BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Uji Coba APH Cair Jamur Trichoderma sp. (Bang Ali) Untuk Pengendalian OPT Kopi Robusta Di Kabupaten Bandung

  Jul 25, 2019     Admin BPP  

 (Bandung, 19 Juli 2019), Balai Perlindungan Perkebunan Jawa Barat melaksanakan kegiatan Demplot Pengendalian OPT pada Tanaman Kopi Robusta di Kelompok Tani Mitra Pasundan, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kegiatan tersebut dihadiri dari tim BPP yang dipimpin oleh Kepala Seksi Sarana Teknologi PHT Bapak M. Sopian Ansori, S.P., M.P., dan Satuan Pelayanan Kabupaten Bandung Anindita Arsita P., S.P. dan Hilda Sandra Utami, S.P. dan dihadiri oleh Kepala Seksi Perlidungan Tanaman Perkebunan, Dinas Pertanian, Bidang Perkebunan Kabupaten Bandung Bapak Aep Suradi Permana, S.P. dan Petugas Lapang Bapak Regar Laksana, S.P., beserta 25 orang anggota Kelompok Tani Mitra Pasundan.

Kegiatan ini bertujuan untuk membantu petani kopi robusta dalam permasalahan pengendalian OPT kopi robusta. Salah satu OPT utama pada OPT kopi robusta yaitu Hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei). Berdasarkan wawancara dengan petani, hama tersebut kerap menyerang buah kopi mereka. Buah kopi yang terserang menyebabkan penurunan produksi dan menurunkan kualitas kopi mereka. Produksi ceri kopi paling banyak dalam setahun rata-rata bisa mencapai satu ton, sedangkan produksi paling rendah dalam satu tahun seberat lima kwintal. KT Mitra Pasundan masih menjual kopinya dalam bentuk ceri (glondongan). Mereka menjual dengan harga Rp 3.500,00/kg. KT Mitra Pasundan awal membudidayakan kopi robusta pada tahun 2010 dan umur tanaman kopi mereka sekarang sudah sembilan tahun.

Sebelum memulai praktek pengamatan dan aplikasi APH cair, petani diberi paparan mengenai pengenalan Organisme Pengganggu Tumbuhan pada tanaman kopi dan tata cara pengamatan OPT kopi. OPT tersebut adalah OPT utama pada tanaman kopi diantaranya Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei), Karat daun kopi (Hemileia vastatrix), kutu hijau (Coccus viridis), Penggerek ranting/cabang (Zeuzera coffeae). Petani juga diajarkan cara memasang perangkap atraktan PBKo. Kemudian para petani melakukan praktek pengamatan OPT dan aplikasi APH cair jamur Trichoderma sp. Dosis APH cair tersebut sebanyak 20 mL/ 1 Liter air. Dalam kegiatan ini petani melakukan pengamatan OPT dan pengaplikasian APH cair setiap satu minggu sekali dan pengamatan PBKo yang terperangkap pada perangkap atraktan setiap dua minggu sekali, dan juga petani melakukan pemupukan dengan pupuk kendang.

Petani juga kami ajarkan cara untuk membuat APH cair jamur Trichoderma sp. petani terlihat antusias untuk bisa membuat APH cair sendiri. Alat dan bahan untuk membuat APH cair mudah didapatkan karena bahan tersebut ada disekitar kita, seperti air beras, air kelapa tua dan gula pasir. Bahan-bahan tersebut direbus sampai mendidih menggunakan panci, kompor, dan gas yang biasa ada di dapur. Petani tertarik untuk dapat membuat sendiri APH cair karena ada sebagian petani yang memang mengembangkan tanaman yang mereka tanam (tidak hanya kopi) secara organik.

Selain diajarkan cara pengamatan dan pengendalian OPT kopi robusta dan pembuatan APH cair, petani juga kami berikan ilmu pengolahan pascapanen kopi yang baik dan benar KT Mitra Pasundan belum mengetahui cara pengolahan pascapanen kopi yang baik dan benar, karena slama ini kelompok tersebut masih menjual kopinya dalam bentuk ceri (gelondongan). Peluang pasar kopi robusta masih terbuka luas karena sudah banyak kebun kopi robusta yang dialihfungsikan menjadi kebun kopi arabika. Hal tersebut disebabkan nilai jual kopi arabika lebih tinggi dibandingkan kopi robusta. Produk kopi robusta menjadi sulit dicari karena jumlah tanaman kopi robusta yang semakin sedikit. Oleh karena hal tersbut, ini merupakan kesempatan yang bagus bagi KT Mitra Pasundan untuk mengembangkan produk dari kopi robusta.

Hasil dari uji coba APH cair jamur Trichoderma sp. intensitas serangan OPT pada kopi robusta mengalami penurunan. Terutama sarang kutu terlihat sudah mengering pada ujung ranting tanaman. Semut yang awalnya petani merasa terganggu dengan keberadaannya juga terlihat berkurang jumlahnya pada tanaman kopi robusta. Hal ini karena OPT kutu sudah terkendali oleh APH cair sehingga semut tidak bisa lagi mengambil makanan dari zat yang dikeluarkan oleh kutu tersebut. Menggunakan perangkap atraktan juga cukup efektif karena pada data pengamatan terlihat jumlah buah yang berlubang berkurang.

Petani sangat berterimakasih atas terlaksananya kegiatan ini. Dengan adanya kegiatan ini petani mendapat pengetahuan untuk melakukan pengamatan dan pengendalian OPT kopi, diajarkan bagaimana cara mengolah pascapanen kopi robusta yang baik dan benar, serta diberi informasi bahwa kopi robusta masih sangat dibutuhkan di pasaran yang membuat petani menjadi lebih semangat untuk mengembangkan produk kopi robusta Lamajang. Semoga dengan adanya kegiatan ini petani dapat terbantu dan dapat menerapkan pengendalian OPT dengan cara Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHT) supaya tidak merusak ekosistem sekitar dan dapat menjadikan petani lebih sejahtera.

 

Penulis : Oleh: Anindita Arsita Putri, S.P.

Editor MS. Ansori

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id