•    
  •    
  •    
  •    
24 Februari 2006 00:00:00 0
---
49 Sungai di Kota Bandung Kini Dalam Kondisi Kritis
Farid,”Sebagian Besar Terjadi Akibat Tingginya Sedimentasi”

Bagian kiri dan kanan Sungai
Cikapundung, akan ditertibkan,
sehingga inspeksi sebagai tindak
lanjut program `Cikapundung Bersih` akan mudah dilanjutkan.

BANDUNG, (PR).-
Sebanyak 49 sungai yang mengalir di Kota Bandung, tergolong kritis. Penyebabnya, siklus alamiah hujan sebagai pemasok volume air terbanyak, terganggu ulah manusia.

Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Pengairan Pemkot Bandung, Farid Mulyadi, kepada "PR", Kamis (23/2).

Menurut Farid, sungai kritis disebabkan pada daerah aliran sungai (DAS) telah terjadi berbagai sedimentasi (pelumpuran).

"Sedimentasi tersebut disebabkan karena air hujan yang turun terlebih dahulu ke dataran tinggi tidak tertahan, sehingga volume run off (air larian) tinggi, dan sebelum masuk ke sungai, menjadi aliran lumpur," ujar dia.

Kondisi tersebut, menurut Farid, makin parah saat musim hujan, di mana tanah yang terus-menerus diguyur hujan menjadi jenuh dan mudah terbawa aliran air. Saat musim kemarau, tanah tidak bisa menyerap air secara maksimal, sehingga persediaan air semakin berkurang.

Penuhnya sedimen yang mengendap di DAS, diperburuk lagi dengan menumpuknya sampah buangan masyarakat yang tinggal di perumahan liar sekitar DAS. "Belum lagi, pihak-pihak `nakal` yang membuang limbah ke sungai," ujar Farid.

Oleh karena itu, menurut Farid, saat ini pemkot akan berupaya menormalisasi bangunan-bangunan liar di sekitar Sungai Cikapundung, dari mulai Babakan Siliwangi hingga alun-alun. "Bagian kiri dan kanan Sungai Cikapundung, akan ditertibkan, sehingga inspeksi sebagai tindak lanjut program `Cikapundung Bersih` akan mudah dilanjutkan", katanya.

Hal itu, menurut Farid, terkait dengan upaya menuju pengadaan penataan air yang lebih baik. Misalnya, pemkot akan menguasai mata air-mata air yang berada di kawasan Ujungberung, untuk sebesar-besarnya digunakan bagi kepentingan masyarakat.

"Yang sedang dipelajari, rencana pembuatan DAM di belakang Universitas Parahyangan, untuk mengatur persediaan air di wilayah tersebut," ujar dia, seraya mengajak seluruh masyarakat agar menyadari kesalahan dalam mengubah ekosistem.

DAS kritis di Jabar

Di Jawa Barat sendiri, seperti diberitakan "PR" sebelumnya, 25 daerah aliran sungai di Jawa Barat kritis terutama DAS Cimanuk, Citarum, Ciliwung, dan Citanduy. Secara fisik, kerusakan DAS bisa dilihat dari warna air yang ada hitam serta beracun, karena sudah tercemar.

Akibatnya, air yang mengalir dari sungai itu, tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk budi daya perikanan atau lainnya. Pasalnya, daerah hutan di hulu telah banyak dibabat atau dijarah tanpa terkendali.

Kini, luas lahan hutan rusak atau kritis di Jabar, mencapai sekira 600 ribu ha. Untuk menanganinya, dibutuhkan dana Rp 9 triliun, dengan jangka waktu 9 tahun.

Kerap dikeluhkan

Kondisi buruk sungai di Kota Bandung akibat sedimentasi, kerap membuat warga kota kesal. Misalnya, tatkala Kali Citepus meluap beberapa waktu lalu, membuat sejumlah pemilik rumah di dekat sungai itu, terpaksa mengeluarkan barang-barangnya untuk menghindari genangan air yang menerobos masuk.

”Saya meminta Pemkot Bandung, serius menangani pelebaran Kali Citepus. Masa setiap banjir, rumah kita tergenang terus,” keluh Rahman (32), warga Jalan Bojongloa.

Selain menggenang rumah, banjir telah membuat lalu lintas di sekitar pertigaan Jalan Pasirkoja dan Jalan Bojongloa mengalami kemacetan.

Puluhan rumah lainnya di sepanjang sempadan Kali Citepus mengalami nasib serupa. Beberapa rumah di sekitar Jalan Haji Sapari hingga Pagarsih adalah korbannya. (A-159)***



Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/




Sumber : ---
File : 49 Sungai di Kota Bandung Kini Dalam Kondisi Kritis.doc | Dibaca : 25381 x

Komentar Berita

Asep midun @ 23 Januari 2010

Saya adalah penduduk asli wilayah Sukapura RT1/RW1 semenjak ada pembangunan kawasan pendidikan TELKOM polyteknik dan IM Telkom JL Babakan Ciamis kel.Sukapura Kec.Bojongsoang tepatnya DAS semua lahan HIJAU tanah milik Dinas Pengairan PU sudah tidak hijau lagi ( dari dinas PU pun tinggal “DIAM” dibiarkan tidak ada “TINDAKAN” atau “PERINGATAN” sama sekali ) sekarang hampir semua POHON pinggir sungai dan sukun yang sudah besar2 sebagai penyangga air lebih dari 500 M “DITEBANG ” ” TAK TERSISA” daerah Babakan Ciamis jadi tanah “EMAS ” dan ” GERSANG ” Ortu dari RW stempat malah memiliki lahan bisnis di Tanah PU ” pohon ditebang disulap jadi Warung / bangunan LIAR / lahan bisnis . Tanah Dinas Pengairan diperjual belikan sampai harganya selangit 1 meter harganya bisa mencapai 1 juta. Warung dan Bangunan liar tersebut banyak yang ” MEMBUANG SAMPAH KE SUNGAI” pengambilan sampah dan iuran hanya sebagai perisai, aliran sungai tersebut mengalir ke Bojongsoang, Baleendah, Dayeuhkolot /Citarum menjadi daerah “LANGANAN BANJIR ” PEMDA / DINAS PU /DPRD dimana KAU ….!!!!!



Jangan Tampilkan Email Saya