•    
  •    
  •    
  •    

H. Dinuri Supriatna (Haji Dinuri)

Kecintaannya terhadap tanaman kopi mengantarkan Supriatna Dinuri (48) warga Kampung Pasir Mulya Desa Margamulya Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung menjadikan seorang pengusaha kopi luwak sukses.

"Awalnya saya itu pecinta tanaman kopi. Karena kopi itu sebagai tanaman konservasi, saat hujan dia bisa menyimpan air dan saat kemarau tidak terlalu memerlukan air banyak. Karena saya sangat mengagumi dan mencintai tanaman ini, pada 1999 lalu saya menanam 4200 pohon kopi arabika di lahan milik pribadi seluas 5,4 hektare," kata Supriatna, di sela peresmian Gedong Sabilulungan di Jalan Raya Al Fathu Soreang, Senin (20/5/14).

Kebijakan Gubernur Jabar yang mengharuskan adanya alih komoditas pada 2002 lalu, seolah membawa angin segar pada Supriatna. Ia pun bergabung dalam program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) bersama PT Perhutani. Supriatna bersama kelompok taninya dipercaya mengelola lahan untuk ditanami kopi seluas 8 hektare oleh tujuh orang anggota kelompok.

"Saat ini telah berkembang menjadi 338 hektare lahan PHBM yang dikelola oleh 167 Kepala Keluarga (KK). Kemampuan produksi kopi luwak kami per tahun baru mencapai 6 ton per tahun. Sedangkan untuk kopi biasa, per tahun produksi kami mencapai 50 ton per tahun," ujarnya.

Harga kopi di pasar internasional yang cenderung stabil serta tak mengenal lesu, menambah ketertarikan Supriatna dan kelompok taninya untuk semakin giat menggeluti kopi. Dari 100 ekor binatang luwak yang dipelihara bisa menghasilkan kopi hasil fermentasi dengan kualitas terbaik. Omzet mencapai Rp 18 miliar per tahun, sedangkan asset kelompok tani mencapai Rp 13 miliar.

"Kalau dalam bentuk biji atau green bean per kilo dijual Rp 800 ribu. Sedangkan yang sudah jadi serbuk halus per kilogram Rp 1,2 juta. Selama ini 90 persen pasar kopi luwak dan kopi biasa hasil produksi kami diekspor ke berbagai negara. Seperti Korea, Taiwan, Hongkong, Tiongkok, Jepang, Malaysia. Sedangkan untuk dalam negeri, Jakarta, Bagor, Bekasi, Papua dan Bali," katanya.

Selain mengantarkannya pada kesuksesan, Supriatna pun terpilih menjadi satu dari dua orang ahli (assesor) kopi terbaik di Indonesia. Selain konsentrasi terhadap usahanya, Supriatna pun memiliki kewajiban untuk berbagi ilmu pengetahuan tentang kopi.

"Saya memang memiliki keinginan untuk terus berbagi ilmu tentang kopi tanpa pamrih. Bahkan, untuk setiap saya mengikuti pameran pun untuk dua atau tiga hari pameran mengeluarkan uang sendiri tak kurang dari Rp 30 juta. Tapi saya iklas karena memang niat saya ingin berbagi," terangnya.

Mengenai kopi luwak, Supriatna memiliki optimisme yang besar, setelah Unesco pada 11 Februari 2013 lalu menetapkan jika kopi luwak merupakan warisan (haritage) dunia kuliner asli Indonesia.

"Tapi memang perkembangannya fluktuatif untuk kopi luwak ini. Karena harganya mahal dan pasarnya kelas menengah ke atas. Selain itu, kerap ditiru atau dipalsukan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Apalagi pasaran kopi luwak ini memang gelap," terangnya.

Satu hal yang masih menjadi angan-angan dan obesesi dari Supriatna yakni ingin menjadikan Desa Margamulya, sebagai desa kopi terbaik di Jabar. Karena sebagian besar warga desa tersebut menjadi petani dan produsen kopi.

Sumber : http://m.inilah.com/read/detail/2102331/supriatna-sukses-kembangkan-kopi-luwak