•    
  •    
  •    
  •    
06 September 2017 08:09:08 0
Percontohan Penerapan Kaidah Konservasi Tanah dan Air di Lahan Kopi Kelompok Tani Anggunsari, Dusun Cigudsari, Desa Mekarsari, Kec. Cimaung Kab.Bandung.

PANGALENGAN-Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat melalui Bidang Pengembangan dan Perlindungan Perkebunan, membuat percontohan tentang penerapan kaidah konservasi tanah dan air di lahan kopi kelompok tani Anggunsari, Dusun Cigudsari, Desa Mekarsari, Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung pada Selasa (5/9/2017).

Percontohan atau demplot yang mengambil topik “Penataan dan Pelestarian Lahan Pengembangan Kopi Arabika Java Preanger”, tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mengoptimalkan potensi lahan dengan tujuan agar produktivitas lahan meningkat sehingga mampu meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman  kopi.

Penerapan kaidah konservasi itu, dibimbing dan diarahkan oleh seorang tenaga ahli dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lembang Jawa Barat, bernama “Ir. Enjang Sujitno, MP”.

Dalam arahannya sesaat sebelum melakukan praktek demplot, Enjang menjelaskan bahwa, setiap kali akan menerapkan kaidah konservasi, terlebih dahulu harus dipahami kondisi sumber daya lahan yang akan di konservasi.

Pihaknya mengatakan, secara umum   kecepatan laju erosi tanah, terutama dipengaruhi oleh tiga faktor : (1) curah hujan yang tinggi, baik kuantitas maupun intensitasnya, (2) lereng yang curam, dan (3) tanah yang peka erosi, terutama terkait dengan genesa tanah, ujarnya.

Ia juga menuturkan, teknik konservasi tanah di Indonesia diarahkan pada tiga prinsip utama yaitu 1). perlindungan permukaan tanah terhadap pukulan butir-butir air hujan, 2). meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah seperti pemberian bahan organik atau dengan cara meningkatkan penyimpanan air, dan 3). mengurangi laju aliran permukaan sehingga menghambat material tanah dan hara terhanyut.

Enjang menegaskan agar teknik konservasi yang diterapkan berdaya guna dan berhasil guna maka perlu melakukan analisis fisual lapangan. Menurutnya kondisi tanah kelompok tani Anggunsari saat ini berdasarkan hasil analisis fisual lapangan kurang lebih seperti berikut: 1). Topografi bergelombang sampai berbukit, 2). Vegetasi termasuk sedang, 3). Ketinggian tempat berkisar 950 Mdpl, 4). Kemiringan tanah (kelerengan) > 23 %, 5). Kesuburan tanah termasuk rendah, 6). Kadar air tanah diperkirakan sekitar 20% kadar air U, 7). Jenis tanah Inceptisol, 8). Struktur tanah liat berlempung, 9). Kandungan Bahan Organik (BO) sangat rendah, 10). Kondisi lahan tergolong kritis, 11). Keadaan tanaman kopi sudah mencapai tingkat layu permanen (kritis).

Pihaknya menuturkan, berkaca pada hasil analisis fisual tersebut maka  lahan kopi kelompok tani Anggunsari mutlak harus diusahakan atau dikelola berdasarkan kaidah konservasi tanah dan air.

Menurut Enjang, teknik konservasi yang akan diterapkan diantaranya teknik konservasi mekanik dan teknik konservasi vegetative. “Untuk teknik konservasi mekanik, akan dilakukan pembenahan teras karena teras sudah terbentuk cukup baik namun perlu pembenahan pada beberapa titik tertentu, perlu pembuatan Saluran Pembuangan Air (SPA) horizontal dan vertical”, sedangkan untuk teknik konservasi vegetative, lanjutnya “harus melakukan penanaman rumput pada tampingan teras, dan penambahan pupuk organik di sekeliling tajuk tanaman”.

“Aplikasi bahan organik juga diperlukan untuk perbaikan struktur tanah, baik dari aspek sifat fisik tanah maupun dari aspek sifat kimia tanah”, katanya.

“Sebelum memulai praktek, mari kita siapkan peralatan yang diperlukan untuk mengukur tinggi tampingan teras”, ucapnya mengakhiri arahannya sambil menggiring anggota kelompok tani Anggunsari menuju peralatan yang sudah disiapkan.   



Sumber : Disbun Jabar
Dibaca : 400 x

Komentar Berita


Jangan Tampilkan Email Saya