•    
  •    
  •    
  •    

Sistem Tanam JURING GANDA Tingkatkan Produksi Tebu di Sumsel

10 Oktober 2018 Dibaca: 131x

Bandung 10 Oktober 2018. Tanaman perkebunan yang cukup potensial di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan adalah tebu (26.705 ha). Pada tahun 2013, perkebunan tebu rakyat mencapai 403 ha dengan produksi 23.220 ton yang dikelola oleh 133 KK petani. Sementara itu, PG Cinta Manis mengelola areal pertanaman tebu seluas 12.857 ha dengan produksi 662.008 ton. Untuk masa giling 2015, luas areal perkebunan tebu rakyat mengalami penurunan menjadi 289,8 ha. Sedangkan untuk masa giling 2016, naik menjadi 332,7 ha. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi adalah dengan penambahan populasi tanaman per satuan luas lahan yang digunakan. Pola tanam juring ganda dapat meningkatkan populasi tanaman hingga 45,74%. Pola tanam juring ganda mirip dengan pola tanam jajar legowo 2:1 pada budi daya padi.

Gambar 1. Pertanaman tebu dengan sistem tanam juring tunggal (bawah) dan juring ganda (atas).

Juring ganda dengan PKP 130/50 bisa didapatkan faktor juring 11.000, dibandingkan dengan juring tunggal dengan PKP 130 yang mempunyai faktor juring 7.600. Dalam rangka mensosialisasikan teknologi pola tanam juring ganda bagi petani tebu di Kabupaten Ogan Ilir, BPTP Sumatera Selatan bekerja sama dengan PG Cinta Manis membuat demplot bongkar ratoon tebu dan penanaman dengan sistem tanam juring tunggal dan juring ganda. PKP yang digunakan adalah 130/50 untuk juring ganda dan 130 untuk juring tunggal (Gambar 1).

Rekomendasi pemupukan yang digunakan merujuk pada rekomendasi pemupukan yang dikeluarkan oleh PG Cinta Manis untuk daerah setempat, yaitu 300 kg urea, 300 kg TSP, dan 400 kg KCl, untuk tiap hektar tanaman tebu dengan sistem tanam juring tunggal. Sedangkan dosis pemupukan yang dilakukan untuk juring ganda adalah 429 kg urea, 429 TSP, dan 572 KCl per hektar, atau 43% lebih banyak dibandingkan dosis pupuk juring tunggal. Hasil demplot menunjukkan bahwa sistem tanam juring ganda meningkatkan faktor juring dari 7.600 dengan juring tunggal menjadi 11.000 dengan juring ganda. Populasi tanaman juga meningkat, dari sekitar 110.200 batang pada sistem tanam juring tunggal menjadi sekitar 160.600 batang pada juring ganda, atau meningkat sekitar 45,74%, dengan peningkatan produksi 21,42%.

 

Meski demikian, dengan populasi yang lebih rapat tersebut pertumbuhan tebu tidak mengalami hambatan. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap tinggi, diameter, dan berat batang per meter antara sistem tanam juring tunggal dengan juring ganda. Untuk kegiatan bongkar ratoon, sistem tanam juring ganda membutuhkan input yang lebih besar dibandingkan juring tunggal. Selain pupuk, kebutuhan benih untuk juring ganda 40% lebih banyak dibandingkan dengan juring tunggal. Analisis usaha tani menunjukkan bahwa sistem tanam juring ganda membutuhkan input 35,66% lebih tinggi dibandingkan dengan juring tunggal. Kebutuhan input yang dimaksud meliputi pembiayaan untuk benih, pupuk, herbisida, dan tenaga kerja. Dengan input yang lebih tinggi tersebut, petani dapat menikmati peningkatan pendapatan sebesar 16,64%. Hasil demplot ini secara umum menunjukkan bahwa sistem tanam juring ganda dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan pendapatan petani tebu di Sumatera Selatan.


Sumber : https://kabartani.com
Penulis : admin