BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Bang Ali, Temuan Baru Pengendali Hama

  Aug 30, 2018     Admin BPTP  

Dalam Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) 2018 yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Biro Organisasi, UPTD Balai Perlindungan Perkebunan  Provinsi Jawa Barat memunculkan inovasi baru dalam dunia perkebunan di Indonesia. Jika selama ini hama dan penyakit pengganggu tanaman sulit dikendalikan, Bang Ali kini menjadi solusi terbaik dan unik. SOPIAN tampak antusias menjelaskan proses pembuatan agensia pengendali hayati media cair di laboratorium milik balai. Tiga karyawannya ikut membantu. Tangannya memegang botol hasil olahan yang sudah jadi. Di sana juga terdapat beberapa bahan sebagai media pembuatannya. Jamur APH pada media jagung dan media menir beras. Serta alat inkubasi dan paling utama shaker, alat pengocok.

 

Awalnya, ide pembuatan cairan pengendali OPT ini muncul sangat sederhana. Atas keprihatinan Kepala UPTD BPP Dede Wahyu dan Kepala Seksi Sarana Teknologi PHT Mochamad Sopian Ansori terhadap kesulitan yang di hadapi petani dalam produksi APH media padat. Masalah utamanya, petani kebun membuatnya dengan media padat, yang dinilai mempunyai banyak kelemahan.

Pertama, petani mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) masih mengandalkan pestisida kimia yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan. Kedua, sarana pengendalian masih mengandalkan Agensia Pengendali Hayati (APH) yang dikembangkan pada media padat berupa beras atau jagung, dan pestisida Nabati yang tidak dapat disimpan dalam waktu lama.

”Pembuatan atau pengembangan APH dan pestisida nabati masih dilakukan secara konvensional. Sehingga kualitas dan kuantitasnya tidak dapat tahan lama. Paling lama kedaluarsanya seminggu,” kata Sopian.

 

Berdasarkan data statistik perkebunan tahun 2015, luas perkebunan rakyat di Provinsi Jawa Barat mencapai 364.685 Ha. Sedangkan menurut data serangan hama dan penyakit tahun 2016 mencapai 33.286,98 Ha. Dengan perkiraan taksasi kerugian yang menimpa petani dan kelompok tani mencapai Rp 1,8 miliar.

Melihat data itu, Dewa dan Sopian mulai berpikir keras. Mencari solusinya. Belajarlah ke beberapa  perguruan tinggi hingga bertemulah dengan Profesor Loekas Soesanto di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Dua tahun belajar, pada tahun 2017 barulah menemukan hasil. UPTD Balai Perlindungan Tanaman Perkebunan telah menghasilkan produk olahan APH media cair siap pakai di lapangan.

 

Dengan adanya temuan tersebut, memutus proses produksi APH media padat yang dirasakan kurang aplikatif. ”Model pelayanan ini sebagai salah satu jawaban atas alternatif teknologi perlindungan tanaman yang ramah lingkungan dan melalui pendekatan praktis siap pak ai dan mudah diduplikasi di tingkat petani,” tutur Sopian.

Konsep model solusi ini disebut Bang Ali. Yang merupakan akronim dari Pengembangan Agensia Pengendali Hayati. Inovasi ini termasuk kategori kriteria Inovasi Pelayanan Publik 2018 nomor 1. Yaitu tata kelola penyelenggaraan pelayanan publik yang efektif, efisien, dan berkinerja tinggi.

 

Menurut Sopian, penggunaan inovasi Bang Ali terhadap tanaman perkebunan untuk menurunkan serangan hama dan penyakit cukup siginifikan. Menurunnya serangan hama tentu berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas hasil produksi perkebunan.

”Jika serangan hama dan penyakit menurun, maka kualitas panen komoditi perkebunan akan baik. Selain itu kuantitas produksi atau hasil panen akan meningkat. Sebab, tidak adanya kerusakan akibat serangan hama maupun penyakit,” tegasnya.

”Inti dari konsep ini adalah memberikan pelayanan sarana pengendalian OPT yang praktis, efisien,siap pakai, tahan lama dan ramah lingkungan dengan jaminan mutu APH media cair,” tambahnya.

 

Sopian lantas menceritakan cara membuat APH media cair tersebut. Resepnya, siapkan wadah atau panci untuk menampung 4 liter air cucian beras dan 1 liter air kelapa. Air tersebut digodok sampai mendidih. Kemudian masukan ke jerigen ukuran 5 liter, sambil ditambahkan 5 sendok makan gula putih, kemudian didinginkan.

Berikutnya, Jamur APH pada media beras menir atau jagung di larutan dalam aquadest dan disaring, hasil saringannya dimasukkan kedalam jerigen yang sudah dingin tadi untuk kemudian dikocok menggunakan mesin shaker selama 7 x 24 jam.

”Setelah larutan dalam jarigen dingin, dimasukkan lah cairan dari APH media padat yang sudah diencerkan, kemudian supaya Metabolit Sekunder dari jamur APH tersebut keluar, maka jarigen digoyang menggunakan alat shaker selama 7 x 24 jam. Karena kita sudah tidak butuh lagi jamurnya (media padat, Red). Jamur yang sudah disatukan dengan olahan cairan itu “disiksa” dengan cara di-shaker menggunakan alat shaker. Sehingga jamur mengeluarkan Metabolit sekunder dalam tubuhnya. Jika diteliti, racunnya ada, enzimnya ada, hormonnya juga ada,” paparnya.

 

”Sehingga dalam waktu tujuh hari tujuh malam, kita sudah punya ’keringatnya’ (cairan, Red) si jamur. Sebab kita sudah tidak lagi butuh ’tubuhnya’ (jamurnya, Red). Jika dihirup, bau airnya seperti bau tape,” papar Sopian. Kemudian, keringat atau air itu dimasukkan ke dalam botol kemasan siap pakai.

Proses shaker ini, ungkap dia, dalam kondisi stres, jamur mengeluarkan cairan mengandung racun bagi hama dan penyakit. Terdapat juga enzim untuk mengantisipasi serangan virus tanaman. Sedangkan alat shaker ini dibeli langsung dari bengkel di Universitas Jenderal Soedirman.

Penelitian tersebut rupanya membuat kaget Dede dan Sopian. Sebab, dari testimoni yang disampaikan para petani, cairan pembasmi hama dan penyakit tersebut bukan saja mampu mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Melainkan mampu mempercepat pembungaan dan pembuahan.

”Ini yang tidak kita duga dan sangka. Ternyata ada kelebihan lain selain mengendalikan hama. Kita sebut ini bonus penelitian. Sebab tujuannya untuk mengendalikan hama. Tapi jadi bisa juga untuk mempercepat pembuahan. Dan masa kedaluarsanya produk ini setahun. Berbeda dengan media padat yang lamanya seminggu,” katanya heran sekaligus bangga.

Dia sempat membuktikannya kepada tanaman kopi di halaman kantor. Hasilnya, tanaman yang disemprot lebih cepat berbunga dibandingkan yang tidak. Apabila tanaman dipangkas dahannya, akan cepat tumbuh lagi batangnya. Dia juga kerap menerima testimoni dari para petani yang sudah menjajal produk ini.

”Pada prinsipnya pengendali hama. Namun mampu juga merangsang buah dan bunga. Petani yang memakai produk ini merasa aneh tapi hasilnya memuaskan. Produktivitas tinggi, dijual untung,” ucapnya.

Yang paling terpenting lagi, Sopian menegaskan, inovasi ini bisa dan mudah diduplikasi oleh petani. Tidak harus membeli alat shaker untuk mengocok bahan olahan. Cukup manual saja. Menggodoknya bisa di kompor.

Sedangkan untuk mengocoknya, apabila air yang di jerigen sudah dingin, tinggal dikocok dengan tangan di saat-saat waktu luang dan santai. ”Sambil nonton TV juga bisa,” ucapnya.

Untuk 5 liter air dalam jerigen tersebut, ia mengumpamakan, kebutuhan penyemprotan tanaman teh dan kopi hanya membutuhkan 4 liter per hektare. Sayang, karena domain Dinas Perkebunan hanya pada tanaman kebun saja, pihaknya belum mencobanya ke tanaman pertanian seperti Padi sawah. (and/rie)

Sumber : http://jabarekspres.com/2018/bang-ali-temuan-baru-pengendali-hama/

 

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id