BPP JAWA BARAT
BALAI PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

PENTINGNYA KESEHATAN TANAMAN KELAPA DALAM MENUNJANG PERSAINGAN PASAR EKSPOR

  Mar 26, 2021     Admin BPP  

BANDUNG – Balai Perlindungan Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, kembali menggelar webinar yang cukup menarik pada Kamis (03/12/2021).  Kali ini webinar yang dihadiri 121 orang peserta tersebut  mengusung tema  “Pentingnya Kesehatan Tanaman Kelapa Dalam Menunjang Persaingan Pasar Ekspor”.  Dua orang narasumber  kompeten mewarnai materi webinar dalam hal menjaga kesehatan tanaman melalui metabolit sekunder  APH cair sebagai pengendalian Oryctes dan Bronthispa serta membuka peluang pasar ekspor dengan berbagai produk turunan kelapa.

Kepala Dinas Perkebunan. “Hendy Jatnika” sebagai keynote speaker menjelaskan, Indonesia tercatat sebagai negara pengekspor utama kelapa dan produk turunanya ke manca negara.           Produk ekspor olahan kelapa dari Indonesia  antara lain;  minyak kelapa sebanyak 610.812 ton; kelapa segar sebanyak 558.183 ton; gula kelapa sebanyak 36.465 ton; tepung kelapa; sabut kelapa sebanyak 37.928 ton; briket kelapa sebanyak 349.928 ton; air kelapa sebanyak 31547 ton; dan juga gula semut. Negara tujuan  ekspor meliputi 6 Benua,  seperti Amerika Utara, Eropa, Asia, Amerika Selatan, Afrika, dan Australia.

Pihaknya menegaskan, sentra kelapa di Jawa Barat kebanyakan di daerah Selatan di antaranya Sukabumi, Tasikmalaya, dan Pangandaran. Perkembangan Oryctes dan Brontispa  telah menurunkan produksi dan mutu kelapa petani  di wilayah ini , sehingga perlu dipikirkan teknik percepatan pengembangan kelapa.  Menurut Hendy langkah percepatan pengembangan kelapa dapat dilakukan melalui  intensifikasi tanaman, peremajaan tanaman, ekstensifikasi tanaman, penggunaan benih bersertifikat, dan pengendalian hama penyakit.

Prof. Ir. Loekas Soesanto, M.S., Ph.D. (Guru Besar Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto), sebagai narasumber utama, mengatakan  serangan hama penyakit tanaman sangat berdampak pada penurunan hasil baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif, sehingga berimbah pada menurunnya pendapatan produsen kelapa.  Beliau menegaskan, masalah serangan hama terutama sebaran O. rhinoceros dapat mencapai ribuan hektar pada kondisi terjadi eksplosif.

Menurutnya teknologi pencegahan  hama ini  harus menggunakan teknik pengendalian yang ramah lingkungan seperti dapat dilakukan melalui Pengelolaan Hama Penyakit Terpadu (PHT) dengan memadukan semua komponen yang ada mulai dari 1). Kultur teknis : cari bibit yang tahan O. rhinoceros, bibit sehat, teknik pengairan, dll, 2). Hayati : cara paling ramah lingkungan dan mudah bahkan lebih stabil, 3). Nabati, 4). Kimiawi, 5). Varietas tahan, Fisik dan Mekanik, 6). Peraturan  

Mengapa pengendalian secara hayati: karena tuntutan kesehatan tanaman, tuntutan produksi tinggi, banyak hama penyakit  yang tidak terkendalikan dengan teknik pengendalian lainnya. Dampak negatif penggunaan pestisida, sudah bukan rahasia lagi, oleh sebab itu diarahkan agar  petani beralih ke cara hayati  karena terbukti lebih aman-murah-mudah, dan memiliki berbagai jenis mekanisme.  Tuntutan kesehatan tanaman terjawab  dengan pengendalian hayati, demikian halnya dengan  tuntutan produksi tinggi dapat didukung oleh aplikasi pengendalian hayati.  

Lukas mencontohkan, untuk pengendalian kumbang badak  dapat menggunakan Metarhizium sp., khususnya pada kumbang yang masih dalam bentuk larva. Sedangkan untuk mengendalikan   kumbang dewasa   cara ini tidak akan mempan, karena kulit kumbang badak sangat keras.  “Biasanya kumbang turun sore atau malam hari untuk merusak, kumbang dewasa dijebak dengan pemasangan jaring, feromon, masukan ke dalam ember, di dalamnya diberikan larutan, trap, lampu, penjebakan. Tetapi cara itu kurang berhasil dengan baik. Apalagi jika hanya diaplikasikan di kebun sendiri, sedangkan kebun tetangga tidak dilakukan aplikasi”, kata Lukas.

Beliau menjelaskan salah satu kelebihan pengendalian hayati adalah tidak berdampak negatif bagi lingkungan, mencegah ledakan OPT sekunder, produk perkebunan bebas residu, mutu terjamin lebih baik, mudah disiapkan dan diaplikasikan, aman bagi manusia, ada di sekitar tanaman tidak perlu membeli, mencegah ketergantungan terhadap pestisida, menurunkan biaya produksi, dan tahan lama di alam.  Namun demikian pengendalian hayati juga memiliki kelemahan antara lain   spesifik lokasi, terkendala geografi dan suhu, tidak dapat masuk ke hama/penyakit di dalam jaringan tanaman, kontaminasi ke musuh alami, penyiapan dan produksi rumit, serta mengubah fungsi, ujarnya.

Mengapa metabolit sekunder/Metsek? 

Metabolit sekunder bukan lagi berbentuk spora, melainkan keringat dari jamur. Keringat jamur ini ada manfaatnya. Metsek adalah senyawa organik maka jika terkena tangan atau masuk ke dalam mulut tidak akan ada masalah.  Dengan Metsek tidak akan muncul resistensi dan resurgensi. Kandungan metabolit sekunder di antaranya antibiotic, toksin, enzim pengurai, hormone (PGPR/PGPF), senyawa volatile, antimikrobia, dan pendegradasi. Kita tidak membutuhkan alat semprot lagi, tetapi kita membutuhkan xylem yang akan mengangkut metsek hingga ke bagian atas tanaman. Mudah diaplikasikan, bisa dicampurkan dengan apa saja.

Yoga Prakasa, S.Si., M.M.  sebagai Pelaku Usaha Produk Kelapa, mengatakan permintaan pasar dunia terhadap produk olahan kelapa semakin meningkat, tahun 2019 mencapai 11,6 miliar $.  Bentuk olahan yang banyak diminati berupa olahan daging kelapa, air kelapa (UHT air kelapa, air kelapa konsentrat, nata de coco),   minyak kelapa, kelapa segar, arang tempurung kelapa (tempurung powder, arang, briket, karbon aktif), kopra meal (biji kopra), kopra, desicatet coconut, produk sabut, gula kelapa, santan, dan karbon aktif.

Pihaknya  sangat mendukung program Disbun dalam  peremajaan kelapa, pelatihan-pelatihan untuk peningkatan volume produksi kelapa, dan pengendalian hama karena menurut Yoga banyak pabrik dalam 1 minggu hanya 3 hari kerja.  Sementara di sisi hilir terdapat   permasalahan ekspor, “container sulit didapatkan untuk ekspor”, katanya. Di sisi lain beberapa produsen kewalahan dalam memenuhi permintaan pasar seperti (briket, desicated coconut), sedangkan bahan baku dalam beberapa bulan ini  bisa dibilang sulit dan harganya lumayan mahal.

Produk-produk ini volumenya sangat ditentukan oleh seberapa besar produk olahan daging kelapa diproduksi. Misalnya tempurung kelapa hanya 16% dari total volume kelapa sehingga untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tergantung dari produksi olahan daging kelapa dimana tempurungnya dapat diperoleh. Sebagai gambaran, sekitar 90% produsen arang briket tempurung kelapa di Indonesia memproduksi arang sisha. Indonesia merupakan produsen arang sisha terbesar dan terbaik di dunia. Tidak ada negara lain yang sanggup membuat arang sisha sebaik Indonesia. Ini merupakan keunggulan, akan tetapi sulit mendapatkan bahan baku seandainya produksi olahan daging kelapanya menurun karena tempurungnya pun otomatis akan menurun, lanjut Yoga.

Demikian pula dengan produksi nata de coco dan minuman air kelapa. Sehingga dibutuhkan suatu kerja secara bersama-sama untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Pemerintah harus turut campur tangan memecahkan masalah ini. Indonesia masih banyak mengekspor kelapa butiran segar sehingga bahan baku arang dan air ikut diekspor. Tidak mungkin pengusaha arang berhadapan langsung dengan petani dan minta untuk tidak diekspor. Oleh karena itu diharapkan pemerintah dapat mendorong terbentuknya banyak industri pengolahan kelapa, harap Yoga sambil mengakhiri penjelasannya. (SITI PURNAMA)

TENTANG KAMI

BPP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id