BPTP JAWA BARAT
BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN
PROVINSI JAWA BARAT
Informasi / Berita/Artikel

Rumah Budaya Teh Di Dago Tea House

  Sep 08, 2016     Admin BPTP  

oleh Reza Dwi Nurdina

Teh merupakan minuman yang banyak dinikmati masyarakat di dunia, termasuk pula di Indonesia. Perkenalan teh di Indonesia, bermula dari Dr. Andreas Cleyer seorang warga negara Belanda membawa teh sebagai tanaman hias pada tahun 1648. Lalu tahun 1728, Pemerintahan Belanda mulai mendatangkan biji-biji teh dari negeri Cina ke pulau Jawa. Pada tahun 1826, teh ditanam di Bogor, kemudian tahun 1829 teh ditanam di Cisurupan – Garut, Wanayasa – Purwakarta. Pada tahun 1833, J.I.L.L Jacobson membawa 7.000.000 bibit teh dari China untuk ditanam di dekat kawasan Wanayasa - Purwakarta. Bibit teh dari Assam (India) dan Ceylon (Srilangka) dibawa ke Jawa tahun 1878 dan 1886.

Setelah itu, perkebunan teh di Indonesia berkembang cepat. Tahun 1889, teh ditanam di Puncak Lembang, Sanggau Ledo, Kalimantan Barat oleh Karel Albert Rudolf Bosscha. Sampai 1924, terdapat 280 perkebunan teh di Indonesia seluas 19.000 Hektar. Di tahun 1936, perkebunan teh bertambah menjadi 293 kebun. Terdapat 247 perkebunan teh di Jawa dan yang terluas terletak di Jawa Barat, dengan jumlah 223 kebun teh.

Pada pertengahan abad 19, Jawa Barat khususnya kawasan Bandung Utara menjadi tempat berkumpulnya para pembesar Belanda. Di kawasan Bandung Utara terdapat suatu wilayah yang sekarang dikenal dengan Dago. Dago berasal dari kata “Silih Dagoan” yang artinya saling menunggu. Pada awalnya wilayah ini merupakan daerah hutan belukar yang sepi, jalannya belum bisa dilalui oleh kendaraan. Maka para penduduk yang pergi pagi buta ke pasar biasanya saling menunggu satu sama lain agar dapat pergi dalam bentuk rombongan. Pada tahun 1920 pemerintah Belanda bersama Bandoengsche Comite tot Natuurbescherming (Komite Perlindungan Alam Bandoeng) membangun Dago Thee Huis. Komite ini didirikan tahun 1917 dengan pimpinan W. Docter van Leeuwen (Direktur Kebon Raya Bogor).

Pada masanya Dago Thee Huis merupakan tempat favorit para pembesar Belanda yang datang untuk bersantai dan beristirahat menikmati pemandangan kota Bandung yang terlihat jelas dari Dago Thee Huis. Dago Thee Huis atau sekarang lebih akrab dengan sebutan Dago Tea House juga menjadi tempat para pembesar Belanda memilih teh - teh terbaik yang dihasilkan wilayah priangan untuk dijadikan komoditas ekspor unggulan Belanda.

Pada awal kemerdekaan, tahun 1960 an Presiden Soekarno berkunjung dan beristirahat di Dago Tea House. Tradisi ini dilanjutkan oleh Presiden Soeharto yang berkunjung dalam rangka KTT Non Blok pada tahun 1992. Pembangunan Lanjutan Dago Tea House menjadi Rumah Budaya Provinsi Jawa Barat dengan taman budaya tipe A mulai dilakukan pada tahun 1988 - 1989 melalui Depdikbud bidang kebudayaan. Kini Dago Tea House selain difungsikan sebagai tempat pengolahan seni dan budaya juga menjadi tempat pengembangan teh. Walaupun tidak sama seperti pada masanya dahulu, sekarang pengembangan teh dilanjutkan oleh Arafatea dengan mengemban misi membudayakan kembali minum teh di Tanah Priangan.

 

Sumber :

-Kunto, H. 1985. Semerbak Bunga di Bandung Raya. Penerbit Granesia.

-Kuswandi. 2011. Bamboo House. The Collections of Parahyangan Traditional Farmer Culture and Indonesian Tea History. Penerbit Tafio Total Solusi.

-Anonim. 2015. Sejarah Kolam Renang Centrum dan Dago Tea House –Bandung. Available on https://annunaki.me/2015/08/28/sejarah-kolam-renang-centrum-dan-dago-tea-house-bandung/ akses tanggal 7 September 2016 pukul 14.30 WIB).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TENTANG KAMI

BPTP Pasirjati Bandung Jawa Barat menjadi Unit Kerja yang memberikan pelayanan PRIMA kepada Masyarakat Perkebunan di bidang Operasional Perlindungan Tanaman Perkebunan

FOLLOW US
BRIGADE PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Jalan Pasirjati Km 10 Ujungberung, Bandung, Jawa Barat

Telp / Fax 022-7804075
Email : bptp_disbun@yahoo.co.id