BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Tahun 2016, Pemasaran Teh Harus Agresif

  Jul 28, 2016     Admin BPTP  

Sejumlah kalangan usaha perkebunan teh Indonesia sepakat berlaku agresif dalam memasarkan komoditas ini, sebagai momen membangkitkan usaha ini dari keterpurukan berkepanjangan. Sejumlah terobosan pemasaran dan perbaikan pola usaha secara terpadu akan menjadi solusi, untuk mengubah usaha teh Indonesia, dimana Jawa Barat selaku produsen utama kearah lebih baik.

Gambaran tersebut muncul dari pernyataan sejumlah pihak, dalam Rapat Anggota Tahunan Dewan Teh Indonesia (DTI), di Bandung, Selasa (26/7/2016). RAT DTI tersebut dihadiri pengurus DTI, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, pimpinan sejumlah perusahaan perkebunan teh, asosiasi petani teh, para senior pelaku teh Indonesia, dll.

“Para pelaku usaha teh Indonesia agar agresif memasarkan, sebagai upaya melancarkan perputaran bisnis. Tingkatkan komunikasi lebih baik untuk meningkatkan kemampuan pemasaran. Negara lain lebih mampu memasarkan, karena berlaku agresif,” ujat Ketua Dewan Teh Indonesia, Rachmat Badruddin.

Disebutkan, sebenarnya Indonesia termasuk deretan Negara penghasil teh, terutama bidang perkebunan, yang memiliki produk yang lebih bagus. Namun saat di pemasaran sering terseok, karena kurang optimalnya dalam komunikasi dalam menjual serta cenderung statis dalam memasarkan produk.

Rachmat Badruddin mencontohkan, Negara Bangladesh yang juga produsen teh namun produknya tergolong kualitas rendah, kini termasuk yang sukses di bidang pemasaran. Kuncinya, para personel pemasaran teh asal Bangladesh, memiliki kemampuan komunikasi yang baik sehingga mampu meyakinkan para calon pembeli internasional.

Pada sisi lain, katanya, Indonesia terutama Jawa Barat memiliki kepentingan strategi s dari usaha komoditas teh, karena umumnya diusahakan oleh petani pekebun teh (60 persen), lalu perusahaan perkebunan Negara, serta perusahaan perkebunan swasta. Dari hasil pertemuan The FAO Intergovernmant Group (IGG) on Tea baru-baru ini, muncul kesimpulan, usaha penyelamatan teh rakyat harus didorong untuk demi eksistensi komoditas ini di dunia.

Pada kesempatan sama, Rachmat Badruddin, mengkritisi pula pernyataan Menteri Pariwisata Arief Yahya yang menilai usaha perkebunan teh menunggu mati dan disarankan lahannya diganti oleh usaha property. “Dengan manajemen yang baik, usaha perkebunan teh terbukti tetap menghasilkan uang,” ujar Rachmat Badruddin, yang sehari-harinya pemiliki sekaligus CEO Perusahaan Perkebunaan Swasta Grup PT Kabepe Chakra.

Khusus usaha perkebunan teh skala perusahaan, Rachmat Baduddin, juga menyarankan, agar kembalimenghidupkan pola inti-plasma, yaitu kemitraan perusahaan dengan petani. Cara ini juga menjadi salah satu kunci, dimana grup perusahannya tetap eksis dalam kondisi apa pun wala semua komoditas yang diusahakan adalah teh.

“Jangan lagi bersikap ketergantungan kepada pemerintah. Perusahaan perkebunan swasta dan PT Perkebunan Nusantara harus menjadi motor pembangkit teh. Mudah-mudahan, tahun 2016 ini merupakan momen keberhasilan untuk menghapus ungkapan ibarat mendorong truk besar yang mogok,” ujarnya.

Kepada Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Arief Santosa berharap sektor pemasaran teh bias memanfaatkan peluang. Sekarang, teh bukan lagi minuman dan penyegar, juga dibutuhkan sebagai bahan baku kosmetik, pengobatan herbal, kuliner, dll. Usaha kreatif berbasis bahan baku teh pun bermunculan.

Pada sisi lain,katanya, terkait komoditas teh dimana Gubernur Jawa Barat pada tahun 2013 menjanjikan serapan tenga kerja bias 1 juta orang, dimana sektor perkbunan memperoleh amanah menciptakan lpangan kerja 1.500 orang/tahun. Begitu pula dalam pemulihan hulu Daerah Aliran Sungai Citarum, tanaman teh termasuk menjadi andalan bersama kopi, selain menghasilkan manfaat ekonomi dan lingkungan, juga menghasilkan air bersih untuk konsumsi.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara VIII, Bambang Murtioso, selaku selaku produsen terbesar teh Indonesia, mengatakan, pihaknya sedang sibuk melakukan konsolidasi internal. “Namun apa yang dikatakan dan dikritisi pada RAT DTI tersebut, kondisinya memang benar begitu kenyataannya,” ujarnya.

Untuk tingkat petani teh, beberapa petani asal Majalengka dan Kabupaten Bandung senada menyebutkan, usahanya sudah membaik sejak tiga tahun terakhir. Dengan menjadi mitra plasma dengan perusahaan perekbunan besar, kelompok petani teh memperoleh pelatihan penanganan tanaman sehingga menghasilkan produktivitas yang lebih baik.

Mereka senada mengatakan, penanganan tanaman lebih kepada perawatan tanaman yang sesuai prosedur, ditambah perlakuan ramah lingkungan. Walau rata-rata tanamannya masih berasal dari klon generasi lama TRI 2025 yang ditanaman tahun 1990 an, tetapi produktivitasnya kini jauh lebih tinggi.

Disebutkan Ketua Asosiasi Petani Teh (Apteh Kabupaten Majalengka, Eko Waska Tea, sejak tiga tahun terakhir, usaha teh rakyat di Majalengka walau luasnya kini tinggal 219 hektare yang terdiri dari 500 petani pekebun, banyak yang sudah kembali bergairah usahanya. Fenmena ini lebih kepada keseriusahan para peptani teh sendiri untuk mengangani secara intensif tanaman menjadi lebih baik.

Ia mencontohkan, untuk usaha milikinya sendiri di Desa Payung, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, kini rata-rata menghasilkan 6 ton pucuk/hectare/bulan, padahal sebelumnya rata-rata hanya 3 ton/hectare/bulan. Bahkan saat musim kemarau panjang tahun 2015 lalu, produksi pucuk teh masih mampu mencapai 3 ton/hectare/bulansebagai manfaat peningkatan pucuk organic, padahal biasanya nyaris tak berproduksi.

Gambaran serupa dilontarkan petani teh asal Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasirjambu, Riswan, yang menyebutkan selain penanganan tanaman yang hasilnya lebih baik, ia juga mampu memperbaiki kondisi jalan ke kebun. Tujuanya, memudahkan truk dari perusahaan mitra, untuk membawa berbagai pucuk teh.

“Intinya, jika ditarik memlalui system penjualan yang lebih baik, baik harga maupun pembayaran tunai, perlakuan tanaman teh oleh para petani menjadi lebih serius. Tentunya kami berterima kasih karena da perusahaan besar yang bermitra sehingga usaha petani teh kini menjadi lebih baik melewati masa-masa susah,’ ujar Eko, senada Riswan. (Kodar Solihat/”PR”)

Sumber Harian Umum Pikiran Rakyat Rabu, 27 Juli 2016 Kolom Agribisnis Hal 5

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id