BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Citra Produk Sehat Bangkitkan Teh Rakyat Jawa Barat

  Aug 03, 2016     Admin BPTP  

    Usaha tanaman teh masih menjadi salah satu ikon dan andalan usaha perkebunan rakyat di Jawa Barat. Sejumlah upaya keras membangkitkan kembali usaha teh rakyat tak kenal lelah terus dilakukan sejumlah pihak.

    Sejak 1-2 tahun terakhir, gambaran kembali bangkitnya usaha kebun teh rakyat di Jawa Barat sudah terlihat pada sebagian wilayah di Jawa Barat. Gambaran yang diperoleh, ratusan hektare areal kebun teh rakyat di Garut, Subang, Purwakarta, Sukabumi, dan Sumedang, kini kembali bangkit usahanya melalui citra produk sehat, baik dengan menghasilkan pucuk teh maupun produk setengah jadi berupa teh hijau serta teh hitam.

   Gambaran demikian menunjukkan situasi sebagian usaha teh rakyat di Jawa Barat mulai pulih dimana petani pemilik kebun tak lagi berkeluh kesah berkepanjangan. Suara optimisme dan kegembiraan yang terdengar karena usaha tanaman teh kini kembali mampu menjadi andalan hidup.

    Dari sejumlah petani pekebun teh anggota kelompok tani yang ditemui pada pertemuan di Bandung, pekan lalu, pulih dan mulai bangkitnya usaha teh rakyat di kelompoknya masing – masing karena keberhasilan mendongkrak produksi dan sistem penjualan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Khusus untuk soal produksi adalah keberhasilan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara ramah lingkungan menggunakan agensi hayati dan pestisida nabati.

    Berdasarkan referensi umum tanaman teh, akibat serangan OPT biasanya terjadi kehilangan produksi berkisar 30 – 40%. Salah satu cara utama mengendalikan atau menekan terjadinya kondisi tersebut adalah cara perlindungan tanaman sehingga produktivitas dan kualitas tanaman tetap optimal.

  Kepala Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat di Pasirjati, Bandung, Dede Wahyu, menyebutkan pulihnya ratusan hektare kebun teh rakyat pada lima kabupaten tersebut lebih kepada kedisplinan para petani dan kelompoknya dalam menerapkan penangan tanaman secara ramah lingkungan. Teknisnya diperoleh melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) yang menekankan penggunaan agensi hayati dan pestisida nabati dari aneka tanaman dan tumbuhan yang ada di sekitar kebun teh itu sendiri dengan basis agroekosistem seperti jamur, bakteri, virus, pestisida botani, jagung, dll.

  Mengapa bisa demikian, menurut Dede, perlakuan agensi hayati dan pestisida nabati terbukti mampu menekan biaya produksi dalam pengendalian hama, menjadikan tanaman lebih sehat dan alami serta unsur hara tanah menjadi kembali subur dan mampu menyimpan kandungan air yang dibutuhkan bagi pertumbuhan pucuk teh. Saat musim kemarau seperti sekarang, biasanya serangan hama hileud jeungkal sangat merajalela ke tanaman teh, tetapi pada kelompok – kelompok petani teh bersangkutan dapat dikendalikan atau ditekan sehingga produksi pucuk tetap baik.

  Dicontohkan, diantara bahan- bahan alami yang banyak digunakan adalah biji jagung untuk pengembangan media tumbuh Trichoderma sp. dan Beauveria sp. Dalam praktiknya, jamur Beauveria bassiana digunakan untuk pengendalian hama hileud (ulat) jeungkal dan hama Helopeltis sp. pada tanaman teh, sedangkan Trichoderma sp digunakan untuk pengedalian penyakit jamur akar putih.

  Dede membandingkan dengan kondisi banyaknya tanaman teh yang mati atau produksinya terganggu serangan hama hileud jeungkal di Kabupaten Cianjur. Jika para petaninya sejak awal rajin menggunakan agensi hayati dan pestisida nabati, sebenarnya serangan hama hileud jeungkal dapat ditekan seminim mungkin pada musim pancaroba kemarau basah 2016 ini.

  “Karena perlakuan agensi hayati dan pestisida nabati pula ratusan areal teh rakyat di Jawa Barat mampu eksis berproduksi baik sejak tahun 2015 lalu. Padahal, pada masa itu sedang kemarau panjang, pucuk teh biasanya nyaris tak tumbuh dan banyak tanaman meranggas, tetapi pada kemarau panjang tahun 2015 produksi pucuk tetap baik, apalagi saat kemarau basah tahun 2016 ini,” ujar Dede.

  Fenomena tersebut, katanya menjadikan penghasilan masyarakat desa dari usaha kebun teh rakyat menjadi kontinyu sepanjang tahun, dari usaha berkebun maupun tenaga kerja memetik pucuk teh. Tentunya, fenomena ini juga menjadikan salah satu hal yang mampu menurunkan tingkat kemiskinan di pedesaan karena usaha para petani pekebun teh menjadi kontinyu bahkan pada musim kemarau sekalipun.

   Disebutkan, gencarnya sosialisasi dan pelatihan SLPHT kepada para petani pekebun, termasuk teh, kopi, kakao, dan karet, dengan mengandalkan sejumlah klinik hama dan penyakit tanaman perkebunan. Melalui klinik tanaman tersebut, para petani pekebun mampu menghasilkan tanaman, termasuk teh yang steril residu pestisida.

   Dengan cara tersebut, produktivitas tanaman teh sejumlah petani yang menjadi binaan kini naik rata – rata 30% - 40%, temasuk saat musim kemarau. Soalnya, produktivitas tanaman teh diketahui menjadi salah satu faktor utama yang menentukan hasil usaha dari komoditas ini.

  Dede mengatakan, klinik tanaman perkebunan tersebut menghasilkan ekstrak agensi hayati dan pestisida nabati untuk dimanfaatkan lagi oleh para petani pekebun. Sebenarnya Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat ingin memperluas jangkauan klinik tanaman perkebunan tersebut yang diharapkan mampu menjangkau 11 Kabupaten. (Kodar Solihat/”PR”)

 Sumber Harian Umum Pikiran Rakyat, Rabu 3 Agustus 2016 Kolom Agribisnis Hal 15

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id