•    
  •    
  •    
  •    
08 Maret 2017 10:07:19 0
Wagub JABAR Membuka Acara Rapat Koordinasi dan Konsultasi Pembangunan Perkebunan 2017, Hotel Horison Bandung. 7 Maret 2017.

BANDUNG – Dalam rangka menselaraskan langkah untuk membangun perkebunan di Jawa Barat, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat mengelenggarakan Rapat Koordinasi dan Konsultasi Pembangunan Perkebunan Tahun 2017 di Kratau Room Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang 45, Turangga, Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat pada Selasa (7 Maret 2017).

Rakoor yang dihadiri kurang lebih 360 orang tersebut berlangsung dengan sukses dan sesuai target. Kehadiran Wakil Gubernur Jawa Barat, Asda II pemprov Jabar, Kepala Biro Produksi dan Industri pemprov Jabar, Dirjen Kementerian Pertanian, para Bupati/Walikota, para Asda II Kab/Kota, para Kepala OPD terkait tingkat provinsi, Kepala OPD terkait tingkat Kabupaten/Kota dan stakeholders lainnya membawa semangat dan nuansa tersendiri bagi kelancaran berlangsungnya Rakoor.

Dalam arahannya Deddy Mizwar (Deddy) menyambut baik atas diselenggarakannya Rapat Koordinasi ini, menurut pihaknya ini sebagai salah satu upaya bersama untuk memajukan pembangunan komoditas perkebunan di Jawa Barat. “Sektor perkebunan di Provinsi Jawa Barat kini masih menjadi kontributor utama perekonomian dan kesejahteraan masyarakat”, ucapnya.

Lebih lanjut Deddy menyampaikan, menurut statistik perkebunan, Jawa Barat memiliki perkebunan seluas 488.168 Ha atau sebesar 13,16% dari total luas Jawa Barat (3.7 hektar). Luas lahan perkebunan tersebut terdiri dari Perkebunan Besar Negara 68.850 Ha (14.10%), Perkebunan Besar Swasta 54.633 Ha (11.10%) dan Perkebunan Rakyat 364.685 Ha (74.70%). Sumber daya manusia petani yang terlibat dalam pembangunan perkebunan di Jabar sebanyak 1.381.775 kepala keluarga, 5.543 kelompok tani dan 10 asosiasi komoditas perkebunan.

"Besarnya potensi perkebunan ini bisa kita lihat dari banyaknya komoditas yang dikembangkan, dan perlu mendapat perhatian dari segenap stake holder perkebunan Jawa Barat baik Pemerintah maupun swasta,” kata Deddy. Komoditas perkebunan yang dikembangkan itu, lanjut Deddy, ada sebanyak 32 komoditas yang terbagi menjadi 4 kelompok. Pertama adalah Komoditas Strategis, terdiri dari komoditas kopi, teh, karet, kakao, kelapa, cengkeh, tebu dan tembakau. Kedua adalah Komoditas Prospektif, diantaranya kemiri sunan, kelapa sawit, kelapa hibrida, aren, pala, lada, nilam, jambu mete, kayu manis, kemiri, panili dan jarak. Selanjutnya ada Komoditas Unggulan Spesies Lokal, yaitu akar wangi, sereh wangi, kina, kenanga, mendong, pandan, guttapercha, kumis kucing, pinang dan kapok. Terakhir yaitu Komoditas Rintisan, diantaranya Kenaf dan Indigofera.

"Jumlah produksi dari semua komoditas itu mencapai 540 ribu ton lebih," ungkap Deddy. Sementara, tiga komoditas masih menjadi komoditas tertinggi, yaitu kelapa sawit sebesar 175.169, teh 92.317 ton dan kelapa dalam 88.674 ton.

Melalui Rakor pembangunan perkebunan Jabar itu Deddy berharap terjalin kerjasama yang lebih sinergis antar seluruh pemangku kepentingan termasuk swasta dan masyarakat untuk bersama-sama mengakselerasi kemajuan agribisnis perkebunan di Jawa Barat, terlebih saat ini berada di era Masyarakat Ekonomi Asean. "Ini mutlak dibutuhkan peningkatan daya saing produk perkebunan agar mampu bersaing dengan produk negara lain dan menjadi komoditas unggulan ekspor," ucap Deddy.

Pihaknya juga menyinggung komoditas yang lagi trend di Jawa Barat yaitu kopi,   komoditas ini  menunjukan perkembangan yang cukup pesat beberapa tahun terakhir ini. Tentunya didukung oleh tren peningkatan minum kopi  secara global yang berimbas pada permintaan bahan baku kopi.  Fenomena  ini ditangkap sebagai peluang pasar bagi para petani dan pelaku kopi di Jawa Barat yang tergabung dalam Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Arabica Java Preanger dan mendapat pengghargaan sebagai kopi terbaik pada acara SCAA di Atlanta  Amerika pada bulan April tahun 2016.

Tentunya disamping keberhasilan tersebut, masih dirasakan beberapa kendala dan hambatan dalam upaya pembangunan perkebunan yang perlu mendapat dukungan dari semua pihak, terutama dari pemerintah pusat, seperti masih lemahnya sumber daya dan kelembagaan petani perkebunan, kondisi tanaman tua dan rusak belum sepenuhnya diremajakan, alih fungsi lahan perkebunan ke non perkebunan dan semakin menurunnya daya dukung lahan. 

Berbagai upaya telah dilakukan Pemerinah Daerah Provinsi Jawa Barat untuk mendukung pembangunan perkebunan di Jawa Barat melalui berbagai program dan kegiatan unggulan, antara lain bantuan Gubernur untuk benih kopi dari tahun 2014-2017 yang sampai tahun 2016 telah disalurkan sebanyak 5.000.000 pohon, rencana tahun ini akan disalurkan 5.000.000 pohon lagi, ucapnya.

Arahan Deddy tersebut senada dengan arahan Direktur Jenderak Perkebunan (Ir. Bambang, MM) sesaat sebelum menyerahkan penghargaan kepada Gubernur Jawa Barat atas perhatian dan dukungan Gubernur terhadap pembangunan perkebunan di Jawa Barat.  

Bambang mengamini beberapa tahun terakhir ini kondisi kesejahteraan para pekebunnya terus mengalami penurunan, akibat dari  menurunnya produktivitas dan mutu hasil yang ditengarai disebabkan oleh kondisi tanaman yang tua dan rusak, penggunaan bahan tanaman yang kurang baik, kurangnya pemeliharaan tanaman dan masih tingginya kehilangan hasil karena gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) serta anomali iklim.

Bambang juga meyakini bahwa penyelenggaraan pembangunan perkebunan saat ini terutama untuk perkebunan rakyat, dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas budidaya melalui penyediaan bahan tanaman unggul, perluasan areal tanam, intensifikasi, peremajaan, rehabilitasi tanaman, perbaikan penanganan pasca panen dan pengolahan hasil, pembinaan usaha, penanganan gangguan hama penyakit, faktor iklim dan gangguan usaha serta pembinaan SDM dan kelembagaan petani perkebunan.

“Kelembagaan petani menjadi salah satu aspek penting yang sangat menentukan di perkebunan rakyat. Kedepan perlu dilakukan kegiatan pengembangan agrowisata perkebunan yang berbasis wisata alam di wilayah kabupaten. Kegiatan ini membutuhkan dukungan berbagai pihak, diantaranya infrastruktur dan sarana transportasi, katanya”. 



Sumber : Disbun Jabar
Dibaca : 1459 x

Komentar Berita


Jangan Tampilkan Email Saya