•    
  •    
  •    
  •    
18 September 2017 15:52:59 0
Sosialisasi Pengendalian Hama pada Tanaman Kelapa Kepada Kelompok Tani Mekar Rahayu, di Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. 12 September 2017.

Kota Banjar, 12 September 2017. Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) mengadakan sosialisasi Pengendalian Hama pada tanaman Kelapa kepada kelompok tani Mekar Rahayu, di Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Kegiatan ini diawali dengan pengenalan berbagai jenis Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada tanaman kelapa, terutama hama Oryctes rhinoceros atau hama uret yang pada umumnya menyerang tanaman kelapa di Kota Banjar. Sebagian besar anggota kelompok tani Mekar Rahayu belum sepenuhnya mengenal hama uret dan kerugian yang diakibatkan oleh hama tersebut.

Berdasarkan data statistik kelapa dari Direktorat Jenderal Perkebunan (2017) menunjukan nilai produksi kelapa di tingkat smallholder atau milik rakyat pada tahun 2016 adalah sebesar 2.858.924 ton/tahun. Produksi kelapa di tingkat smallholder ini merupakan penyumbang nilai tertinggi jika dibandingkan dengan perkebunan milik pemerintah maupun swasta. Sementara Provinsi Jawa Barat mampu memproduksi 105.933 ton/tahun buah kelapa. Nilai tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan Provinsi Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Riau, dan Jawa Timur.

Nilai produksi ini salah satunya ditentukan oleh serangan dari hama O. rhinoceros yang menyerang pelepah pada tanaman kelapa. Persentase kerugian hasil yang diakibatkan oleh hama uret tersebut dapat mencapai 64%. Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan nilai produksi kelapa, maka BPTP membantu kelompok tani Mekar Rahayu untuk mengatasi permasalahan dari serangan hama uret. Pada Selasa (12/9/17) lalu, BPTP mengadakan kegiatan sosialisasi penerapan konsep PHT yaitu menggunakan Agensia Pengendali Hayati (APH) Cair jamur Metarizhium anisopliae. Jamur antagonis tersebut diketahui mampu menginfeksi hama uret pada stadia larva. Jamur M. anisopliae masuk ke dalam tubuh serangga melalui kulit, memperbanyak diri dengan membentuk hifa dan menyebabkan larva uret menjadi kering dan mati. Larva uret seringkali ditemukan di tumpukan serbuk gergaji, kotoran hewan (sapi, kerbau, kambing), dan tumpukan sampah.

Balai Proteksi Tanaman Perkebunan memberikan informasi kepada masyarakat, salah satu teknologi alternatif pengendalian yang ramah lingkungan, yaitu menggunakan APH Cair dengan metode infus batang. Keunggulan dari APH Cair ini adalah spora jamur antagonis M. anisopliae mampu menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang dapat menginfeksi jaringan larva dan tanaman. Aplikasi infus batang ini dilakukan dengan melakukan pengeboran batang kelapa sedalam 15-20 cm atau setengah diameter batang kelapa. Lubang pengeboran sekitar 30-60 cm dari permukaan tanah, yang kemudian dimasukkan selang infus berisi APH Cair M. anisopliae dengan konsentrasi 20 ml/liter air/batang.

Melalui kegiatan sosialisasi pengendalian hama uret pada tanaman kelapa, memberikan wawasan baru bagi para petani dan meningkatkan kewaspadaan akan pentingnya melakukan pencegahan serangan OPT yang cukup merugikan. Tentunya kegiatan pengendalian hama uret ini tidak hanya sampai kegiatan sosialisasi saja, BPTP akan terus mendampingi kelompok tani Mekar Rahayu hingga pertemuan ke-5. Seluruh anggota kelompok tani dilibatkan dalam aplikasi APH Cair M. anisopliae, pengamatan serangan hama uret, bahkan proses pembuatan APH Cair. Hal ini menjadi bekal awal bagi para petani kelapa untuk dapat meningkatkan nilai produksi, kualitas, dan kuantitas yang baik.

 

Editor : MS. Ansori

Dokumentasi : BPTP Disbun Jabar



Sumber : BPTP Disbun Jabar
Dibaca : 128 x

Komentar Berita


Jangan Tampilkan Email Saya