalah pada bulan Oktober 2017.

Luas areal tanaman kelapa yang terserang hama Artona catoxantha sampai dengan bulan November 2017 (hasil Identifikasi/pengamatan yang dilaksanakan oleh petugas BPTP, adalah seluas ± 0,20 ha atau sebanyak 20 pohon.

Intensitas serangan hama Artona catoxantha pada tanaman kelapa di lokasi terserang sudah termasuk kategori serangan berat, yaitu telah diketemukan lebih dari 5 stadia hama per pelepah pohon kelapa. Stadia yang paling dominan diketemukan adalah stadia kepompong.

Permasalahan.

  • Pada umumnya petani kelapa di Kampung Kalijati Desa Kalijati Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran belum menerapkan aspek teknologi budidaya tanaman kelapa secara baik dan benar,
  • Pemeliharaan tanaman kurang optimal,
  • Kondisi kebun kurang terpelihara
  • Penerapan teknologi Pengendalian Hama Terpadu pada OPT tanaman kelapa belum optimal

Upaya Pemecahan Masalah.

Upaya – upaya yang telah dilaksanakan oleh Balai Proteksi Tanaman Perkebunan dalam rangka mencegah meluasnya serangan hama Artona catoxantha, antara lain :

  • Melaksanakan pengamatan halus mulai dari titik serangan ke 4 arah penjuru angin dan dilaksanakan sampai pada titik tanaman kelapa yang tidak terserang hama Artona catoxantha, ± sampai radius 300 meter,
  • Bimbingan teknis kepada kelompok tani Minasih Jaya II, terkait dengan teknis pengamatan dan teknis penerapan teknologi Pengendalian Hama Terpadu,
  • Pengendalian preventif dilaksanakan dengan cara mekanis, yaitu melakukan pemangkasan semua daun kelapa dengan hanya meninggalkan 3 – 4 lembar daun muda, baik pada tanaman kelapa yang belum terserang maupun pada tanaman kelapa yang terserang hama Artona catoxantha dengan Intensitas serangan ringan,
  • Cara ini dilakukan jika pada 50 – 100 sampel pohon ditemukan bahwa dua pelepah dalam pohon kelapa terdapat larva hama Artona catoxantha dari 4 stadium. Pemangkasan dilakukan setelah larva Artona mencapai panjang 8 mm untuk memberi kesempatan kepada parasit untuk berkembang biak terlebih dahulu. Larva Artona akan menjadi kupu-kupu dalam waktu 2 minggu sehingga pemangkasan harus sudah selesai dalam jangka waktu tersebut.
  • Pengendalian secara biologis / hayati yaitu dengan menggunakan musuh alami seperti Apanteles artonae biasanya sudah tersedia di alam. Sedangkan penggunaan agens pengendali hayati, jenis jamur yang digunakan adalah APH cair jenis Beauveria bassiana akan dilaksanakan dengan cara infus akar/infus batang dengan dosis 10 – 20 cc per pohon.

Tindaklanjuti.

Hal-hal yang perlu ditindaklanjuti, antara lain :

  • Dalam rangka mencegah meluasnya serangan hama Artona catoxantha pada tanaman kelapa di Kabupaten Pangandaran, maka perlu kiranya segera dilaksanakan kegiatan pengendalian secara menyeluruh,
  • Perlu dibentuk petani pengamat dan regu proteksi tanaman,
  • Untuk mencegah meluasnya serangan hama Artona catoxantha, maka perlu dilaksanakannya kegiatan pemantauan/pengamatan yang dilaksanakan secara kontinyu dan berkesinambungan serta dilaksanakan oleh petani bersama-sama dengan regu proteksi di bawah bimbingan petugas lapangan,

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id