•    
  •    
  •    
  •    
15 Februari 2018 16:19:12 0

Bandung  (14/02/18), Untuk meningkatkan mutu produk kopi dan teh dalam kaitan dengan Persyaratan Mutu dan Pemasaran teh dan kopi, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Pertemuan Teknis Penerapan Sistem Jaminan Mutu sesuai SNI khususnya komoditi  (Kopi dan Teh) di Aula Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, 14 Pebruari 2018.

Pertemuan dihadiri perwakilan dari Dinas yang menangani bidang perkebunan di 20 Kabupaten/kota serta 40 orang pelaku usaha kopi dan teh. Acara pembukaan pertemuan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinas Perkebunan Dedi Sutardi didampingi oleh Kepala Bidang Pengolahan Pemasaran dan usaha Perkebunan Yeyep Soedrajat. Dilanjutkan dengan arahan dari Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat  Arief Santosa. Arahan yang disampaikan bahwa paling sedikit terdapat 4 (empat) isu utama yang sangat mempengaruhi perdagangan produk perkebunan, yaitu Keamanan Pangan (Food Safety Issue),  Mutu dan Standar (Wholesomness Issue), Ramah Lingkungan (Environmental Issue) dan Sosial (Social Issue), termasuk Kesehatan, Keamanan dan Keselamatan Kerja.

Sejak Tahun 1994 – 1995 perhatian dunia sudah konsen terhadap keamanan pangan, sudah banyak regulasi pemerintah dalam rangka melindungi asupan makanan yang bermutu, bergizi dan aman dikonsumsi. Banyak perjanjian yang dibuat terutama dinegara Eropa karena masalah keamanan pangan masuk kedalam kategori “Buyer Terorism”. Namun di Indonesia masih sangat longgar terrhadap keamanan pangan dan mutu hasil. Pada tahun 1980 – 1984 produk dari Indonesia terindikasi mengandung residu pestisida sehingga negara Indonesia tidak bisa mengekspor produk.   Sejak 1990 – 1994 sudah mulai terbentuk Badan Agribisnis yang pada saat itu dituntut untuk membuat aturan – aturan tentang jaminan mutu dan mulai berdiri Badan Sertifikasi Nasional yang ditugaskan untuk mengurus dan menerapkan standarisasi mutu. Dalam menerapkan standarisasi mutu mulai mencoba di Tingkat Goverment : yaitu di tingkat pusat : membuat aturan – aturan, Midle Goverment : menterjemahkan, mensosialisasikan dan mengawal. Sampai saat ini sudah kurang lebih 555 produk SNI.

Selain itu issu Antraquinon pada produk teh dinegara ekspor menetapkan sebesar 0,02 ppm sementara di Indonesia kandungannya 0,06 ppm dan sangat sulit untuk diturunkan, sementara kandungan Antraquino tidak muncul di on farm, tetapi ternyata muncul di tingkat processing (pasca panen), pengasapan (kayu bakar) penggudangan, karung goni yang mengandung zat pemutih, Dalam Inter Govermental Group (IGG) On Tea di negara timur tengah tidak mempermasyalahkan kandungan Antraquinon 0,06 ppm dan ternyata Antraquinon baru muncul apabila dipanaskan sampai pada suhu 200oC.

Teh dan Kopi merupakan 2 (dua) komoditi yang menyumbangkan penghargaan diantaranya :

Pada Tahun 2016        : Gubernur Jawa Barat mendapat penghargaan “Budipura” Green tea powder

Tahun 2017                : mendapatkan penghargaan Budipura ke dua kalinya yaitu terbaik tingkat Nasional (kopi)

Dan rencana pada Tahun 2018 : akan diikutsertakan Gula Semut Organik yang perlu dikawal oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LSO)

Lebih lanjut Kepala Bidang Pengolahan Pemasaran dan Usaha Perkebunan Yeyep Soedrajat menjelaskan bahwa tuntutan konsumen terhadap standar mutu suatu produk baik pangan maupun non pangan sudah tidak bisa dihindarkan lagi. Penerapan jaminan mutu merupakan langkah penting bagi pelaku usaha untuk mendapatkan pengakuan formal terkait dengan jaminan mutu yang diwujudkan dalam bentuk sertifikat. Sertifikat tersebut merupakan alat bukti Penerapan Sistem Manajemen Mutu dan dapat menjadi jaminan keberterimaan pangan baik dipasar domestik maupun internasional. Teh dan kopi menjadi komoditas perkebunan utama dalam perdagangan, memiliki nilai yang strategis dan merupakan sumber penyumbang devisa terbesar. Oleh karena itu Teh dan Kopi akan menjadi program prioritas perkebunan karena salah satunya komoditi kopi merupakan kopi hanya dapat tumbuh baik di daerah tropis dan tidak ada di daerah yang memiliki 4 musim,” jelasnya. Sedangkan komoditi teh tersendat di pasar ekspor.

Hasil Pertemuan  ini, antara lain :

Tantangan perkebunan untuk menuju pasar ekspor : yaitu

  1. keamanan pangan (food safety) perlu menerapkan mutu dan standar.
  2. Perubahan gaya hidup : natural products/pangan organik
  3. Pengawasan sistem mutu : HACPP, ISCC, Organik
  4. Kelestarian lingkungan hidup : Emisi gas rumah kaca, keanejaragaman hayati

Langkah – langkah untuk memperoleh pengakuan mutu :

  1. Menerapkan SOP yang Konsisten
  2. Perubahan Budaya
  3. Mendokumentasikan seluruh kegiatan

Monitoring dan survailant  dalam kualitas mutu : Menganjurkan cara menguji suatu produk sesuai SNI untuk komoditi kopi bisa dilakukan sendiri karena menggunakan metoda visul tidak perlu di lakukan di  lab.

Catatan penting untuk jaminan mutu suatu produk yaitu : aman bagi kesehatan hukumnya wajib dan mutu sifatnya pilihan.



Sumber : Hasil Liputan
Dibaca : 557 x

Komentar Berita


Jangan Tampilkan Email Saya