•    
  •    
  •    
  •    

Kurnadi Syarif Iskandar

ketika pertama kali bertemu dalam suatu rapat pembahasan Indikasi Geografis Teh Java Preanger, seakan tidak percaya kalau beliau adalah mantan Direktur Utama ke-satu dari salah satu Perusahaan Perkebunan Besar di Indonesia. Sosoknya yang tenang membuat kita terperangah disaat mendengarkan cerita, pengalaman, perjuangan, kerja keras dan semangatnya dalam menasionalisasikan dan membangun sekaligus mempertahankan keberadaan perkebunan negara di Jawa Barat, khususnya perkebunan teh, beliau adalah H. Kurnadi Syarif-Iskandar.

Mantan Direktur Utama PTPN Aneka Tanaman VII ini dilahirkan di sebuah kota kecil di Jawa Barat, yaitu Sumedang pada tanggal 17 Maret 1927. Perhatiannya terhadap bidang pertanian sudah mulai tumbuh sejak kecil, hal ini jugalah yang mendorong beliau untuk memperdalam pengetahuan di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bogor pada masa penjajahan Jepang, namun belum sampai tamat sekolah beliau terpaksa pindah ke Malang karena Bogor sudah mulai di duduki orang Belanda, akhirnya beliau enyelesaikan studinya di Malang.

Kurnadi muda mengawali kariernya di bidang perkebunan pada tahun 1951, beliau dipercaya menjadi Cheef Pabrikase (Kepala Pabrik) di Perkebunan Malabar, dan setelah 5 tahun bekerja beliau disuruh cuti selama 7 bulan oleh orang Belanda, hal itu merupakan peraturan kerja yang berlaku secara umum baik untuk orang Indonesia maupun untuk orang Belanda, namun demikian masih tetap diberikan gaji penuh oleh orang Belanda. Oleh karenanya untuk mengisi waktu cuti tersebut beliau terpaksa kembali ke kampung halamannya di Sumedang.

Mungkin karena penguasa kebun waktu itu melihat prestasi dan kemauan kerja Kurnadi muda yang begitu tinggi, akhirnya beliau dipanggil kembali untuk bergabung di perkebunan Tanara yang berlokasi tidak jauh dari perkebunan Malabar. Pada saat itu beliau diberi tanggungjawab yang lebih berat dengan jabatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, beliau dipercaya memimpin perkebunan Tanara sekaligus menjadi kepala dari Cheef Pabrikase Tanara.

Pada saat sedang menjalankan kepemimpinannya di Tanara, kemampuan kerja Kurnadi Syarif Iskandar diuji kembali. Dimana pada akhir tahun 1957 beliau bersama Pandji Natadikara, Max Salhuteru dan Djuhana Sastrawinata yang saat itu masih berusia 30-an, dipanggil oleh Komandan Resimen X, untuk segera menjalankan perintah pengambil-alihan atau nasionalisasi sebanyak 13 perkebunan milik perusahaan Belanda menjadi perkebunan milik negara. Ke-13 perusahaan perkebunan tersebut yaitu perkebunan: Pasir Malang, Kertamanah, Sedap, Santosa, Cikembang, Malabar, Pasir Impun, Negla, Cinyiruan, Lodaya, Purbawindu, Pitasari dan Cikembar yang semuanya berlokasi di sekitar perkebunan Malabar.

 

Upaya nasionalisasi atau pengambilalihan kepemilikan perkebunan besar dari negara asing kepada pemerintah In­donesia dilakukan berkali-kali, yaitu. Pertama, sebagai konsekuensi dari kemenangan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Kedua, sebagai perwujudan deklarasi ekonomi untuk kemandirian bangsa pada tanggal 10 Desember 1957. Ketiga, dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia pada tahun 1964. Perkebunan-perke­bunan besar milik Belanda dinasionalisasi men­jadi milik pemerintah Republik Indonesia.

Seiring dengan kemampuan pemerin­tah Indonesia melakukan nasionalisasi perke­bunan besar milik Belanda, perkebunan rakyat yang dikelola para pekebun atau petani kecil terus melakukan ekspansi, relatif tanpa ban­tuan pemerintah. Bahkan dapat dikatakan tak terjadi kerjasama antara perkebunan besar dan perkebunan rakyat. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan kepentingan dan kemam­puan masing-masing. Nasionalisasi perkebu­nan segera diikuti oleh konsolidasi manajemen perkebunan negara dan pengembangan perke­bunan rakyat yang diatur pada satu kesatuan struktur dalam pemerintahan.

Pada era yang sama, yakni pada tahun 1958 Badruddin seorang pengusaha swasta Indonesia juga melakukan pembelian perusahaan perkebunan teh milik pengusaha Belanda yang pada saat ini menjadi perkebunan PT. Chakra – Perkebunan Teh Dewata.

Setelah berhasil menasionalisasikan ke-13 perusahaan perkebunan milik belanda tersebut, maka beliau selain ditugaskan mengelola perkebunan Tanara, juga dipercaya untuk mengawasi 13 kebun yang telah dinasionalisasikan tersebut beserta 1 pabrik kina di Pangalengan. Sungguh luar biasa sumbangan pemikiran, ide dan strategi beliau dalam mengambil alih 13 perkebunan milik belanda tersebut, mengingat langkah serupa itu tentu saja bukanlah pekerjaan yang mudah dan tentunya penuh dengan resiko keamanan terhadap dirinya, namun demikian dengan kepintarannya akhirnya berhasil melepaskan 13 kebun dari genggaman orang Belanda.

Mungkin karena garis tangan keberuntungan yang memihak padanya serta karena semangat juang tanpa pamrih yang beliau perlihatkan, maka selanjutnya perjalanan hidup telah membawanya menjadi seorang Direktur di perkebunan Pacenongan selama 1 tahun untuk mengelola perkebunan teh dan karet. Adanya reorganisasi perusahaan Pacenongan mengalihkannya menjadi Direktur Utama PT. Aneka Tanaman VII yang pada saat itu mengelola tanaman Teh dan Kina di Jawa Barat.

Riwayat kehidupan Kurnadi terus berjalan, dan pepatah mengatakan “orang yang berjuang keras akan selalu diberi tantangan, selama ia mampu mengatasi tantangan tersebut berarti ia adalah orang yang berhasil”, tak disangka pepatah ini benar benar beliau alami karena 1 tahun kemudian beliau terpaksa meninggalkan Pacenongan karena adanya reorganisasi perusahaan, dan inilah yang menghantarkannya menjadi Direktur Utama Teh Unit XIII, sekaligus menjadi konsultan PT. Aneka Tanaman di Medan. Dapat dibayangkan betapa sibuknya beliau, sambil mengelola Teh Unit XIII di jalan Ir. H. Juanda Bandung beliau juga harus terbang sesekali ke Medan untuk memenuhi tanggungjawabnya sebagai konsultan.

Karena usianya yang sudah tidak muda lagi maka pada tahun 1985 beliau pensiun dari PT.PN XIII, namun demikian setelah itu beliau tidak pernah berhenti memikirkan dan mendorong kemajuan perkebunan di Jawa Barat, khususnya perkebunan teh, dengan cara berkiprah sebagai konsultan PT.PN VIII yang merupakan gabungan dari PT.PN XI, XII dan XIII. Pengalaman dan perjuangannya yang sangat konsisten dalam mendukung pengembangan agribisnis pertehan di Jawa Barat, sangat pantas beliau diberi julukan “Tokoh Perkebunan”.

Saat ini dalam usianya yang memasuki 88 tahun, Bp. Kurnadi Syarif Iskandar masih sangat dibutuhkan kehadirannya ditengah-tengah komunitas Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Teh, yang tengah memperjuangkan pensertifikasian IG untuk teh di Jawa Barat. Sebagai pelaku sejarah dari perkembangan agribisnis teh di Jawa Barat tentu saja pemikiran beliau sangat dibutuhkan dalam merumuskan berbagai upaya perlindungan keberadaan perkebunan teh sebagai andalan perekonomian masyarakat Jawa Barat. Terima Kasih Pak Kurnadi, semoga Allah SWT membalasnya sebagai bagian dari amal ibadah Bapak terhadap bangsa dan negara tercinta ini.

(Hasil Wawancara Siti Purnama)