•    
  •    
  •    
  •    

H. KUSWANDI MD.(Tokoh Perkebunan Teh Jawa Barat)

H. Kuswandi MD. SH, seorang sarjana hukum lulusan Universitas Padjadjaran Bandung, berdarah asli Sumedang tapi dilahirkan di Kota Gantung Belitung Provinsi Bangka Belitung, Sumatera Bagian Selatan, pada tanggal 27 Januari 1945, atau telah berusia 69 tahun. Beliau adalah seorang pensiunan dari PTPN VIII, dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Biro Direksi (sekarang Sekretaris Perusahaan). Beliau mengawali kariernya sebagai anggota staf pada PT. Perkebunan XIII yang kini telah bergabung dengan PT. Perkebunan Nusantara VIII dengan corebusinis utamanya adalah komoditas teh.

Meski saat ini telah pensiun, namun banyak para tamu yang ingin berkunjung ke perkebunan teh di Jawa Barat selalu saja meminta agar beliau menemani mereka, terutama para tamu asing dari Belanda yang pernah memiliki nenek moyang di Hindia Belanda, ataupun para pelaku usaha teh yang ingin mempelajari perkembangan teh di Indonesia. Sebagai mantan Kepala Biro Direksi yang cukup memahami catatan sejarah per-teh-an Jawa Barat tentu saja tawaran serupa itu menjadi kebanggaan dan kesempatan baik bagi beliau agar tetap bisa mengikuti perkembangan pertehan dunia dan Jawa Barat. Apalagi sekarang beliau telah pensiun, sehingga waktunya menjadi lebih leluasa untuk menemani para tamu, disamping mendapat kesempatan untuk terus mendalami permasalahan tentang teh yang menjadi hobby utamanya

Kepedulian beliau yang begitu besar terhadap keberadaan teh di Jawa Barat dan memiliki berbagai catatan penting berikut mengoleksi bukti-bukti fisiknya tentang sejarah perkembangan teh di Jawa Barat, baik berupa foto, dokumen, maupun berang-barang atau peralatan masa lalu, maka sangat pantas jika beliau dijuluki sebagai salah satu “Sejarawan Teh atau Tokoh Perkebunan Teh” Nasional atau Jawa Barat pada khususnya. walaupun sebenarnya disaat beliau masih aktif bekerja, bidang pekerjaan yang digelutinya tidak langsung menangani teknis budidaya atau pengolahan teh, akan tetapi karena seringnya mendapat tugas tambahan yang diberikan perusahaan kepadanya untuk menemani tamu asing yang datang ke perkebunan teh, maka menjadikannya harus mampu memahami berbagai hal tentang perkebunan teh. Kamauannya yang gigih mendorongnya berusaha untuk terus menambah wawasan mengenai perkebunan teh. Disamping itu disaat menemani para tamu perusahaan tersebut sering kali beliau mendapat cendera mata berupa bahan bahan bacaan tentang perkebunan teh dari para tamu, sehingga wawasannya semakin lama semakin bertambah terutama karena sering bertukar pikiran juga dengan para tamu asing yang beliau dampingi.

Ketika beliau mulai diajak bercerita tentang perkembangan perkebunan di Jawa Barat, maka seketika itu pula beliau menuturkan panjang lebar tentang berbagai hal yang pernah dialaminya disertai bukti-bukti catatan sejarah yang mendukung ceritanya. Bakan pada suatu kesempatan beliaupun sempat menayangkan sebuah film dokumenter yang dibuat tahun 1937, yaitu tentang perkebunan teh Malabar di pangalengan bandung, dimana pada film tersebut disajikan tentang awal mula pembukaan hutan untuk perkebunan teh, kemudian tahapan pengolahan lahan, tahapan pembibitan teh, ahapan penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan di pabrik teh, pengujian kualitas produk teh serta pengiriman produk teh ke negeri belanda. Sungguh itu merupakan film dokumenter yang sangat langka, yang diperoleh beliau dari hasil persahabatannya dengan tamu-tamu nya dari negeri Belanda.

Begitulah Kuswandi apa adanya, dengan berbekal dokumentasi sejarah perkebunan yang dikelolanya, beliau ingin terus berbagai kepada generasi penerusnya, tentunya dengan tujuan untuk mencapai kemajuan pembangunan perkebunan di masa kini dan masa mendatang

Rumah Bambu

Pensiunnya dari PTPN VIII bukan berarti membuat Kuswandi berhenti mendalami, mempelajari dan mengumpulkan informasi tentang teh. Beliau mengaku semakin banyak waktu untuk menggeluti dan mengikuti perkembangan tanaman teh di tanah Priangan. Kecintaannya terhadap teh telah mendorong beliau mendirikan rumah bambu yang berlokasi di Kampung Cimurah, Kecamatan Karangpawitan Kabupaten Garut

Rumah bambu dibangun pada tahun 1999 ketika sang pemilik, H. Kuswandi Md, SH pensiun dari PTPN VIII sebagai wujud kecintaannya terhadap teh dan budaya sunda dengan diberi slogan “MENGENANG SESUATU YANG HILANG”. Pendirian rumah bambu ini terutama ditujukannya untuk membangkitkan kembali budaya sunda yang mulai dilupakan serta memberikan informasi tentang sejarah perkebunan teh khususnya di Jawa Barat.

Tampilan luar rumah bambu sekilas seperti rumah tinggal biasa tetapi setelah memasuki gerbang dan berada di dalamnya akan terasa suasana Parahyangan yang sangat kental. Didalamnya banyak ornamen-ornamen budaya sunda, baik bentuk bangunan dengan bentuk atap julang ngapak, serta peralatan pertanian khas parahiyangan.

Suasana parahiyangan menjadi sangat terasa ketika para tamu yang berkunjung begitu memasuki gerbang rumah bambu, langsung disambut oleh mojang dan jajaka Parahyangan dengan kesenian asli Parahyangan (Reog dan Calung) yang mengiringi langkah para tamu sampai ke arena rumah bambu yang berlokasi di bagian belakang. Dari arena ini kita bisa melihat bangunan unik konsep rumah tradisional sunda yaitu “rumah papandak” rumah panggung berdinding bilik dengan ciri utama arsitektur cagak gunting (tiang berbentuk gunting) dengan julang ngapak di ujung atap.

Di dalam rumah bambu tersebut kita dapat menemukan koleksi terkait dengan sejarah teh di Tanah Priangan, kisah masa lalu terkait keberadaan perkebunan teh di Priangan, berbagai macam kemasan teh dari beberapa negara di dunia, peralatan tradisional pengolahan teh dan berbagai dokumentasi suasana perkebunan teh zaman dulu. Begitu pula terdapat berbagai cuplikan cerita kehidupan para administratur perkebunan teh, cerita tanah priangan tempo dulu, kaum preanger planter, silsilah keturunan tokoh-tokoh perkebunan teh Jawa Barat jaman kolonial hingga ke pasca nasionalisasi tahun 1957. Terdapat pula jenis mata uang yang berlaku di perkebunan teh saat itu, yaitu berupa sepotong uang bambu bertuliskan nilai nominalnya, naskah-naskah administrasi perkebunan teh seperti surat timbang terima pernyataan penyerahan perkebunan dari pihak Belanda ke Indonesia, riwayat berbagai perkebunan teh di Jawa Barat, seperti Malabar, Arjasari, Gambung, dlsb. ada pula peta perkebunan jaman hindia belanda, contoh kalender sunda tahun 1949 dan berbagai catatan sejarah serta catatan budaya sunda lainnya.

Rumah bambu atau Bamboo House bukan hanya sebagai tempat penyimpanan catatan sejarah perkebunan di Jawa Barat, tetapi juga dapat dianggap sebagai miniatur kampung sunda yang khas dengan kolamnya, ada golodog, ada saung lisung, ada leuit, ada pawon/dapur, ada goah, ada tempat permainan ‘barudak sunda’, juga ada bangunan yang disebut bale patemon.

Rumah bambu disamping sebagai tempat wisata sejarah dan budaya, juga sering digunakan untuk pelatihan, gathering atau out-bound. Disana terdapat wahana drum jungkit, tangga goyang, kolam renang, tarik tambang berpadu dengan pemancingan ikan dan sawah warga.

Upaya Kuswandi untuk terus memberikan kontribusinya terhadap pembelajaran sejarah perkembangan perkebnan di Jawa Barat bagi generasi penerusnya saat ini, ternyata tidak hanya diwujudkan dalam bentuk Rumah Bambu tersebut, tetapi juga beliau wujudkan dalam bentuk gagasan lainnya, seperti ikut andil dalam mendukung pembentukan salah satu sudut ruang pamer sejarah perkebunan di museum Sri Baduga Bandung, serta gagasan mengembangkan Museum Teh Nasional di Jawa Barat yang beliau rintis sementara melalui pembentukan Museum On Line bersama rekan-rekannya.

 

Pembelajaran apakah yang kita peroleh dari sosok seorang Kuswandi, MD.?

Yang paling kita dapatkan adalah semangatnya. Yaitu Semangat yang tidak henti-hentinya untuk memberikan pemahaman kepada para generasi muda pengelola pembangunan perkebunan di Jawa Barat, bahwa sesungguhnya kondisi perkebunan yang sekarang ini berkembang di Jawa Barat, terutama perkebunan-perkebunan besar Teh, Kopi, Kina dan Karet, merupakan perkebunan yang telah dibangun oleh para pendahulu kita dengan pengorbanan jiwa dan raga, sehingga mendatangkan manfaat yang besar bagi perkembangan perekonomian masyarakat Jawa Barat.

Jasmerah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah), begitulah berulang kali Kuswandi menirukan kata-kata Bung Karno dengan penuh semangat. Takan ada kemajuan pada saat ini tanpa didahului oleh peran tokoh-tokoh masa lalu, termasuk dalam bidang perkebunan.

Segala bentuk catatan sejarah serta bukti-bukti fisik yang beliau kumpulkan di Rumah Bambu dan di tempat lainnya sengaja diwariskan untuk generasi mendatang sebagai bahan pemikiran atau pelajaran untuk kemajuan dimasa mendatang.

 

Tokoh Budaya Sunda

H. Kuswandi MD memang sesorang tokoh budaya Sunda yang punya kepedulian tinggi terhadap pelestarian budaya sunda. Meskipun sesungguhnya sebagai 'turunan' Sumedang yang tidak dilahirkan di tanah priangan, tetapi beliau sangat paham dan sangat mencintai budaya sunda. Yang dikuasainya bukan hanya detil budaya keseharian yang ingin dia ajarkan kepada para generasi muda disekitarnya, seperti bagaimana mengolah padi, bagaimana menanak nasi khas leluhur sunda, atau bagaimana tatakrama pergaulan orang sunda, tetapi juga beliau menguasai berbagai kesenian sunda yang sudah mulai dilupakan masyarakat luas, seperti halnya Kesenian Kecapi Suling Cianjuran, dimana pada masa jayanya dulu sekitar tahun 60-70-an kesenian tersebut sangat disukai sebagian besar masyarakat Priangan.

Sambil menutup acara silaturahmi di Rumah Bambu nya beliau mempersembahkan sebuah tembang sunda yang dahulu sangat terkenal dibawakan oleh Sinden Upit Sarimanah:

  • Girimis Kasorenakeun
  • Girimis kasorenakeun
  • ngeunteungan sewu katineung
  • Katumbiri layung langit
  • Awor jeung cipanon ngembeng 2x
  • Ngalangkang galeuh lamunan
  • Ngaliwung kalbu nu liwung
  • Naon deui nu rek didagoan
  • Duh.. kabeh geus mungkas adegan
  • Geus tamat lalakon leungiteun udagan
  • Mungkas mangsa pikeun muja jeung dipuja

(Lagu ini menggambarkan suasana kebatinan tentang seseorang yang sudah memasuki masa pensiun, dimana yang ada dalam lamunannya hanya kenangan indah masa lalu, yang jika diingat-ingat lagi hanya akan mendatangkan kesedihan, karena tidak ada lagi prestasi yang bakal bisa dibuat, masanya sudah lewat, takan ada lagi yang harus dihormat ataupun menerima penghormatan, segalanya sudah tuntas...)

Terima Kasih Pak Kuswandi, semoga semua karyamu bagi generasi penerus pembangunan perkebunan, akan menjadi amal kebaikan yang insyaallah dibalas setimpal oleh Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin

 

Bahan Rujukan

  • 1.Hasil Kunjungan Ke Rumah Bambu
  • 2.Hasil Diskusi, Tanya Jawab dengan pemilik Rumah Bambu “H. Kuswandi, Md, SH”