•    
  •    
  •    
  •    

Mengenal Kopi Arabika Java Preanger (KAJP) Yang Telah Mendapat Perlindungan Indikasi Geografis

04 Oktober 2016 Dibaca: 7131x

Kopi  Arabika  Java  Preanger  

Banyak pandangan, pendapat dan sebutan tentang kopi asal Jawa Barat. Secara umum orang mengenal dan menyebutnya kopi Java Preanger, memang tidak salah...karena sejak zaman Belanda kopi asal Jawa Barat sangat dikenal dengan sebutan “Java” dan karena pertama kali kopi ditanam di daerah priangan maka julukan yang dikenal masyarakat luas adalah “Java Preanger”. Sejak itu kopi asal Jawa Barat selalu disebut Kopi Java Preanger, baik kopi jenis arabika maupun kopi jenis robusta, hingga kini sebutan tersebut masih sangat melekat di masyarakat, setiap kopi yang dibudidayakan di Jawa Barat masih disebut kopi java preanger.

Bangkitnya semangat, minat dan motivasi petani kopi, memberikan arti tersendiri bagi pemerintah Jawa Barat, apalagi saat itu Gubernur sangat konsen memperhatikan penyerapan tenaga kerja di segala aspek. Melalui Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, pada tahun 2011 Gubernur memberikan fasilitas Unit Pengolahan Hasil (UPH) bagi petani kopi di 4 Kabupaten (Bandung, Bandung Barat, Garut dan Ciamis) dengan tujuan meningkatkan serapan tenaga kerja dan meningkatkan mutu kopi Jawa Barat.  Pada tahun yang sama perlindungan indikasi geografis kopi arabika java preanger mulai diproses, baik pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) maupun penyusunan buku dan peta indikasi geografis yang akan digunakan sebagai persyaratan untuk memperoleh Indikasi Geografis.

Tahap awal perlindungan indikasi geografis yang diajukan hanya terbatas pada Kopi Arabika yang berdasarkan hasil uji mempunyai citarasa khas dan unik. Citarasa khas dan unik tersebut terbatas pada kopi arabika yang di tanam pada ketinggian di atas 1.000 meter dan kebetulan berada di wilayah  Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Malabar, Gunung Caringin, Gunung Tilu, Gunung Patuha, Gunung Halu, Gunung Beser, Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Manglayang.  Untuk memastikan citarasa khas yang dimiliki kopi asal 11 Gunung tersebut, dan untuk memperoleh citarasa spesifik maka dilakukan pengujian yang lebih detail lagi sehingga terpilahlah 2 varian. Kedua varian inilah yang dilindungi melalui sertifikat indikasi geografis.

Kini Kopi Arabika Java Preanger telah mendapatkan Indikasi Geografis (IG) dengan No. ID G 000000022 dari Kementerian Hukum dan Ham, yang secara resmi diumumkan pada tanggal 5 Juni 2013 – 5 September 2013 oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual dan diserahkan oleh Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia kepada Wakil Gubernur Jawa Barat  pada tanggal 22 Oktober 2013. Perlindungan Hak Indikasi-Geografis tersebut diberikan selama karakteristik khas dan kualitas yang menjadi dasar bagi perlindungan atas Indikasi Geografis tersebut masih ada.  Sertifikat Indikasi-Geografis dilampiri dengan buku persyaratan yang tidak terpisahkan dari sertifikat tersebut, dengan demikian segalah hal yang berkaitan dengan Kopi Arabika Java Preanger tertuang dalam buku persyaratan, baik mengenai cara panen, cara pengolahan, produk yang diperjual belikan, mutu produk maupun kode pemasar. Tentunya untuk tetap menjaga karakteristik sesuai yang dipersyaratkan, selayaknya amanat yang tertuang dalam buku tersebut dijalankan dan dipatuhi.

Dari berbagai karakter kopi Jawa Barat hanya tiga karakteristik kopi yang dirujuk dengan indikasi geografis “Kopi Arabika Java Preanger” yaitu :

  1. Berasal dari tanaman kopi jenis Arabika yang ditanam di dataran tinggi Priangan di Provinsi Jawa Barat, yaitu wilayah-wilayah yang memiliki agroklimat yang cocok untuk budidaya kopi jenis Arabika. Ditanam pada wilayah dataran tinggi dengan ketinggian tempat minimal 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl), yang memiliki udara yang dingin dan kering, serta curah hujan antara 2.000 – 3.000 mm/tahun dan bulan basah antara 6-7 bulan setiap tahunnya.
  2. Berasal dari tanaman kopi Arabika yang terbentuk dari varietas-varietas terseleksi dan unggul, yang ditanam di bawah pohon naungan dan dibudidayakan dengan pada prinsip-prinsip ekologis yang memperhatikan kelestarian lingkungan, serta dipupuk terutama dengan menggunakan pupuk organik dengan konsep pertanian Input Luar Rendah atau Low Ekternal-Input and Sustainable Agriculture (LEISA).
  3. Varietas kopi Arabika yang dibudidayakan adalah kopi arabika varietas Ateng, Linea 795, Sigararutang, Kartika, Timtim dan Andung Sari.

Batasan mengenai KAJP juga tertuang jelas dan tegas dalam buku persyaratan indikasi geografis.  Kopi Arabika Java Preanger (KAJP) adalah kopi dari jenis Arabika yang diproduksi oleh petani di wilayah Priangan dan ditanam di dataran tinggi Priangan pada ketinggian minimal 1.000 meter diatas permukaan laut (dpl). Untuk perlindungan indikasi geografis, dalam sertifikat   cita rasa KAJP dibedakan ke dalam 2 (dua) varian, 1). Kopi Arabika Java Preanger (KAJP) Bandoeng Highland dan Kopi Arabika Java Preanger (KAJP) Soenda Mountain.  Yang termasuk ke dalam KAJP Bandoeng Highland, merupakan kopi yang ditanam di wilayah: Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Malabar, Gunung Caringin, Gunung Tilu, Gunung Patuha, Gunung Halu, Gunung Beser.  Sementara yang termasuk ke dalam KAJP Soenda Mountain, merupakan kopi yang ditanam di wilayah: Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Manglayang. KAJP memiliki kualitas rasa yang unik yang ditandai dengan komponen: Uniformity, Clean up, Sweetness, Flavor, Acidity, dan Balance.

Aspek lain yang perlu mendapat perhatian, mengenai ragam produk yang dihasilkan. Sesuai apa yang tertuang dalam buku persyaratan Indikasi Geografis (IG), produk Kopi Arabika Java Preanger terdiri dari : Kopi biji (green bean atau coffee bean), Kopi sangrai (roasted bean atau roasted coffee), dan Kopi bubuk (ground coffee). Kopi Arabika Java Preanger tersebut diproduksi menurut Standar Operasional Prosedur (SOP) tertentu yang telah disepakati dan ditetapkan oleh Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Java Preanger.  Untuk tetap menjaga mutu dan kualitas yang telah distandarkan maka cara pengolahan KAJP harus memenuhi cara penanganan dan pengolahan yang telah dipatenkan di dalam buku MPIG, yaitu:

Buah kopi yang sudah matang/merah dipanen secara manual, dipetik satu per satu dengan menggunakan tangan dan dipilih dengan cara seksama sehingga persentase gelondong merahnya minimal 95%. Lalu buah kopi diolah melalui proses perambangan, pengupasan kulit merah dan pemeraman menjadi biji kopi basah berkulit tanduk. Biji kopi diolah dangan cara Olah Basah Giling Kering (OBGK) atau Olah Basah Giling Basah (OBGB).

Nama Kopi Arabika Java Preanger hanya bisa digunakan untuk kopi asli/ murni bahan baku bersumber dari KAJP artinya  harus memiliki komposisi 100 % Kopi Arabika Java Preanger. Campuran kopi tidak bisa dijual dengan menggunakan nama KAJP. 

Jenis produk KAJP yang dipasarkan bisa dalam bentuk:

  1. Kopi Biji HS (kopi biji berkulit tanduk)
  2. Kopi Biji Ose/Greenbean (kopi biji tidak berkulit tanduk atau kopi beras)
  3. Kopi Sangrai/Roasted
  4. Kopi Bubuk

Pemasaran produk KAJP dapat dilakukan melalui pemasar yang menjadi anggota MPIG KAJP atau melalui pemasar yang bukan anggota MPIG KAJP. Masing-masing pemasar dicatat oleh MPIG KAJP dan diberi nomor kode.  Pemberian nomor kode keterunutan untuk produk berupa biji kering HS atau Ose/Greenbean asal olahan dengan teknik OBGK atau OBGB dilakukan sebagai berikut:

BH/SM-AA-BB-CC-DD-EE-FF-GG

BH/SM        = Bandung Highland/Sunda Mountain

AA              = Nomor Petani dalam Kelompok Tani

BB              = Nomor Kelompok Tani

CC              = Nomor UPK pengolah menjadi biji kering HS atau Ose

DD              = Bentuk Produk (11 = OBGK HS; 12 = OBGK Ose; 13 = OBGB

                     HS; 14 = OBGB Ose)

EE               = Nomor Pemasar

FF               = Bulan Panen

GG              = Tahunn Panen

Pemberian nomor kode keterunutan untuk produk berupa biji kopi sangria dan kopi bubukasal biji kering olahan OBGK atau OBGB dilakukan sebagai berikut:

BH/SM-AA-BB-CC-DD-EE-FF-GG-HH

BH/SM        = Bandung Highland/Sunda Mountain

AA              = Nomor Petani dalam Kelompok Tani

BB               = Nomor Kelompok Tani

CC              = Nomor UPK pengolah menjadi kopi biji kering HS atau Ose

DD              = Nomor UPK pengolah menjadi biji sangria atau kopi bubuk

EE               = Bentuk Produk (21 = OBGK Sangrai; 22 = OBGK Bubuk;

                     23 = OBGB Sangrai; 24 = OBGB Bubuk)

FF               = Nomor Pemasar

GG              = Bulan Panen

HH               = Tahunn Panen

Artinya semua kemasan dan paket kopi terjual dengan sertifikat Indikasi Geografis harus mencakup :

  1. Nama Indikasi Geografis Kopi Arabika Java Preanger,
  2. Label atau Logo Indikasi Geografis Kopi Arabika Java Preanger, dan
  3. Kode lot.

Keunggulan Kopi Java Preanger

Sejarah mencatat dan pengakuan dunia pun membuktikan kembalinya citra Kopi Arabika Java Preanger (KAJP) terangkat melalui perhelatan SCAA di Atlanta Amerika Serikat pada bulan April lalu. Ke enam Kopi Arabica Java Preanger (KAJP) yang mewakili Indonesia merupakan kopi terbaik Jawa Barat dan memiliki beberapa keunggulan aroma yang  kuat, cita rasa khas (unik). Aroma yang jelas tercium adalah aroma Blueberry, Floral, Jasmine, sweet aftertaste, vanilla, lychee. Apricot, Caramel,  sweet finish, full body. Fruity, Lime Acidity, Maple Syrup,  Slightly Floral, Clean Finish Nutty, Ripe Cherry, Slightly Floral, Toffee, Dark Chocolate. Apple, Vanilla note, Roasted Peanut, Sweet Melow, Honey.  

Selain itu kopi ini bisa dikatakan kopi yang ringan atau smooth. Tentunya untuk para pecinta kopi dengan citarasa lembut dan aroma yang unik, Kopi Arabika Java Preanger dapat dijadikan sebagai pilihan yang tepat untuk menemani aktivitas sehari-hari, untuk melahirkan ide-ide briliyan dan juga untuk bersantai.   


Sumber : Berbagai Sumber
Penulis : Siti Purnama