BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Strategi Mitigasi Menghadapi Musim Hujan Pada Tanaman kakao

  Dec 31, 2015     Admin BPP  

Oleh; Effendi Wibowo, SP

 

Kurun waktu bulan  Desember 2014 sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan tinggi (>200 mm). Sebagian besar Jawa, Sumatera bagian selatan, dan Papua bahkan mengalami curah hujan sangat tinggi (>400 mm). Di Pulau Jawa, hujan maksimum tersebut banyak terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Barat bagian timur (sumber data; PSTA-LAPAN)

 

Gambar  Akumulasi presipitasi selama bulan Desember 2014.

Variabilitas selama Bulan Desember 2014 dipengaruhi oleh pengurangan hujan pada awal hingga pertengahan Desember yang berhubungan dengan fase jeda monsun atau disebut monsoon break. Pengurangan hujan ini juga berkaitan dengan efek ElNino lemah yang sedang berlangsung di Samudera Pasifik tengah ekuator. Selanjutnya, pada 16-28 Desember terjadi aktivitas MJO dengan intensitas moderat di atas Samudera Hindia (fase 2 dan 3) yang berpengaruh meningkatkan aktivitas konvektif, menyuplai lebih banyak kumpulan awan dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia sehingga pada periode tersebut terjadi hujan maksimum di sebagian besar wilayah Indonesia.

Hujan maksimum yang terjadi pada masa berakhirnya fase jeda monsun ini telah menimbulkan cuaca buruk (Adrianita, 2014), di beberapa wilayah seperti di Bandung pada 18 Desember 2014, ditandai dengan hujan ekstrem dan puting beliung dahsyat dan merusak (detik.com, 18 Desember). Hujan ekstrem tersebut diinformasikan dengan baik oleh SADEWA-LAPAN sebagai peringatan dini terjadinya cuaca ekstrem. Peningkatan hujan terjadi pada Bulan Desember sehingga terjadi bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah. Prediksi bulan Januari – Februari 2015, curah hujan semakin meningkat di Indonesia bagian selatan khususnya Pulau Jawa.

Curah hujan yang tinggi (200mm-400mm) selama bulan Januari dan Februari 2015, di Indonesia, di Jawa, Sulawesi, dan Papua. Cuaca ekstrim kurun waktu bulan Januari s/d Maret 2015 mendatang mengancam wilayah penghasil kakao, baik dari kelangsungan hidup tanaman dan produktifitas kakao, ancaman tersebut diantaranya; angin kencang menyebabkan banyak tanaman tumbang, erosi perakaran yang pendek tanaman kakao mudah terbawa erosi, banjir dan sedimentasi, kakao sangat rentan terhadap genangan, yang menyebabkan kematian dan ledakan serangan VSD, suhu lembab, akan terjadi peningkatan OPT khususnya golongan penyakit yang disebabkan golongan jamur seperti Phytopthora palmivora, ledakan penyakit busuk buah dan kanker batang.

Dalam rangka upaya mitigasi bencana diatas, dapat dilakukan dalam paket teknologi  "6 STRATEGI MITIGASI MENGHADAPI MUSIM PENGHUJAN PADA KOMODITI TANAMAN KAKAO”.

 

1.    Sanitasi & Rehab Kebun

Dilakukan pemangkasan total sesuai dengan pedoman yang berlaku, jika terdapat tanaman produktifitasnya menurun/ bukan klon unggul dilakukan sambung samping. Hal ini bertujuan untuk a) mengantisipasi datangnya angin kencang/putting beliung, dimana tanaman kakao mudah roboh, b) meningkatkan produksi bunga dengan pemangkasan sesuai pedoman akan terjadi penumpukan sari makanan di bagian batang dan ranting, hal tersebut akan merangsang terjadinya pembungaan,

 

2.    Irigasi dan Bak Penampung

Pemetaan kebun adalah langkah pertama dalam pelaksanaan pembuatan irigasi, tentukan alur laju irigasi sesuai dengan kontur tanah. jika tidak ada tempat pembuangan akhir saluran irigasi (sungai), Buatlah bak penampungan dgn ukuran 2mx3m dengan kedalaman 50cm. tujuan dari irigasi adalah mengalirkan air sesuai dengan gaya grativasi, air dengan mudah terbuang sesuai aliran, meminimalisir terjadinya genangan/banjir. Bak penampung bertujuan sebagai tampungan air dari saluran irigasi, khusunya perkebunan kakao di dataran rendah dimana petani kesulitan mengalirkan airnya karena jauh dari sungai.

 

3. Rorak dan Istana Cacing

Rorak berukuran 50 x 100cm, kedalaman 70 cm, berjumlah 50% populasi tanaman. Bertujuan untuk menampung seresah dan bahan organik, berfungsi sebagai sumber bahan organik.

Istana Cacing, berukuran diameter 20 cm dengan kedalaman 120cm, berjumlah 2 x populasi tanaman. Diisi bahan organik, bermanfaat untuk sumber hara instan bagi akar tanaman.

 

4. Penanaman Tanaman Sela

Teknik dengan membuat guludan diantara tanaman kakao, beralur mengikuti alur tanaman. Tanaman sela berupa Jahe, Nilam, Lengkuas,dll. Bermanfaat sebagai nilai tambah bagi ekonomi, dan menarik petani untuk merawat kebunnya.

  

5. Pemupukan Organik mengandung  Agens Pengendali Hayati (APH)

 

Aplikasi APH Trichoderma harzianum yang dikompositkan dengan pupuk kandang, hasilnya di aplikasikan di sekitar tanaman, istana cacing, dan rorak. Bermanfaat untuk suplai unsur hara, dan menekan populasi Phytopthora palmivora di tanah.

 

 6. Eco Friendly (EF) Traps

Memperkenalkan teknik Pengendalian baru, yang murah, dan ramah lingkungan, EF Traps berfungsi 2 (two) in 1 (one), sistem kerja; perangkap di lapisi dengan lem yang mengandung senyawa atraktan (penarik) hama PBK dan Helopeltis, 200 EF Traps/ ha. Bertujuan untuk memerangkap OPT, dan perangkap dapat berfungsi juga untuk sarang rumah semut hitam/semut merah sebagai penghalau hama PBK dan Helopeltis.

Dengan penerapan 6 strategi diatas di harapkan,a) Tanaman mampu bertahan hidup dalam kondisi ekstrem (Lanina). b)  Menekan populasi OPT. c) Produktivitas Meningkat, dan menghasilkan biji kakao grade a (85-100 biji/100 gram). Selamat Mencoba….

 

Daftar Pustaka

Adrianita (2014). “Prediksi Fase Ekstrem Periode Monsoon Break di Indonesia,” Tesis Magister Sains Kebumian, FITB, ITB.

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id