BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Permintaan Pasar Kopi Organik, Aspek Lingkungan, Sosial Dan Ekonomi Meningkat

  May 08, 2019     Admin BPP  

Pangalengan, Mei 2019. Perkebunan kopi di Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu komoditas unggulan dalam subsektor perkebunan yang memiliki peluang pasar besar di Indonesia. Keunggulan ini ditunjukan dengan besarnya luas lahan Kopi Arabika yaitu 17.415 Ha dan tingginya produksi Kopi Arabika yaitu 9.475 Ton Greenbeans di Provinsi Jawa Barat. Sedangkan luas lahan Kopi Robusta yaitu 16.374 Ha dengan produksi Greenbeans sebesar 7.162 Ton (Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kopi – Ditjenbun, 2017). Berdasarkan data dari Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) pada tahun 2017, produksi kopi Indonesia ditargetkan mencapai 900 ribu ton – 1,2 juta ton/tahun hingga 10 tahun mendatang. Hal ini sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar kopi baik di lingkup domestik maupun internasional. Permintaan pasar tidak hanya menuntut kuantitas produksi biji kopi, melainkan kualitas dari biji kopi yang dihasilkan dari pengolahan di hulu hingga ke hilir.  

Program Pengembangan Desa Pertanian Organik

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI mendukung kebutuhan pasar kopi, salah satunya dengan mewujudkan Program Pengembangan 1000 Desa Pertanian Organik. Program Pengembangan Desa Pertanian Organik memiliki tujuan di antaranya menumbuhkan petani mandiri dengan menggunakan input produksi secara organik dalam kegiatan budidaya, memperbaiki lahan kritis, meningkatkan kualitas hasil produksi, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Dari 14 Kelompok Tani yang tersebar di beberapa Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Kelompok Tani Kopi Margamulya, Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung terpilih menjadi salah satu kelompok tani yang diikutsertakan dalam Program Pengembangan Desa Pertanian Organik. Tahap-tahap kegiatan dari program ini di antaranya (1) Penetapan Calon Petani Calon Lapang; (2) Inisiasi (sosialisasi dan pengadaan input/sarana prasarana produksi; (3) Penyiapan dokumen, persiapan sertifikasi, sertifikasi produk, dan apresiasi produk organik. Seluruh Kelompok Tani memiliki kesempatan untuk mendapatkan tiga sertifikat Organik SNI, EU-ACT, dan Rainforest Alliance (RA) atau UTZ Certified. Kelompok Tani Margamulya mengikuti proses sertifikasi secara Organik SNI, EU-ACT dan RA. Berbeda dengan kelompok tani lainnya yang mengikuti proses sertifikasi secara Organik SNI, EU-ACT, dan UTZ Certified. Sertifikat RA tentu memiliki aturan tambahan yang cukup berbeda dengan sertifikat lainnya, sertifikat RA lebih memperhatikan kondisi lingkungan, sosial, ekonomi, bahkan budaya masyarakat setempat.

Sertifikat Rainforest Alliance (RA)

Sertifikat RA adalah sistem pertanian yang telah memenuhi kriteria lingkungan, sosial, dan ekonomi yang komprehensif terkait dengan Standar Pertanian Berkelanjutan. Secara garis besar Sertifikasi RA memiliki beberapa poin penting yaitu 
(Rainforest Alliance, 2019) :

  • Sistem Pengelolaan dan Perencanaan yang Efektif

Dalam proses sertifikasi RA petani harus memperhatikan banyak aspek seperti berapa banyaknya energi dan air yang digunakan, berapa persentase lahan pertanian yang digunakan untuk produksi tanaman kopi, serta berapa banyak pekerja yang disewa.

  • Konservasi Keanekaragaman Hayati

Kelompok tani harus melindungi ekosistem alami dan tidak menambah deforestasi. Petani juga harus membantu menjaga kawasan margasatwa dan ekosistem perairan (sungai, parit dll), menghindari dampak negatif terhadap kawasan hutan lindung terdekat, melindungi spesies langka dan flora fauna asli, melarang perburuan, dan melindungi dari penyebaran spesies invasif.

  • Konservasi Sumber Daya Alam

Seperti air dan tanah, petani harus menerapkan prinsip pertanian berkelanjutan dengan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, berupaya mengurangi erosi dan pemadatan tanah, meningkatkan kesuburan tanah, pengelolaan air limbah (di lingkungan rumah tangga maupun pabrik pengolahan), menghemat air dan energi, mengelola limbah padat, dan mengurangi penggunaan pestisida/pupuk kimia.

  • Peningkatan Mara Pencaharian dan Kesejahteraan Manusia

Tidak melakukan pekerja paksa/diskriminasi pekerja, anak di bawah usia 15 tahun tidak boleh diperkerjakan, pekerja dibayar berdasarkan tingkat upah minimum dan tarif lembur resmi, mendapat akses minum yang layak, memiliki jaminan kesehatan dan pendidikan yang memadai.

  • Produk Ternak Berkelanjutan

Tidak ada penganiayaan ternak dalam mengelola pemeliharaannya, memberikan tempat berteduh, makanan dan air dalam jumlah dan kualitas yang cukup, memastikan kesehatan dan produktifitas yang baik, pengelolaan kotoran ternak yang baik dapat mengurangi emisi gas rumah kaca.

Dapat dipastikan bahwa budidaya kopi dengan mengikuti prinsip sertifikasi Rainforest Alliance dapat menciptakan kelestarian lingkungan, produk sehat, dan perekonomian masyarakat local meningkat.

 

 

OLEH   : TIM BPP DISBUN

Editor  : Mochammad Sopian Ansori, S.P., M.P.

Sumber : Asosiasi Eksportir Kopi dan Industri Kopi Indonesia, 2017. Industri Kopi Indonesia. Tersedia pada http://www.aeki-aice.org/industri_kopi_aeki.html. Diakses pada tanggal 3 Mei 2019.

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2017. Statistik Perkebunan Indonesia (Kopi). http://ditjenbun.pertanian.go.id/tinymcpuk/gambar/file/statistik/2017/Kopi-2015-2017.pdf. Diakses pada tanggal 3 Mei 2019.

Rainforest Alliance. 2019. Sertifikasi Pertanian. Tersedia pada https://www.rainforest-alliance.org/business/contact/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2019.

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id