BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Pengenalan dan Pengendalian Hama Ulat Grayak Pada Tanaman Kapas

  Dec 31, 2015     Admin BPP  

Tanaman kapas (Gossypium hirsutum L) merupakan komoditas penting bagi bahan baku industri tekstil yang mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak dan devisa Negara sampai 15% dari nilai ekspor non migas. Ironisnya, produksi kapas di Indonesia masih jauh dari kebutuhan rata-rata nasional yang mencapai 500 ribu ton per tahunnya. Indonesia hanya mampu memproduksi kapas rata-rata per tahun sebanyak 2,5% dari kebutuhan nasional dan 97,5% sisanya dipenuhi dari impor. Sedangkan pemerintah, sampai tahun 2014 hanya mampu menargetkan memproduksi kapas hingga 5% dari kebutuhan nasional. Salah satu permasalahan dalam produksi kapas adalah serangan hama dan penyakit. Salah satu hama pada tanaman kapas adalah Spodoptera litura.Spodoptera litura merupakan hama yang bersifat polifagus yang juga menyerang tanaman tembakau, kapas, kubis, dan kacang hijau. Serangan Spodoptera litura  dapat menimbulkan kerusakan sebesar 20-40% pada tanaman kedelai sedangkan pada komoditi kubis serangan ulat grayak dapat menyebabkan penurunan produksi lebih kurang 70% .


EKOBIOLOGI ULAT GRAYAK

Dalam sistematika klasifikasi, Menurut Kalshoven (1981) S. litura  dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kerajaan

:

Animalia

 

Phylum

:

Arthropoda

Kelas

:

Insekta

Bangsa

:

Lepidoptera

Suku

:

Noctuidae

Marga

:

Spodoptera

Jenis

:

Spodoptera litura (F.)

 

 

 Kerusakan Tanaman Akibat Serangan Larva S. Litura

Spodoptera litura  hidup dalam kisaran inang yang luas dan bersifat polifagus. Karena itu hama ini dapat menimbulkan kerusakan serius. Menurut Sudarmo (1993) kerusakan yang ditimbulkan pada stadium larva berupa kerusakan pada daun tanaman inang sehingga daun menjadi berlubang-lubang. Larva instar 1 dan 2 memakan seluruh permukaan daun, kecuali epidermis permukaan atas tulang daun. Larva instar 3-5 makan seluruh bagian helai daun muda tetapi tidak makan tulang daun yang tua.

Daur hidup S. litura

            Sebagai anggota ordo lepidoptera, S. Litura mempunyai tipe metamorfosis sempurna dengan stadia perkembangan telur, larva, pupa dan imago. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa produksi telur dapat mencapai 3000 butir per induk betina yang tersusun atas 11 kelompok dengan rerata 350 butir telur per kelompok ( Arifin, 1992).

            Telur biasanya diletakkan di bawah permukaan bawah daun secara berkelompok berkisar 4-8 kelompok (Untung,1990). Jumlah telur setiap kelompok antara 30-100 butir. Telur tersebut ditutupi dengan bulu-bulu berwarna coklat keemasan (Jauharlina, 1999). Diameter telur 0,3mm sedangkan lama stadia telur berkisarn antara 3-4 hari (Kalshoven, 1981).

            Larva S. litura yang baru keluar memiliki panjang tubuh 2mm. Ciri khas larva S. litura adalah terdapat 2 buah bintik hitam berbentuk bulan sabit pada tiap ruas abdomen terutama ruas ke-4 dan ke-10 yang dibatasi oleh garis-garis lateral dan dorsal berwarna kuning yang membujur sepanjang badan (Arifin, 1992). Lama stadium larva 18-33 hari (Kalshoven, 1981). Sebelum telur menetas, larva yang baru keluar dari telur tidak segera meninggalkan kelompoknya tetapi tetap berkelompok (Indrayani, et, al 1990). Pada stadium larva terdiri dari enam instar dan berlangsung selama 13-17 hari dengan rerata 14 hari.

            Menjelang masa prepupa, larva membentuk jalinan benang untuk melindungi diri dari pada masa pupa. Masa prepupa merupakan stadium larva berhenti makan dan tidak aktif bergerak yang dicirikan dengan pemendekan tubuh larva. Panjang prepupa 1,4-1,9 cm dengan rerata 1,68 cm dan lebarnya 3,5-4mm dengan rerata 3,7 mm. Masa prepupa berkisar antara 1-2 hari (Mardiningsih, 1993).

            Pupa S.litura berwarna merah gelap dengan panjang 15-20mm dan bentuknya meruncing ke ujung dan tumpul pada bagian kepala (Mardiningsih dan Barriyah, 1995). Pupa terbentuk di dalam rongga-rongga tanah di dekat permukaan tanah (Arifin, 1992). Masa pupa di dalam tanah berlangsung 12-16 hari (Indrayani, et al, 1990).

            Imago muncul pada sore hari dan malam hari. Pada pagi hari, serangga jantan biasanya terbang di atas tanaman, sedangkan serangga betina diam pada tanaman sambil melepaskan feromon.

            Perkembangan dari telur sampai imago berlangsung selama ± 35 hari. Faktor density dependent (bertautan padat) yaitu faktor penghambat laju populasi hama ini adalah sifatnya yang kanibal. Sedangkan populasi telur dan larva instar muda dapat tertekan oleh curah hujan yang tinggi, kelembaban yang tinggi yang mana membuat larva mudah terserang jamur. Musim kering dapat berpengaruh pada tanah dalam menghambat perkembangan pupa ( Kalshoven, 1981).

Tanaman Inang

Selain kedelai, tanaman inang lain dari ulat grayak adalah cabai, kubis, padi, jagung, tomat, tebu, buncis, jeruk, tembakau, kapas, bawang merah, terung, kentang, kacangkacangan (kedelai, kacang tanah), kangkung, bayam, pisang, dan tanaman  hias. Ulat grayak juga menyerang berbagai gulma, seperti Limnocharis sp., Passiflora foetida,  geratum sp., Cleome sp., Clibadium sp., dan Trema sp.

 

EKOSISTEM PEMICU SERANGAN ULAT GRAYAK PADA KAPAS

Di dalam ekosistem terdapat mekanisme alami yang bekerja secara efektif dan  efisien dalam menjaga kelestarian dan keseimbangan ekologi untuk menekan  populasi suatu hama. Mekanisme alami tersebut meliputi  redatisme, parasitisme, patogenitas, persaingan intra/interspesies,  suksesi, produktivitas dan stabilitas. Jaring-jaring  makanan merupakan unsur ekosistem yang cukup penting dalam pengelolaan hama. Pertumbuhan populasi ulat grayak sering dipicu oleh situasi dan kondisi lingkungan, yakni:

 1) Cuaca panas. Pada kondisi kering dan suhu tinggi, metabolisme serangga hama meningkat sehingga  memperpendek siklus hidup. Akibatnya jumlah telur yang dihasilkan meningkat dan akhirnya mendorong peningkatan populasi. Oleh karena itu, intensitas serangan ulat grayak pada pertanaman kedelai musim tanam ketiga (musim kemarau II) umumnya lebih tinggi dibanding pada musim hujan.

 2) Penanaman tidak serentak dalam satu areal yang luas. Penanaman yang tidak serentak menyebabkan tanaman berada pada fase pertumbuhan yang berbeda-beda sehingga makanan ulat grayak selalu tersedia di lapangan. Akibatnya, pertumbuhan populasi hama makin meningkat karena makanan tersedia sepanjang musim.

3) Aplikasi insektisida. Penggunaan insektisida yang kurang tepat baik jenis maupun dosisnya, dapat mematikan musuh alami serta meningkatkan resistensi dan resurgensi hama. Aplikasi insektisida dengan dosis tinggi dapat memicu timbulnya resistensi hama terhadap insektisida, sedangkan aplikasi insektisida pada dosis sublethal dapat menyebabkan timbulnya resurgensi.

 

BEBERAPA PRAKTEK BUDI DAYA YANG SERING MEMICU TIMBULNYA MASALAH HAMA

 Waktu tanam. Waktu tanam yang tidak seragam sering menimbulkan masalah hama karena stadia  pertumbuhan tanaman yang dikehendaki hama selalu ada.

  1. Benih. Keberhasilan usaha tani salah satunya bergantung pada benih, terutama daya tumbuh dan kesehatan benih. Penggunaan benih yang kurang sehat menghasilkan tanaman yang mudah terserang hama dan penyakit.
  2. Ketersediaan air. Kerusakan tanaman akibat serangan hama akan makin parah jika terjadi kekurangan air.
  3. Kondisi kesuburan tanah. Pada tanah yang subur, tanaman dapat tumbuh dengan vigor yang baik dan akan meningkatkan preferensi serangga hama. Tanaman yang tumbuh pada tanah yang kurang subur memiliki vigor yang kurang baik, dan apabila terserang hama, tanaman menjadi rusak berat sehingga hasil menurun.  
  4. Keragaman cara pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian hama yang dilakukan secara individual, bukan atas dasar musyawarah kelompok, akan menyulitkan pengendalian hama pada satu hamparan.

  PENGENDALIAN HAMA ULAT GRAYAK

Pengendalian hama ulat grayak dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu,

 a.Kultur teknis,

  • Sanitasi dengan membersihkan sisa-sisa tanaman dan dimusnahkan
  • Pengolahan tanah yang baik untuk mematikan larva instar terakhir dan pupa di tanah
  • Pergiliran tanaman dengan jenis tanaman yang bukan inang, penanaman bibit tanaman yang toleran atau resisten terhadap serangan ulat grayak, dan penanaman secara serempak dalam satuan kawasan/sentra.
  • Penggunaan tanaman perangkap (jagung dengan jarak tanam 2,5 x 5) diantara barisan kapas.

b. Mekanis,

  • Memetik daun yang terdapat kelompok telur dan larva sejak tingkat serangan dini/ringan dengan memasukan kedalam kantung plastik untuk dimusnahkan.
  • Pengambilan larva dewasa, kemudian dimusnahkan.

 c. Secara biologi,

Secara biologis yaitu dengan memanfaatkan musuh alami diantaranya:

Predator:

  1. Lycosa pseudoannnulata (Araceae)
  2. Paederus fuscipes (Coleoptera)
  3. Euburellia stali (Dermaptera)
  4. Eocantheocona furcellata (Hemiptera)

 Parasitoid

  1. Apanteles sp (Hymenoptera)
  2. Telenomus sp (Hymenoptera)

  Patogen

  1. SlNPV
  2. Beauveria bassiana

.

Apabila cara pengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi serangan ulat, apabila populasi kelompok telur (musim kemarau) telah mencapai 1 kelompok/10 rumpun atau 5 persen daun terserang/rumpun atau (musim hujan) telah mencapai 3 kelompok/10 rumpun atau 10 persen daun terserang/rumpun aplikasi insektisida selektif dan efektif sesuai dosis/konsentrasi yang direkomendasi.

 d. Kimiawi.

Pemberian insektisida pada tanaman harus diberikan sebelum ulat memasiki instar 4 dan 5 karena jika sudah masuk instar tersebut maka hama ulat grayak akan cukup sulit untuk dibasmi dengan insektisida (Arifin 1986). Jadi, pengendalian hama ulat grayak harus cepat, yaitu pada instar ke satu hingga ketiga karena pada instar tersebut, hama ulat grayak masih rentan terhadap insektisida

 

Daftar Pustaka

  • Arifin, M. 1992. Bioekologi, Serangan dan pengendalian Hama Pemakan Daun Kedelai. Dalam Risalah lokakarya PHT Tanaman Kedelai.
  • Anonymous. 2003. Puluhan Hektar Kubis Diserang Ulat. Suara merdeka edisi 2 juni 2003.
  • Anonymous. 1992. Risalah Lokakarya Tanaman Kedelai. Departemen
  • Indriyani. I.G.A.A, Subiyakto dan A.A.A Ghotama. 1990. Prospek NPV untuk Pengendalian Ulat Buah Kapas Helicoverpa armigera dan Ulat grayak S. litura. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.
  • Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pest of Crops in Indonesia. Revised and Translated by P.A van Der Laan. P.T. Ictiar baru-Van Hoeve. Jakarta. 701. hal.
  • Litbangtan, 2007.Piretrum Mimba, Lembar Informasi Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Lembang Jawa Barat. Diakses dari http: www// Jabar.litbang.deptan.go.id/pdf/liptan/nabati.pdf.
  • Mardiningsih, Tri. L dan Barriyah Barimbing. 1995. Biologi S.litura F. Pada Tanaman Kemiri. Dalam Prosiding Seminar Nasional Tantangan Entomologi pada Abad XXI. Perhimbunan Entomologi Indonesia. Balai Tanaman Rempah dan Obat. Bogor. 96-102 hal.

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id