•    
  •    
  •    
  •    
30 Januari 2017 16:02:35 0
Konjen RI untuk South Australia Yayan GH Mulyana melakukan kunjungan persahabatan dengan Pemprov Jabar (Jumat 27/1/2017) di Gedogan Café, Jl. Cimanuk Kota Bandung, diterima oleh Kadisbun Jabar - Arief Santosa, Dirut PTPN VIII - Bambang Murtioso, Kepala Bi

BANDUNG- Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk South Australia “Yayan GH Mulyana” melakukan kunjungan persahabatan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada Jumat 27/1/2017 di Gedogan Café, Jl. Cimanuk Kota Bandung.

Turut hadir Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat (Arief Santosa), Direktur Utama PTPN VIII (Bambang Murtioso), Kepala Bidang Penelitian PPTK Gambung (Dr. Rohayati), Kepala Bidang Pengolahan, Pemasaran dan Usaha Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat (Yeyep Sudrajat), Kepala Bidang Produksi (Yayan C Permana), Kepala Bidang Sumber Daya Perkebunan (Agus Sutirman), Kepala Seksi Pemasaran Hasil (Neni Sutiana), staf terkait dari PTPN VIII dan PPTK Gambung.

Kunjungan yang sangat akrab tersebut merupakan lanjutan dari  kunjungan resmi Konjen RI Yayan GH Mulyana pada tanggal 23 Januari 2017 lalu di ruang kerja Sekretaris Daerah Jawa Barat (Sekda Jabar), Dr. Iwa Karniwa dalam rangka persiapan misi South Australia (SA) ke Jawa Barat untuk mengimplementasikan MoU Kerja sama Sister Province. Pada kesempatan tersebut, kedua pihak telah membahas sejumlah agenda yang akan menjadi fokus dari misi SA  yang merupakan salah satu pilar utama dari realisasi kerja sama Sister Province Jawa Barat – South Australia.

Hari ini merupakan kunjungan yang bersifat santai akan tetapi membawa nuansa serius sambil mencicipi berbagai macam teh khas Jawa Barat yang diracik oleh tangan-tangan trampil yang ahli dalam per tehan.  Dialog mengarah kepada ketertarikan Konjen akan cita rasa teh Jawa Barat yang menurutnya di Australia telah sering  di promosikan melalui minum teh bersama.

Pihaknya berjanji, sepulang dari Indonesia  akan melakukan dialog dengan mitra-mitra kerjanya di Australia terkait produk perkebunan khususnya teh dan kopi Jawa Barat yang menurutnya sangat khas dan enak rasanya.

Mulai dari teh putih atau white tea  yang konon katanya mengandung  antioksidan  tiga kali lebih banyak dibanding jenis teh lainnya.  Teh hitam yang berasal dari jenis Camellia sinensis.  Teh hitam memiliki banyak manfaat untuk kesehatan karena kandungan polifenol sebagai antioksidan yang dapat membantu sel tubuh dari kerusakan. Bersama dengan polifenol, kandungan katekin (catechin) dalam teh diduga dapat membantu mencegah kanker. 

Teh hijau, yang dihasilkan dari pucuk teh yang masih segar, tidak lama setelah dipetik segera dikeringkan dan dilanjutkan dengan proses kukus (steam).  Teh hijau adalah jenis teh yang juga tidak mengalami proses fermentasi akan tetapi mengalami proses pengeringan dan penguapan daun yang sedikit lebih lama dibandingkan teh putih.

Teh hijau alias green tea merupakan salah satu jenis teh yang cukup populer dikonsumsi, terutama di negara-negara Asia seperti Jepang dan Indonesia. Di Jepang, teh hijau (ryokucha) adalah teh yang sangat sering dikonsumsi sehingga bila disebut teh (ocha) kemungkinan besar yang dimaksud adalah teh hijau. 

Semua jenis teh mengandung katekin, akan tetapi saat ini teh hijau lebih populer karena kandungan katekinnya lebih tinggi dibandingkan dengan teh hitam. Sehingga teh hijau lebih dikenal sebagai jenis teh yang dapat mencegah pertumbuhan penyakit kanker.

Disela-sela dialog yang berlangsung sangat santai, Arief menyampaikan bahwa teh Jawa Barat telah pendapat perlindungan indikasi geografis dengan nama Teh Java Preanger yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan Ham RI pada tanggal 18 Juli 2016. Sertifikat ini diberikan dalam rangka Forum Kekayaan Intelektual Nasional 2016 dan diserahkan oleh Menteri Hukum & HAM Yasonna Laoly kepada Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar yang disaksikan langsung oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden, Jl. Kebon Sirih No. 14, Jakarta Pusat.

Menurut Arief, sertifikat ini penting bagi sebuah pengembangan produk daerah. Indikasi geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena faktor lingkungan geografis, termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari beberapa faktor tersebut memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Hal ini penting bagi negara kita, karena Indonesia memiliki beragam potensi atau kekayaan produk indikasi geografis yang dapat dimanfaatkan untuk perkembangan ekonomi nasional, katanya.

Untuk produk kopi telah terlebih dahulu mendapatkan sertifikat indikasi geografis dengan nama Kopi Arabika Java Preanger yaitu pada tanggal 22  Oktober 2013, ujar Arief.

Kepuasan akan cita rasa teh Jawa Barat dan informasi yang disampaikan oleh pakar per tehan Jawa Barat,  terpancar dari raut wajah Konjen.  Pihaknya tak henti henti merasa bangga bahwa tanah kelahirannya ternyata menyimpan produk yang diakui dunia.  Beliau bertekat akan mempromosikan produk teh ini dalam setiap event di Australia.



Sumber : Dinas Perkebunan
Dibaca : 1670 x

Komentar Berita


Jangan Tampilkan Email Saya