•    
  •    
  •    
  •    
05 April 2018 15:04:28 0

Bandung (02/02/18), Balai Perlindungan Perkebunan (BPP) Jawa Barat pada tahun ini Lomba SINOVIK, salah satu persyaratannya adalah mengikuti kegiatan ekspose inovator dan peninjauan inovasi perangkat daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam kompetisi Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik). Pada tahun ini kompetisi Sinovik bertemakan, “Inovasi Pelayanan Publik untuk Percepatan Mewujudkan Nawa Cita dan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan”. Kegiatan ekspose dilaksanakan di Balai Perlindungan Perkebunan dan dihadiri oleh Kepala Dinas Perkebunan Jawa Barat, Bapak H. Arief Santosa, SE., M.Sc., pejabat eselon III Dinas Perkebunan Jawa Barat, Ibu Ratu Siti Chodidjah SH. perwakilan dari Biro Organisasi Setda Prov Jawa Barat, pejabat fungsional, dan tim penilai yaitu, Bapak Prof. Dr. H. Nandang Alamsyah Deliarnoor, SH., M.Hum (Guru Besar Unpad), Bapak Rochman Budijanto, SH (Direktur Eksekutif JPIP), dan Bapak Suhendrik, SIP (Direktur Jipo).

Pemaparan inovasi BPP Jawa Barat dilaksanakan oleh Kepala UPTD BPP, Bapak Dede Wahyu, SP., MP. Inovasi yang diikutsertakan dalam kegiatan ini dari BPP Jawa Barat adalah “Bang Ali”. Nama tersebut merupakan akronim dari Pengembangan Agensia Pengendali Hayati pada Media Cair. “Bang Ali” merupakan metabolit sekunder dari jamur APH Trichoderma spp., Beauveria bassianaMetarhizium anisopliaePaecilomyces spp., Spicaria sp. Jamur-jamur APH tersebut sebelumnya sudah dikembangkan dalam media padat. APH dalam media padat masih kurang efektif dan efisien untuk pengendalian OPT Perkebunan, oleh karena Bapak Dede Wahyu, SP., MP. Ingin melakukan inovasi dengan “Bang Ali”. Dengan “Bang Ali”, OPT yang ada di dalam jaringan tumbuhan dapat dikendalikan dengan mudah, karena “Bang Ali” mengendalikan OPT dengan cara sistemik, masuk ke dalam jaringan tanaman. Contohnya, OPT pada tanaman kelapa biasanya sulit untuk dikendalikan karena OPT tersebut berada di daun kelapa yang jauh dari jangkauan,  seperti hama kumbang nyiur (Oryctes rhinoceros) dapat dikendalikan dengan mudah dengan cara infus batang menggunakan “Bang Ali”. Selain itu, “Bang Ali” mengandung hormon perangsang pertumbuhan. Tanaman yang sudah diaplikasikan “Bang Ali” kuantitas dan kualitas produksinya lebih bagus dibandingkan dengan tanaman yang tidak menggunakan “Bang Ali”. Pada tanaman kopi yang diaplikasikan “Bang Ali”, dapat berbunga lebih cepat dari seharusnya, pada tanaman kelapa air niranya lebih banyak dan warnanya lebih kemerahan, dan pada tanaman tembakau hasil rajangan halus keringnya warnanya kekuningan dan aromanya lebih enak.

Tim penilai mengatakan bahwa untuk keseluruhan sudah bagus mengenai inovasi “Bang Ali” ini, namun penyusunan proposalnya masih kurang baik, memang hampir semua peserta masih kurang dalam penyusunan proposalnya. Untuk halaman awal power point sebaiknya ada gambar maskot dari “Bang Ali”. Kemudian dari inovasi ini sebaiknya dipatenkan isolatnya, karena isolatnya merupakan formula rahasia yang tidak bisa disebarluaskan. “Bang Ali” ini berpeluang besar untuk memajukan pertanian karena kemampuan cara bekerjanya lebih praktis, efektif, dan efisien, dan mudah juga untuk direplikasi di tingkat petani”.

Semoga dengan adanya inovasi “Bang Ali” ini BPP dapat menjadi unit kerja yang inovatif dan kreatif dalam pelayanan publik, serta BPP dapat membantu pembangunan pertanian khususnya perkebunan di bidang perlindungan tanaman perkebunan.

 

Editor : MS. Ansori

Foto : Tim BPP Disbun Jabar



Sumber : BPP Disbun Jabar
Dibaca : 410 x

Komentar Berita


Jangan Tampilkan Email Saya

Index Berita