•    
  •    
  •    
  •    

Rekomendasi Agar Kebun Kakao Lebih Tahan Terhadap Dampak Perubahan Iklim

26 November 2018 Dibaca: 39x

Kabartani.com – Dampak perubahan iklim sudah sangat terasa dalam kehidupan kita, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan sumber mata pencahariannya dari alam, termasuk pertanian dan kehutanan. Semakin besar tantangan iklim membuat posisi mereka terjepit. Pertanian kakao pun tidak terlepas dari tantangan iklim, meningkatnya temperatur dan berubahnya pola curah hujan menyebabkan dampak yang signifikan bagi produktifitas dan keberlanjutan pertanian kakao diseluruh dunia.

  • Meningkatnya temperatur dan kekeringan

Kekeringan adalah keadaan dimana terjadi curah hujan yang sangat sedikit dalam periode waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan menipisnya cadangan air. Kemungkinan besar yang akan terjadi di Sulawesi, terutama di Luwu Utara yaitu akan lebih sering terjadinya kekeringan yang berkepanjangan. Diperparah dengan meningkatnya temperatur udara, tanaman kakao akan menjadi layu dan tidak sehat. Selain itu, karena banyak hama pada kakao yang senang dengan temperatur yang lebih panas, hama seperti Helopeltis sp. akan berkembangbiak dengan pesat dan menyebabkan serangan yang besar bagi perkebunan kakao yang sudah menderita karena kekeringan. Sementara itu, organisme tanah seperti cacing tanah dan bakteri baik yang membantu menjaga kesehatan tanaman kakao juga akan menderita karena kekeringan, sehingga tidak lagi mampu melindungi tanaman kakao dari terpaan hama dan penyakit.

  • Perubahan pada pola curah hujan

Perubahan pada pola curah hujan seperti lebih lebatnya atau bahkan berkurangnya air hujan yang turun dapat mengakibatkan gugurnya bunga kakao sehingga mengurangi buah yang akan diproduksi. Dengan berubahnya kelembaban, tanaman kakao akan menjadi lebih rentan terhadap organisme yang menyebabkan penyakit (patogen) seperti jamur yang dapat menyebabkan kanker batang dan jamur upas. Patogen ini hidup subur pada kelembaban yang tinggi dengan sinar matahari yang sedikit. Dengan curah hujan yang berkepanjangan, proses pengeringan dan kualitas biji kakao akan terancam; tingginya kandungan air pada biji, proses pengeringan yang lama sehingga beresiko terkena kontaminasi jamur. Meningkatnya kelembaban juga akan menyebabkan busuk buah dan penyakit VSD (Vascular Streak Dieback). Hama seperti penggerek batang dan buah kakao juga menyukai kondisi ini. Yang tidak kalah pentingnya, curah hujan yang besar dan berkepanjangan akan menyebabkan banjir yang akan merusak kebun dan infrasktruktur yang ada di dalam kebun. Beberapa contoh dampak yang terjadi pada buah kakao yakni munculnya penyakit busuk buah, penggerek buah, kanker batang, penggerek batang, gugur bunga dan hilangnya nutrisi.

  • Hujan yang Berlebihan

Hujan yang berlebihan akan menyebabkan banjir dan erosi, danyang lebih buruk, longsor. Daerah pegunungan dan perbukitan seperti di Kolaka Utara menjadi sangat terancam. Situasi ini diperburuk oleh keadaan dimana penggundulan hutan dan penebangan pohon marak dilakukan. Setiap tahun, semakin banyak hutan yang ditebang untuk dijadikan lahan pertanian dan pertambangan. Dengan menebang pohon, kita juga menghilangkan semua kebaikan pohon yang dapat membantu produktifitas kebun kita, seperti meningkatkan kesehatan tanah, memberikan nutrisi dan menciptakan iklim mikro yang melindungi pohon kakao dari panas dan kondisi cuaca ekstrim.

Praktik pertanian yang baik dalam artikel ini telah dipilih berdasarakan rekomendasi Rainforest Alliance Sustainable Agriculture Standard (Standar Pertanian Berkelanjutan Rainforest Alliance).

  • Praktik Pengelolaan yang membantu mengatasi resiko perubahan iklim di kebun kakao

- Diversifikasi pohon pelindung 

Ini untuk meminimalisir dampak dari kekeringan dan kondisi cuaca ekstrim. Caranya yaitu dengan tanam dan kelola berbagai macam pohon pelindung yang sesuai dengan tanaman kakao di kebun. Beberapa contoh pohon yang baik untuk ditanam di Kolaka Utara dan Luwu Utara adalah durian, mahoni, sirsak, karena juga dapat menambah penghasilan petani. Pohon pelindung dapat membantu menciptakan kondisi tanah yang kondusif bagi kakao, menciptakan iklim mikro dan juga membantu penyerapan air hujan dan mencegah erosi. Namun penting diingat untuk mengelola pohon pelindung dengan cara yang benar dan menjaga kerimbunan pohon dalam ambang batas yang sesuai untuk menunjang pertumbuhan tanaman kakao. Jenis pohon yang dipilih harus berdasarkan karakteristiknya, misalnya jangan memilih pohon yang dapat berkompetisi merebut nutrisi dan air dengan tanaman kakao. Menampung air hujan juga akan membantu petani untuk mempersiapkan diri dan kebun untuk menghadapi kekeringan saat sumber air menipis.

  • Tanam lebih dari satu jenis klon kakao

Hal ini dilakukan agar kebun kakao anda lebih tahan dengan menanam beberapa jenis klon kakao yang memiliki karakteristik berbeda-beda, terutama yang tahan terhadap serangan hama, penyakit dan kekeringan.

Beragamnya klon pada kebun akan membantu petani mencegah kegagalan panen, karena masing-masing klon memiliki keunggulan tersendiri untuk menghadapi masalah-masalah tertentu seperti kekeringan, hama dan penyakit. Jika hanya menanam satu jenis klon, petani akan mengalami kegagalan panen ketika ada banyak tantangan iklim yang terjadi karena klon yang ditanam tidak bisa menghadapi semua tantangan.

  • Aplikasikan pengelolaan hama terpadu untuk mengatasi peningkatan atau munculnya hama dan penyakit baru

- Gunakan musuh alami dan cara mekanik untuk mengendalikan hama dan penyakit. Disamping menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan, penggunaan pestisida kimia dapat menyebabkan organisme hama menjadi kebal sehingga semakin susah untuk dikendalikan. Dengan mengaplikasikan strategi pengelolaan hama terpadu, misalnya dengan memanfaatkan musuh alami, akan mengurangi dampak buruk bagi lingkungan dan meningkatkan keanekaragaman hayati yang membawa berbagai dampak positif untuk kebun kakao, lingkungan dan kesehatan.

  • Gunakan pestisida nabati dari tanaman asli disekitar kebun (misalnya daun pohon nimba / intaran, daun pohon
    mahoni, daun sereh, dll).
  • Hindari penggunaan pestisida sintetis, terutama yang dilarang, karena mengandung bahan aktif berbahaya seperti paraquat diklorida, metamidofos, kaptafol, dll (lihat lampiran untuk lebih jelasnya).

Sebagai contoh, kita dapat menggunakan semut hitam (Dolichoderus thoracicus) untuk mengendalikan penggerek buah kakao. Kita dapat memperbanyak populasi semut ini dengan menternakannya pada daun kering kakao atau kelapa, yang kemudian setelah berkembang biak, dipindahkan di pohon kakao. Dengan melakukan hal ini, secara tidak langsung kita juga menjaga keberadaan pohon di kebun kita yang pada akhirnya memberikan dampak positif.


Sumber : https://kabartani.com/perkebunan
Penulis : admin