•    
  •    
  •    
  •    
09 Agustus 2017 08:24:07 0
Kepala Bidang Sumber Daya Perkebunan Disbun Jabar (Ir. Agus Sutirman, MP.) pimpin kunjungan ke kelompok tani “Pade Demen” di Desa Sengkerang, Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah. 1 Agustus 2017.

PRAYA TIMUR – Rombongan Bench Marking Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat yang dipimpin oleh Kepala Bidang Sumber Daya Perkebunan (SDP) Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat (Ir. Agus Sutirman, MP.), melakukan kunjungan ke kelompok tani “Pade Demen” yang berlokasi di Desa Sengkerang, Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah pada Selasa (1/8/207). Kelompok tani yang diketuai oleh Raohan tersebut termasuk kelompok yang cukup maju dan menerapkan SOP budidaya, pengolahan dan pemasaran.

Menurut penuturan Raohan, pihaknya memiliki lahan budidaya tembakau seluas 0,75 Ha yang dikelola secara intensip dengan teknik bercocok tanam menerapkan GAP. Tembakau ditanam dalam lajur-lajur teratur rapi dengan kemiringan tanah hanya sekitar 0-3% (tanah datar). Berkat tekstur tanahnya yang cukup baik, maka lahan untuk penanaman tembakau tidak menuntut  pengolahan serius, jadi tembakau ditanam pada lahan Tanpa Olah Tanah (TOT). Tanaman tembakau dewasa bisa setinggi orang, dengan daunnya yang lebar-lebar.

“Pada umur yang cukup, tembakau dipanen dan  daun-daun yang dipetik ini diikat lalu  dibawa ke dekat bangunan oven untuk proses penanganan selanjutnya”, kata Raohan.

Pihaknya menuturkan,  penanganan pasca panen berikutnya adalah, daun tembakau segar dirangkai di gelantang bambu di bawah naungan (bukan ruang terbuka) untuk kemudian disusun saling silang di dalam bangunan oven untuk dikeringkan.

Menurut Raohan, setiap daun yang sudah terangkai dalam 5 gelantang, pihaknya harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 1.000,- untuk upah merangkai. Demikian pula halnya pada saat melepaskan daun dari gelantang usai di oven, setiap 7 gelantang pihaknya kembali mengeluarkan uang sebesar Rp. 1.000,-.

Taklama berselang, pihaknya menunjukkan sebuah bangunan yang tersusun dari bata merah setinggi 6 meter yang berfungsi untuk mengeringkan tembakau dan menurunkan kadar air yang ada dalam daun tembakau.  Bangunan inilah yang disebut oven, tuturnya. Dalam 1 bangunan oven mampu memuat 915 lantang atau setara dengan 5 ton.

Satu tahap pengeringan membutuhkan waktu empat sampai lima hari pemanasan non stop dengan suhu berkisar 53-62 derajat Celcius. Bahan bakar yang digunakan untuk pemanas  terbuat dari kulit kemiri. Menurutnya dalam 1 hari menghabiskan 2 kuintal kulit kemiri, sementara harga 1 kuintal kulit kemiri mencapai Rp. 1.120.000. Dengan demikian 1 kali melakukan pengeringan (mengoven) membutuhkan biaya sebesar Rp. 8.960.000 hingga Rp. 11.200.000.

Raohan menjelaskan, udara panas dalam oven dialirkan dari bara api pembakaran kulit kemiri melalui pipa (flue) oleh karena itu proses ini dinamakan flue curing, katanya.

Raohan benar-benar menerapkan prinsip-prinsip Good Manufacturing Practices (GMP) dalam proses pengolahan daun tembakau segar menjadi krosok siap jual. Pihaknya mengakui kesalahan dalam pengeringan dan pengepakan akan menurunkan kualitas krosok, yang berimbas pada penurunan harga jual. Menurutnya ada beberapa tingkatan kualitas krosok dan tingkatan harga yang bisa diterima oleh pasar atau mitra, mulai dari harga Rp. 5.000/kg hingga Rp. 43.000/kg. “Untuk krosok warna lemon hanya laku dijual Rp. 30.000 – 37.000 per kg sedangkan krosok warna orange mampu menembus harga Rp. 40.000—43.000 per kg”, katanya sambil memperlihatkan krosok dengan tiga tingkatan kualitas berbeda.

Pihaknya sangat menyadari, mutu daun tembakau yang dipanen sangat tergantung dengan kondisi cuaca saat di pertanaman, demikian juga dengan mutu krosok yang dihasilkan ditentukan oleh penanganan dalam proses pengeringan dan tingkat kekeringan, sehingga peran ketersediaan bahan bakar juga cukup menentukan, ujarnya.



Sumber : Disbun Jabar
Dibaca : 285 x

Komentar Berita


Jangan Tampilkan Email Saya