•    
  •    
  •    
  •    
07 Agustus 2017 08:27:24 0
Bench Marking yang diikuti oleh para pejabat struktural dan fungsional tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota dalam rangka penyusunan buku Pengembangan Tembakau di Jawa Barat. Mataram, 1 Agustus 2017.

MATARAM – Kepala Bidang Sumber Daya Perkebunan (SDP) Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat (Ir. Agus Sutirman, MP.), bertindak selaku pempinan rombongan Bench Marking Data/Informasi Tembakau ke Provinsi Nusa Tenggara Barat. 

Bench Marking yang diikuti oleh para pejabat struktural dan fungsional tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota tersebut diagendakan dalam rangka penyusunan buku Pengembangan Tembakau di Jawa Barat.

Dalam sambutan perkenalannya di Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Agus menyampaikan salam hormat dari Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat “Arief Santosa” sekaligus memperkenalkan rombongan yang dipimpinnya. Beliau menuturkan, kunjungan serupa sudah sangat sering dilakukan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat sejak beberapa tahun lalu mengingat NTB merupakan provinsi tembakau yang layak dijadikan soko guru dalam mengelola pertembakauan, baik dari aspek teknik budidaya maupun aspek pemasaran dan kemitraan.

Pihaknya mengatakan di Jawa Barat terdapat 31 jenis komoditas binaan Dinas Perkebunan Provinsi yang dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu 1). Komoditas strategis (Teh, kopi arabika dan robusta, kelapa, karet, kakao, cengkeh, tebu dan tembakau), 2). Komoditas prosfektif (Kemiri sunan, kelapa sawit, kelapa hibrida, aren, pala, lada, nilam, jambu mete, kayu manis, kemiri, vanili dan jarak), 3). Komoditas Unggulan spesifik lokal (akar wangi, sereh wangi, kina, kenanga, mending, pandan, gutta-percha. Kumis kucing, pinang dan kapok).

Lebih lanjut disampaikan bahwa salah satu komoditas strategis tersebut adalah tembakau yang tersebar di 12 kab/kota dengan total luas 10.124 Ha, jadi luas areal pertanaman tembakau masih dibawah NTB, ujarnya.

Mengenai pengelolaan komoditas ini di Jawa Barat, menurut Agus secara umum telah dikerjakan dari hulu hingga hilir oleh karenanya para petaninya pun telah mampu mengolah sendiri, sama hal nya dengan di NTB, namun produk akhir yang dihasilkan sedikit berbeda, mengingat jenis tembakau yang dibudidayakan pun berbeda, kata nya.

Agus mengatakan, alasan kunjungan ke NTB tidak lain karena NTB lebih maju dalam segala hal khususnya penanganan tembakau baik dari aspek budidaya, panen, pasca panen maupun aspek kemitraan dengan perusahaan- perusahaan besar. “Karena itulah kami ingin mengetahui strategi dan teknologi yang diterapkan di NTB, barangkali ada beberapa informasi yang bisa kami adopsi untuk dituangkan  dalam buku yang sedang kami susun, tentang  pengembangan tembakau di Jawa Barat”, ucap Agus mengakhiri sambutan perkenalannya di ruanga rapat Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat, jl. Pejagik No. 10 Mataram  pada Selasa (1/08/2017).

Gayung bersambut, Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB “Ir. Gusti Lanang Natha Surastha” mengungkapkan, dinasnya merupakan instansi baru karena gabungan dari Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan dan Bakorluh. Pihaknya mengamini NTB sebagai provinsi tembakau bahkan saat ini sedang proses pembahasan RUU tembakau bersama dengan Provinsi Jawa Tengah.

Dalam RUU ini akan diatur kepentingan para petani tembakau  dengan demikian  diharapkan para petani akan lebih bersemangat. “Jangan sampai UU ini lahir nantinya akan menyulitkan petani tembakau, karena sebelumnya juga di tingkat daerah sudah ada Peraturan Daerah untuk mengatur pertembakauan di NTB,” ungkapnnya.

“Apapun alasannya, NTB tetap berpihak kepada petani karena disadari atau tidak, tembakau tetap memberikan kontribusi bagi penghasilan petani walaupun dibalik itu ada yang mempekerjakan anak di bawah umur”, kata Lanang.

Lanang memaparkan, penanaman tembakau merupakan perekat yang memperkokoh hubungan masyarakat. Disamping itu, tembakau juga menjadi komoditas yang menyumbangkan sumber daya untuk pembangunan di tingkat masyarakat secara langsung. Oleh karena itu, dalam struktur ekonomi NTB bagian terbesarnya terletak pada hasil tembakau dan tenaga kerja yang terserap dalam produksi tembakau cukup besar, ujarnya.

Pihaknya mengamini bahwa tembakau berkontribusi besar dalam menekan angka pengangguran di Provinsi NTB, karena pada rantai  seluruh proses pertembakauan ini ada aktivitas ekonomi yang besar dan melibatkan banyak orang.

Komoditas tembakau terutama tembakau Virginia menjadi kultur masyarakat NTB, khususnya Lombok. “Menanam tembakau sudah menjadi kultur atau bagian dari kultur-kultur lain bagi masyarakat Lombok. Jadi, menanam tembakau di daerah sentral tembakau adalah aktivitas rakyat,  yang juga mempunyai dimensi sosial,”ujarnya.

Beliau menuturkan, Lombok Timur dan Lombok Tengah merupakan dua daerah sentra tembakau di NTB sekaligus memperoleh bagian paling besar untuk dana DBHCHT setiap tahunnya. Sebagian lagi untuk Lombok Barat dan Lombok Utara yang juga termasuk daerah penghasil.

Pihaknya mengatakan bahwa 3 tahun belakangan ini, produk tembakau yang dihasilkan saat ini tidak semua terwakili dari anggaran DBHCHT, banyak swadaya dan bantuan mitra petani. APBN juga sangat membantu walau hanya 3 Milyar, ucapnya.  

Namun demikian 1 bulan terakhir ini cuaca tidak menentu sehingga kondisi pertanaman tembakau pada lahan tanpa olah tanah (TOT) cukup bermasalah. Disisi lain adanya serangan OPT memperburuk kondisi pertanaman, tutur Lanang.

“Komoditas lain yang menjadi unggulan kami ada Coklat, Kapas, Jambu Mete dan Tebu. Untuk tembakau kebetulan saat ini sedang ada yang panen, dan ada yang mengolah, sehingga dapat kita lihat di lapangan langsung, katanya mengakhiri sambutannya.



Sumber : Disbun Jabar
Dibaca : 478 x

Komentar Berita


Jangan Tampilkan Email Saya