•    
  •    
  •    
  •    
05 Oktober 2017 15:33:34 0
Percontohan BTA sesuai kaidah KTA di Lahan Kopi Kelompok Tani Anggunsari, Dusun Cigudsari, Desa Mekarsari, Kec. Cimaung Kab.Bandung.

PANGALENGAN-  Bidang Pengembangan dan Perlindungan Perkebunan, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat mempraktekkan cara membuat Bangunan Terjunan Air (BTA) menurut kaidah Konservasi Tanah dan Air (KTA)  di lahan kopi kelompok tani Anggunsari, Dusun Cigudsari, Desa Mekarsari, Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung pada Selasa (3/9/2017).

Konservasi tanah dan air (KTA) sering disebut sebagai pengawetan tanah dan air yaitu merupakan usaha-usaha yang dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas tanah, kuantitas dan kualitas air.

Kegiatan konservasi tanah dan air bertujuan untuk menurunkan jumlah aliran permukaan dan meningkatkan jumlah air tersimpan, mengendalikan daya rusak aliran permukaan dan memperbaiki kualitas aliran permukaan. 

Demplot atau percontohan konservasi lahan merupakan rangkaian aktivitas  Penataan dan Pelestarian Lahan Pengembangan Kopi Arabika Java Preanger  dengan maksud untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mengoptimalkan potensi lahan  agar produktivitas lahan dapat meningkat.

Salah satu aktivitas yang harus dilakukan dalam KTA ini, pembuatan BTA disamping pembuatan Saluran Pembuangan Air (SPA). Aktivitas ini dilakukan anggota kelompok tani dibawah bimbingan dan arahan   tenaga ahli dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lembang Jawa Barat, “Ir. Enjang Sujitno, MP”.

Bangunan terjunan air adalah bangunan yang dibuat di tempat tertentu memotong saluran, dimana aliran air setelah melewati bangunan tersebut akan merupakan terjunan.  Pengawetan tanah lainnya menambahkan pupuk kandang pada sekeliling tajuk terluar tanaman.

Tujuan pembuatan BTA, untuk mengarahkan aliran air ke tempat yang aman dari erosi, memperkecil aliran permukaan, menekan erosi, meningkatkan peresapan air ke dalam tanah serta menampung dan mengendalikan aliran air ke daerah yang lebih rendah secara aman.  Intinya air yang jatuh pada SPA tidak menyebabkan erosi dan tidak menimbulkan longsor dengan adanya BTA.

Tahapan selanjutnya direncanakan, pemberian pupuk kandang disekeliling tajuk tanaman terluar sebanyak 25 kg/pohon.  Untuk menjaga stabilisasi iklim mikro disekitar tanaman, disarankan agar pada pangkal tanaman diberi mulsa dari jerami padi yang sudah kering.

Tahap terakhir, penanaman rumput Bhrachia Bassiana (BB) pada pinggiran bidang olah teras agar teras bangku lebih kuat dari kemungkinan terjadinya erosi permukaan.



Sumber : Disbun Jabar
Dibaca : 627 x

Komentar Berita


Jangan Tampilkan Email Saya