•    
  •    
  •    
  •    
01 September 2017 19:20:02 0

BANDUNG, Panitia Idul Adha Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan sholat Idul Adha 1438 H bersama masyarakat Kota Bandung di Lapangan Gasibu, Jl. Dipenogoro Bandung pada Hari Jumat (1/09/2017).

Momen islami yang mengambil tema “Dengan Semangat Berkurban Kita Tingkatkan Peran Umat Dalam Menghadapi Tantangan Global” ini dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, para pejabat Pemprov. Jabar, para kepala OPD tingkat Provinsi Jawa Barat dan masyarakat Kota Bandung.

Dalam Shalat Idul Adha kali ini yang bertindak sebagai Imam adalah Imam Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, KH Aang Zaenal Arifin ZA, sedangkan khotib oleh Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati, Prof Dr Haji Afif Muhammad.

Sesaat sebelum dilaksanakan sholat Idul Adha, panitia melaporkan telah terkumpul hewan kurban dari Gubernur Jawa Barat, Wagub, Baznas dan OPD lingkup Pemprov. Jabar sebanyak 718 ekor sapi dan 1.600 ekor domba yang akan disalurkan pada masyarakat  yang membutuhkan di wilayah Jawa Barat.

Usai melaksanakan Shalat Idul Adha Wagub dijadwalkan akan langsung menuju ke Masjid Raya Jawa Barat untuk menyerahkan hewan kurban dari Pemerintah Provinsi. Sementara, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan melaksanakan Shalat Idul Adha di Sukabumi  mendampingi Presiden RI Joko Widodo.

Prof. Dr. H. Afif Muhammad, MA. Seorang guru besar pada Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menyampaikan khutbah yang cukup monumental.  Mantan Direktur Program Pascasarjana UIN ini mengatakan Idul Adha tak dapat dipisahkan dari ibadah haji yang diwajibkan Allah SWT dan ditempatkan sebagai rukun Islam yang kelima serta anjuran untuk berkurban dengan menyelembelih hewan ternak.

Beliau menyebutkan, salah satu hikmah yang terkandung di dalam menyembelih hewan ternak adalah mengikuti keteladanan yang diberikan oleh keluarga Nabiyullah Ibrahim a.s. Beliau mencontohkan doa Nabiyullah Ibrahim a.s. sebagaimana tertulis dalam QS Ash-Shaffat, 37:100 yang memohon agar diberikan keturunan yang tergolong orang-orang yang shaleh, bukan anak sembarangan.

Pihaknya menuturkan, shaleh seakar kata dengan maslahat yaitu yang membawa manfaat atau kebaikan bagi yang melakukannya sendiri, bagi orang lain, bagi orang-orang dilingkungannya dan bagi masyarakat semua.

Afif juga  menjelaskan, jika menginginkan suatu amal itu menjadi amal shaleh maka;

1. A’mal al-Jawarih (Kerja Fisik).

Kerja fisik merupakan kerja yang kualitas produksinya ditentukan oleh keterampilan pelakunya dalam menggunakan berbagai alat.  Misalnya sholat, memerlukan keterampilan, dalam  gerakan Allohu Akbar, ujarnya.   Kualitas nya tergantung dari pengalaman, semakin tinggi kerja fisik (banyak pengalaman) maka semakin baik kualitasnya.

2. A’mal al-‘Aql (Kerja Intelektual).

Kerja intelektual adalah kerja pikiran yang menghasilkan ilmu pengetahuan yang menjadi dasar bagi kerja fisik.  Makin tinggi pendidikan seseorang makin tinggi pula kemampuannya, moralitas dan akhlaknya.  Dalam hubungannya dengan amal shaleh, maka sudah seharusnya orang yang berpendidikan tinggi lebih shaleh (moralitas, kualitas ahlak dan kemampuannya) lebih baik dibanding orang yang berpendidikan lebih rendah.

3. A’mal al-Qalb (Kerja Kalbu).

Kerja kalbu adalah kerja yang didasarkan keimanan kepada Allah Swt. Orang yang beriman selalu memulai kerjanya dengan niat untuk beribadah kepada Allah Swt dan ditujukan untuk memperoleh ridha-Nya.  Faktor inilah yang pada akhirnya menentukan nilai seluruh amal yang dilakukan artinya betapapun canggihnya teknologi yang dikuasai seseorang atau suatu bangsa, betapapun tingginya ilmu yang mereka miliki dan betapapun spektakularnya produk-produk yang mereka hasilkan, semuanya akan sia-sia jika tidak dihubungkan dengan Allah Swt.

Afif menuturkan, intinya kerja fisik dan intelektual tidak ada artinya jika tidak didasarkan pada karja kalbu, misalnya  setiap bekerja dimulai dengan membaca bismillahirrohmanirrohim. “Ini yang kurang berkembang di masyarakat, lebih mementingkan kerja fisik   dan kerja intelektual. Ini akan mendorong anak pintar teknologi dan sain tapi tidak menjadi amal shaleh”, ujarnya.

“Sebaliknya kerja hati atau kalbu tanpa kerja fisik dan intelektual  tidak juga menjadi amal shaleh karena hanya sebatas niat tidak dikerjakan, oleh karena itulah kerjasama ketiganya  yang dikatakan amal shaleh. Amal shaleh merupakan investasi dunia dan akhirat. Jika meninggal semua akan tinggal kecuali 3 perkara; ilmu yang diamalkan, amal jariah dan anak shaleh”, katanya.

Pihaknya mengatakan, “kita mempunyai kekayaan alam yang melimpah, memiliki sumber daya manusia yang besar, jka bersatu dan terus meningkatkan kualitas diri akan mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat, berwibawa dan disegani oleh bangsa-bangsa lainnya.

Islam adalah agama yang mengajarkan kebaikan, kemuliaan dan nilai-nilai luhur, mengajarkan kebersihan, kejujuran, amanah, adil, santun, persaudaraan dan perdamaian.  Jika ajaran ini dipahami, dihayati dan diamalkan, niscaya kehadiran umat manusia di dunia akan membawa rahmat bagi semesta alam “Rahmatan lil’Alamin, tutur Afif.

Ini yang diharapkan terjadi pada bangsa Indonesia yang 87,3% penduduknya beragama islam,  “jika 100 orang berkumpul, maka yang 87 orang adalah orang-orang yang berakhlak mulia, bersih dan santun, bersahabat dan tidak kasar, berperan aktif dan positif dalam membangun moral dan karakter bangsa, mewarnai kebudayaan bangsa”, ucapnya.

Afif menegaskan, jika kita amati fenomena yang ada saat ini, maka indikator-indikator keislaman yang sesungguhnya, belum terlihat dalam diri sebagian besar kaum muslimin. Masih banyak timbunan sampah di berbagai tempat, pengendara bermotor masih banyak yang saling menyerobot, anarkhi dan kekerasan masih sering terjadi, penyelewengan, suap dan korupsi merajalela, ini semua menjadi indikator bahwa kita belum dapat merealisasikan ajaran-ajaran islam dalam kehidupan sosial, katanya.

“Lantas apakah itu berarti kita telah menjadi umat islam yang gagal? Tentu saja tidak…kita bukan umat yang gagal, kita adalah umat yang sedang berada dalam proses menjadi muslim yang lebih baik dari waktu ke waktu dan dengan seluruh kekuatan dan kelemahan, hambatan dan rintangan yang ada di sekeliling kita”, lanjutnya.

Semoga Allah SWT memberi kekuatan lahir dan batin, selalu melindungi dari malapetaka, memberi petunjuk, melimpahkan kasih sayang dan berkah-nya dalam kehidupan kita. Amin ya Rabbal ‘Alamin, tutupnya seraya memanjatkan doa.



Sumber : Disbun Jabar
Dibaca : 558 x

Komentar Berita


Jangan Tampilkan Email Saya