•    
  •    
  •    
  •    
24 April 2018 14:49:10 0

 

Pasirjati, 18 – 19 April 2018

Sebanyak 100 orang petani diikutsertakan dalam kegiatan Pelatihan APH Cair Angkatan I di Balai Perlindungan Perkebunan (BPP). Petani peserta kegiatan Pelatihan APH Cair Angkatan I ini merupakan petani perkebunan yang berasal dari Provinsi Jawa Barat. Khususnya petani kopi, teh, dan tembakau dari Kabupaten Garut, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Bandung. Kegiatan Pelatihan APH Cair Angkatan I diawali dengan sambutan dari Kepala UPTD BPP,
Dede Wahyu, S.P., M.P. yang diwakilkan oleh Kepala Seksi Sarana Teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yaitu Mochammad Sopian Ansori, S.P., M.P. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa tujuan dari diadakannya pelatihan APH Cair kepada petani-petani adalah untuk memberikan pengetahuan baru akan teknologi alternatif dan inovatif mengenai bidang perlindungan tanaman perkebunan. Sebagai teknologi yang inovatif tentu APH Cair memiliki keunggulan lebih dibandingkan dengan teknologi pengendalian yang sudah pernah digunakan oleh petani sebelumnya.

Kegiatan Pelatihan APH Cair Angkatan I dibuka oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat yaitu H. Arief Santosa, S.E., M.Sc. yang didampingi oleh Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat yaitu Drs. Dedi Sutardi, M.Pd. Beliau, H. Arief Santosa menyampaikan bahwa kegiatan perlindungan tanaman perkebunan sangat penting untuk dilakukan, mengingat bahwa keberadaan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tidak hanya merusak kualitas dari tanaman, tetapi juga menurunkan jumlah produksi dan harga jual komoditi tersebut di pasaran sehingga merugikan petani.

Pada kesempatan kali ini, UPTD BPP mengundang Guru Besar dari Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto sebagai narasumber Pelatihan APH Cair kali ini. Beliau adalah Prof. Ir. Loekas Soesanto, M.S., Ph.D. yang merupakan salah satu dari 104 inovator terbaik di Indonesia. Predikat tersebut diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Tahun 2012. Profesor Loekas menyebutkan bahwa permasalahan yang banyak terjadi dalam budidaya tanaman di antaranya serangan OPT masih tinggi; sistem PHT belum diterapkan dengan baik, penanganan OPT masih menggunakan pestisida kimia; tuntutan produk perkebunan sehat; kurangnya pengetahuan petani akan OPT tanaman; serta kurangnya teknologi pengendalian OPT yang aman, mudah, murah, dan praktis. Dalam penggunaan pestisida kimia tentu akan menyebabkan beberapa kerugian di antaranya munculnya strain baru patogen, residu kimia, resistensi dan resurjensi hama, dan biaya produksi yang tinggi. Maka petani diarahkan kepada pengendalian secara hayati yang memiliki kelebihan cara budidaya tanaman sehat, produksi meningkat, mampu mengendalikan OPT, tidak berbahaya, murah, praktis, memiliki banyak mekanisme, mudah diaplikasikan, mutu terjamin, dan mencegah ledakan OPT sekunder.

Para petani kemudian diajarkan mengenai pembuatan APH Cair dari jamur
Trichoderma spp., APH Cair dari jamur Beauveria sp. dan APH Cair Bakteri
Pseudomonas fluorescens dengan alat-alat dan bahan-bahan yang sederhana, mudah didapat, dan ekonomis. Petani sangat antusias mengikuti kegiatan pelatihan pembuatan APH Cair tersebut, dikarenakan caranya yang sangat mudah dan cepat untuk dilaksanakan. Dalam sesi diskusi petani banyak mengajukan pertanyaan, baik seputar permasalahan di kebun, budidaya tanaman, maupun terkait materi yang disampaikan oleh Profesor Loekas.

Bapak Suparji, dari kelompok tani Mekartani, Kabupaten Garut, berpendapat bahwa APH padat memiliki banyak kendala, yaitu sulit dibuat karena resiko untuk kontaminasi sangat besar. Kemudian beliau bertanya, “Berapa persen kah tanaman kopi yang terkena nematoda dapat sehat kembali dengan menggunakan APH cair jamur Trichoderma spp.?”. Profesor Loekas menjawab bahwa penyembuhan tanaman sangat tergantung dari tanaman itu sendiri dan pengulangan aplikasi APH cairnya. Selanjutnya Bapak Ruli dari Kabupaten Sumedang bertanya, “Bagaimana cara aplikasi APH cair dengan cara infus akar?”. Jawaban Profesor Loekas, “Aplikasi infus akar diperuntukkan untuk tanaman yang berkayu. Caranya pilihlah akar yang sehat. Temukan ujung-ujung akar yang kira-kira sebesar jaru telunjuk, kemudian potong miring akar tersebut dengan cutter yang tajam. Setelah itu masukkan akar tersebut ke dalam plastik es sampai ke dasar plastik, kemudian masukkan APH cair dan ikat plastik es dengan tali dan diikat dengan simpul hidup supaya dapat dibuka kembali. Minimal satu pohon ada 4 (sesuai dengan arah mata angin) titik akar yang diinfus. Kemudian tutup akar dengan daun kering. Pengulangan aplikasi dilakukan satu minggu sekali. Pertanyaan selanjutnya dari Bapak Bariyanto, dari kelompok tani Cisondari I, Kabupaten Bandung, beliau bertanya bahwa sampai kapan kaldaluarsa dari APH cair, Kapan bagusnya waktu untuk aplikasi, dan bagaimana cara untuk mengetahui keberhasilan aplikasi APH cair. Profesor Loekas menjawab bahwa masa kaldaluarsa APH cair adalah satu tahun, sedangkan maka kaldaluarsa APH padat hanya satu bulan. Waktu aplikasi yang tepat adalah jangan saat matahari sedang terik. Keberhasilan setelah aplikasi terlihat perubahan pada jumlah pucuk, akar, dan jumlah percabangan tanaman.

Sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), BPP memiliki tugas utama yaitu mengajak para pelaku usaha tani untuk menerapkan sistem pengendalian secara terpadu, salah satunya adalah menggunakan APH Cair. Maka dari itu, sangat diharapkan melalui kegiatan Pelatihan APH Cair Angkatan I dan ke depannya, seluruh petani dapat menyerap informasi dengan baik serta siap untuk menerapkan teknologi pengendalian secara hayati di kebunnya. Tidak hanya itu, Pelatihan APH Cair ini juga merupakan salah satu langkah untuk meminimalisir dari kerusakan lingkungan, meminimalisir pengeluaran biaya produksi, dan menghasilkan produk yang aman untuk dikonsumsi.

 

Editor              : Mochammad Sopian Ansori, S.P., M.P.

Dokumentasi   : Tim Dokumentasi BPP



Sumber : BPP Disbun Jabar
Dibaca : 179 x

Komentar Berita


Jangan Tampilkan Email Saya

Index Berita