•    
  •    
  •    
  •    

H. ASEP SUKMANA

H. Asep Sukmana, anak muda dari kawasan Gunung Halu tepatnya dari Kp. Cikakak, Desa Mekarwangi, Kec. Sindangkerta Kab. Bandung Barat baru menginjak usia 37 tahun, wajahnya yang imut, kulitnya yang putih, tinggi semampai, dan pembawaannya yang ramah, terkesan tidak seperti penampilan seorang petani kebun pada umumnya, akan tetapi lebih pantas disebut sebagai orang rumahan atau orang kantoran. Asal mula pekerjaan utamanya adalah sebagai petani sayuran (kentang, kol, seledri, tomat, daun bawang, dan lain sebaginya) yang di tanam di lahan miliknya sendiri, sementara menanam kopi hanya sebagai mata pencaharian sampingan karena dianggapnya penghasilan yang diperoleh dari kopi datangnya berjangka waktu agak lama, tidak seperti kalau menanam sayuran yang bisa lebih cepat.

Asep merupakan petani yang selalu ingin maju, disamping menekuni budidaya sayuran Asep juga mencoba mengembangkan kopi di lahan Perhutani melalui pola PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat), sekaligus menjadi pungumpul dan pengolah buah kopi dengan cakupan wilayah usahanya disekitar Kab. Bandung Barat, Kab. Bandung, Kab. Garut dan Kab. Tasikmalaya untuk kemudian diolah menjadi kopi gabah (HS) dan biji kopi berasan (green bean). Adapun peralatan pengolah kopi sementara masih menyewa di tempat pengolah kopi milik kelompok lain.

Perjalanan selanjutnya dengan dorongan semangat dan motivasi yang luar biasa beliau sudah mulai merambah ke dunia perdagangan kopi, bahkan sudah masuk kedalam jaringan eksportir kopi. Perubahan suasana dari seorang petani sayuran menjadi petani kopi kecil-kecilan sampai menjadi calon eksportir kopi seperti sekarang ini ternyata dijalaninya tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, hanya sekitar tiga tahunan. Kegigihannya dalam menekuni bisnis perkopian, mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan perguruan tinggi, peneliti sampai kepada dunia usaha. Dorongan dan simpati yang tinggi pun diperolehnya dari masyarakat pencinta kopi, begitu juga dukungan fasilitas dari pihak pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat menghantarkannya menjadi calon eksportir ternama seperti sekarang ini.

Sebagai anak pertama dari seorang petani teh (Alm. H. Mashuri) tadinya Asep merasa ragu-ragu untuk melanjutkan usaha keluarga di bidang perkebunan. Beliau mulai tertarik untuk menekuni bisnis kopi setelah mendapat pembinaan dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat tentang budidaya kopi dan pengolahannya. Kemudian dengan bermodalkan warisan lahan kebun keluarga maka mulailah pada sekitar tahun 2010 asep mencoba mengembangkan budidaya kopi arabika di tanah keluarga seluas 5,0 Ha, sambil terus mengembangkan pengetahuan tentang perkopian melalui pergaulan dengan sesama pelaku usaha kopi, serta sering mengikuti pertemuan pembinaan kelompok tani yang dilakukan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat dan Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bandung Barat.

Asep si calon eksportir mulai beralih mata pencaharian utama dari sayuran menjadi pengusaha kopi. Namun demikian usaha budidaya sayuran masih tetap ditekuninya sebagai mata pencaharian sampingan yang ditanam secara tumpangsari di lahan kopi.

Sejalan dengan mulai terkenalnya kembali produk kopi asal Jawa Barat, maka pada sekitar tahun 2010-2011 semangat masyarakat pekebun dalam membudidayakan kopi arabika semakin menggebu di berbagai wilayah Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Garut, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Purwakarta dan Sumedang. Kondisi pesatnya perkembangan budidaya kopi arabika juga nampaknya ditunjang oleh adanya peluang dari pihak Perhutani yang mengijinkan lahan dibawah tegakan tanaman kehutanan untuk ditanami jenis tanaman tahunan khususnya kopi arabika. Demikian halnya dengan kondisi yang terjadi di wilayah gunung halu Bandung Barat, dimana Asep dan kelompoknya beserta masyarakat petani lainnya mulai mendapat kesempatan untuk ikut memanfaatkan lahan perhutani sebagai lahan budidaya kopi melalui pola PHBM tersebut.

Tahun 2012-2013 produksi kopi hasil penanaman tahun 2010 di wilayah Gunung Halu sudah mulai berbuah secara melimpah. Asep dan kelompoknya saat itu sudah mulai bisa menangani bisnis kopi dalam bentuk jual beli Chery (buah kopi segar berwarna merah) yang dibeli dari petani sekitar untuk diolah menjadi gabah yang kemudian menjadi beras (grean bean)untuk dijual ke pedagang atau pengusaha kopi di berbagai daerah (Sumatera, Jateng, Jatim) dengan harga yang masih relatif murah. Keinginan untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi dengan cara mengolah buah kopi menjadi bentuk kopi gabah, lalu menjadi kopi berasan (Green Bean) dan kemudian menjadi kopi sangray (roasting) dan terakhir menjadi kopi bubuk siap seduh, nampaknya baru tahap angan-angan, karena keterbatasan modal, peralatan dan pengetahuan.

Asep sang pemimpin gapoktan kopi terus mencari akal untuk dapat meningkatkan nilai tambah bisnis kopi melalui berbagai pertemuan bisnis kopi. Dari hasil pergaulannya tersebut mulai terbukalah wawasan asep dalam mengembangkan bisnis kopinya, yaitu dengan cara mulai mencoba mengolahnya sendiri buah kopi menjadi Gabah, kemudian menjadi Green Bean, dengan bantuan pabrik pengolahan kopi yang ada di sekitar Bandung.

Aktivitas Asep yang tinggi dalam berbagai kesempatan pertemuan yang membahas tentang kopi, baik di tingkat Kabupaten Bandung Barat maupun di tingkat Provinsi, telah menghantarkan Gapoktan yang dipimpin Asep sebagai salah satu dari 5 Gapoktan yang menerima bantuan unit pabrik pengolah kopi melalui bantuan hibah Gubernur Jawa Barat terkait program penyerapan tenaga kerja di provinsi Jawa Barat tahun 2011. Tentu saja bantuan serupa itu menjadikan Asep dan kelompoknya bertambah semangat, karena sekarang kelompok tersebut sudah bisa melakukan pengolahan kopi sendiri dan tidak tergantung pada pihak lain, kecuali untuk urusan perdagangan kopi yang masih belum dikuasai asep sepenuhnya.

Produk Green Bean dari pabrik pengolahan kopi Asep dan kelompoknya mulai dilirik para pedagang kopi. Dimana kualitas Green Bean yang dimiliki Asep dinilai banyak kalangan cukup berkualitas, bahkan pihak peneliti dari PUSLITKOKA Jember pada sekitar bulan Juni 2012 pernah melakukan pengujian terhadap biji kopi arabika dari gunung halu, yaitu berdasar pada SNI 01-2907-2008 dengan hasil uji citarasa (cupping test) mendapatkan skor 83,42, sehingga dengan demikian kopi yang diproduksi Gapoktan Asep termasuk dalam specialty grade. Selanjutnya dengan kondisi citarasa yang khas dan unik menyebabkan kopi produk Asep menjadi rebutan para bandar, pedagang dan eksportir kopi.

Gebrakan terakhirnya Asep dalam menapaki dunia eksportir kopi, adalah baru saja memperoleh kesempatan untuk berkunjung ke salah satu kota terbesar di Erofa yaitu Brussel ibu kota Belgia, tiada lain dalam rangka memenuhi undangan pengusaha kopi di negara tersebut untuk menjalin bisnis kopi arabika asal Gunung Halu. Ruuaaaaar biasaaaaa.....!!! Kesempatan emas ini tentu saja tidak disia-siakan Asep, karena inilah yang dinamakan rezeki nomplok.

Sebagaimana Gapoktan kopi lainnya, Asep dan kelompoknya juga sudah mulai memikirkan label produk kopi yang akan digunakannya, mengingat sampai sejauh ini Asep belum memikirkan secara serius tentang label serupa itu, padahal biji kopinya (green Bean) dari Gapoktan Asep sudah cukup terkenal di perdagangan kopi. Pernah tercetus dalam suatu obrolannya, bahwa terdapat beberapa alternatif label yang ingin digunakannya, misalnya “Kopi Gunung Halu” (Mount Toya Coffee), atau Start Farmer Coffee, atau sejumlah nama lainnya, mungkin juga mau menggunakan nama “Kopi Asep Sukmana” atau “Kopi Tanpa Nama” saja sekalian. Pokoknya menurut dia bahwa nama itu harus mudah dikenal orang dan disukai konsumen sampai ke luar negeri.