•    
  •    
  •    
  •    

H. Rachmat Badruddin (Komandan Bisnis Teh Indonesia)

H. Rachmat Badruddin, seorang pengusaha di bidang usaha perkebunan, beliau sudah tak asing lagi bagi komunitas perkebunan khususnya komunitas teh karena selain menggeluti dunia bisnis dibidang per-tehan, beliau juga dipercaya menjadi Ketua Umum Dewan Teh Indonesia (DTI). Pemilik PT. KBP Chakra ini menggeluti dunia usaha sejak beliau lulus pendidikan Sekolah Menengah Atas di Amerika. Bakat bisnis dan kerja keras yang dimilikinya diwarisi dari ayahnya, salah seorang pemilik perkebunan Dewata.

Putra Pelaku Sejarah Nasionalisasi Perkebunan

 

Dalam catatan sejarah perjuangan Nasionalisasi Perusahaan Perkebunan Belanda Tahun 1957, tercatat beberapa orang pegawai perusahaan perkebunan bernama Kurnadi Syarif-Iskandar, Pandji Natadikara, Max Salhuteru dan Djuhana Sastrawinata, yang saat itu dipanggil oleh Komandan Resimen X, untuk segera menjalankan perintah pengambil-alihan atau nasionalisasi sebanyak 13 perkebunan milik perusahaan Belanda menjadi perkebunan milik negara, yaitu perkebunan: Pasir Malang, Kertamanah, Sedap, Santosa, Cikembang, Malabar, Pasir Impun, Negla, Cinyiruan, Lodaya, Purbawindu, Pitasari dan Cikembar. Pada era yang sama, yakni tahun 1956, tercatat pula nama lain yaituBadruddin seorang pengusaha swasta Indonesia juga ikut berperan melakukan pembelian perusahaan perkebunan teh milik pengusaha Belanda, yaitu Perkebunan Teh Dewata yang kemudian menjadi perkebunan PT. KBP Chakra.

Siapakah Badruddin? Dia lah ayahanda dari H. Rahmat Badruddin, yaitu seorang yang sangat berperan dalam membentuk karakter Badrudin junior sehingga menjadi pengusaha teh nasional yang cukup sukses dan disegani pengusaha teh mancanegara. H. Rahmat Badrudin sangat bangga terhadap ayahandanya, dengan penuh semangat beliau menceritakan situasi ketika ayahandanya memulai usahanya sebagai pemilik kebun teh.

Menurut cerita beliau dan catatan sejarah, bahwa sebelum terjadinya gerakan Nasionalisasi Perkebunan pada tahun 1957 semua perkebunan yang ada statusnya dikuasai oleh orang Belanda, sedangkan orang pribumi hanya sebagai pegawai atau buruh diperkebunan tersebut. Pada saat itu suasana politik sedang memanas sejalan dengan gagalnya perundingan tentang pembebasan Irian Jaya, sentimen terhadap keberadaan pengusaha Belanda pun mulai marak terjadi dimana-mana, termasuk di perusahaan perkebunan. Suasana serupa itu telah membuat para pemilik perkebunan mulai mempertimbangkan untuk menjual kebunnya, terutama untuk perkebunan yang dianggap tidak menguntungkan baik karena jaraknya yang terlalu jauh, kebun sudah tidak terawat, gangguan keamanan dari DI/TII serta adanya buruh kebun sebagai ormas PKI (Sarbupri).

Saat itu salah satu perkebunan Belanda yang dikelola Kantor Managemen bernama Tiedeman van Kerchem Perkebunan Dewata, dengan managernya Mr. Kampfraath yang kebetulan teman dekat Badruddin senior, memberi informasi bahwa kebun Dewata akan segera dijual dan diharapkan Badrudin lah yang membelinya. Sejak itu Badruddin senior melakukan berbagai perundingan yang akhirnya memutuskan untuk membeli perkebunan Dewata, dan sejak itulah Rachmat Badruddin yang usianya 13 tahun mengikuti perkembangan Perkebunan Teh Dewata.

Badruddin senior asal mulanya memang bukan seorang pengusaha perkebunan, bahkan tidak mempunyai keahlian dalam mengelola perkebunan teh, namun karena kecintaannya terhadap perkebunan serta adanya keinginan yang kuat untuk dapat segera “memanusiakan” para karyawan perkebunan Belanda, maka Badruddin senior beserta beberapa orang temannya pun memutuskan untuk membeli perkebunan Dewata pada tanggal 11 September 1956 dengan atas nama PT. KBP Chakra.

Perjuangan Badruddin senior dalam memperoleh kepemilikan perkebunan Dewata tersebut ternyata tidaklah mudah. Awal mulanya pihak Belanda meragukan langkah yang diambil Badruddin, dengan alasan bahwa beliau tidak punya pengalaman dalam bidang perkebunan. Beliau ditanya Bankir Belanda bagaimana bisa berhasil, mengembangkan perkebunan Dewata, karena orang Belanda yang sudah ahli saja gagal, perkataan serupa itulah yang sering diucapkan dalam setiap perundingan.

Namun demikian jawaban Badruddin cukup simple “SAYA ORANG PRIBUMI, kalau saya memiliki perkebunan ini maka orang-orang pribumi yang menjadi karyawan di perkebunan ini akan saya persatukan untuk menjadikan kebun ini baik kembali, saya sanggup untuk menggerakkan mereka”. Pendek cerita, perkebunan Dewata berhasil dibeli Badruddin dalam kondisi yang lebih banyak rumput (gulma) dari pada tegakan tanaman teh nya, namun berkat kerja keras, serta perlakuan yang baik terhadap karyawan, disertai adanya kesatuan mental yang terpupuk antar karyawan dan pemilik, maka kemudian perkebunan Dewata dapat tumbuh berkembang jauh lebih bagus, dari waktu dikelola Belanda. Pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa ‘Inlander’ bisa lebih baik dari Belanda, jadi jangan pernah kita merasa rendah diri, namun jangan pula pongah terhadap siapapun.

 

Meniti Karier Bisnis Teh di Amerika

Darah pebisnis yang mengalir dari ayahandanya telah mengantarkan Rachmat untuk mengikuti jejak bisnis ayahnya selepas menyelesaikan sekolah menengah atas di Amerika, hal itu ditunjukkannya dengan motivasi yang kuat dalam membantu memasarkan produk teh Dewata, beliau menjadi salesmen teh di New York. Asalnya beliau magang di salah satu perusahaan yang menjadi pelanggan pembeli teh Dewata selama 6 bulan, namun karena merasa nyaman dalam berbisnis teh maka beliau terjun langsung sebagai penjual teh di New York City kota bisnis terbesar didunia.

Tiga bulan pertama hasil penjualannya sangat bagus, beliau sangat senang dan berupaya mengumpulkan uang untuk memboyong anak dan istrinya ke New York, namun apa dikata 3 bulan berikutnya penjualan menurun sehingga Rachmat disuruh pulang ke Indonesia karena dianggap beban pengeluaran beliau lebih besar dari berbanding kontribusinya pada perusahaan. penghasilannya.

Pikiran Rachmat berkecamuk, rencana memboyong keluarga ke New York terancam gagal, rasa malu mengganggu pikirannya karena sanak saudara di Indonesia telah mengetahui rencana memboyong keluarganya tersebut. Kemudian Rachmat mencoba meminta diberi kesempatan untuk memperbaiki kinerja selama 3 bulan lagi, namun tidak disetujui, beliau tak habis akal untuk minta waktu kembali meskipun hanya 1 bulan saja, akhirnya berkat kerja keras dan motivasi yang kuat dalam jiwanya sehingga perjuangan mulai menunjukkan hasil yang baik, dan beliaupun berhasil meningkatkan pemasukan jauh lebih tinggi diatas pengeluarannya. Peristiwa ini telah menghantarkannya untuk dapat lebih lama lagi tinggal di New York, sekaligus keluarganya mendapat kesempatan untuk bisa berangkat ke New York.

Tiga tahun tinggal di New York membuat seorang Rachmat telah menjadi “BISNISMAN” yang sukses, namun kemudian persyaratan administrasi keimigrasian yang tidak bisa diperpanjang lagi menuntut Rachmat harus segera kembali ke Indonesia. Meskipun demikian jiwa bisnisnya tidaklah padam, Rachmat pun kemudian menjadi perwakilan perusahaan Amerika tesebut di Indonesia yang bergerak dalam pemasaran kopi, teh dan lain lain, hal ini ditekuninya selama 6 tahun dan membuatnya semakin sukses dibidangnya.

 

Melanjutkan Perjuangan Ayahanda

 

Tahun 1990 merupakan tahun berduka bagi Rachmat karena pada tahun tersebut ayahandanya “Bapak Badruddin” meninggal dunia, kedudukan ayahanda sebagai pemimpin perusahaan PT. Chakra mulai diambil alih oleh Rachmat. Sebagai pebisnis muda yang berpengalaman di luar negeri dia tunjukan dalam mengelola PT Chakra yang mulai membuahkan hasil yang tidak sedikit. Beliau kembali memperluas usahanya dibidang perkebunan dengan membeli perkebunan Negara Kanaan, perkebunan Megawati, perkebunan Gunung Kencana, perkebunan Kabawetann di Bengkulu.

Pada awal pembelian perkebunan Negara Kanaan, Megawati, Gunung kencana dan Kabawetan, kondisinya tidak terurus baik sehingga tidak menguntungkan, namun berkat tangan dingin Rachmat akhirnya perkebunan-perkebunan tersebut berubah menjadi sangat baik kondisinya dengan produksinya yang tinggi. Dalam memanage perusahaan beliau tidak membedakan suku/ras, siapa saja yang mempunyai kemampuan baik dan komitmen dalam bekerja maka tak segan segan akan dipromosikan. Walaupun saudara atau teman satu suku jika tidak kualifait maka tidak akan diangkat sebagai karyawan karena sejak perkebunan dikelolanya beliau langsung menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), cara budidaya yang baik, demikian pula dalam hal pananganan pabrik, untuk pengolahan beliau telah menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP) sehingga hanya orang-orang yang benar-benar mau berkomitmen untuk melaksanakan aturan yang diterima diperusahaan beliau.

Untuk bisa terus eksi Rachmat sering mengutip Darwin bahwa “MAKHLUK YANG BISA TERUS BERTAHAN BUKANLAH YANG TERKUAT, ATAU PALING PANDAI TAPI ADALAH MAKHLUK YANG BISA BERADAPTASI DENGAN PERUBAHAN” artinya sebuah perusahaan akan mampu bertahan jika perusahaan tersebut beradaptasi dengan tuntutan lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya.

Sehingga beliau menyebutkan Falsafahnya sederhana yaitu “KEUNTUNGAN BAGI PERUSAHAAN, LAYAKNYA NAPAS BAGI MANUSIA. BAHWA BERNAPAS BUKAN TUJUAN HIDUP DAN KEUNTUNGAN BUKAN TUJUAN UTAMA PERUSAHAAN, TAPI TANPA KEDUANYA TIDAK AKAN ADA KEHIDUPAN”.

Beliau juga sangat mempedomani ucapan Henry Ford yang relevan juga untuk Teh “Sudah waktunya bagi kita untuk bisa memproduksi Teh dengan kualitas yang terbaik, bisa menjual dengan harga bersaing dan mampu membayar karyawan setinggi tingginya”

 

Sang Komandan Bisnis Teh Indonesia

Jiwa nasionalis Rahmat jelas mengalir dari ayahandanya. Sebagai seorang pengusaha pribumi yang cukup maju dia tidak ingin sendian dalam meraih sukses. Rahmat sangat paham permasalahan yang tengah dihadapi para pengusaha teh tanah air, beliau sangat menyadari bahwa pelaku usaha teh, terutama teh rakyat, belum menjadi tuan dinegerinya sendiri, oleh karenanya beliau sangat ingin memperjuangkannya melalui organisasi resmi. Itulah makanya mengapa saat ini beliau mendedikasikan diri sebagai Ketua Dewan Teh Indonesia (DTI) sejak tahun ....

Melalui lembaga DTI itu Rahmat terus berupaya menyuarakan berbagai arah kebijakan yang dapat mengatasi permasalahan teh di indonesia, baik dari aspek teknis budidaya, aspek pengolahan, hingga ke aspek pemasaran di dalam dan di luar negeri. Melalui berbagai forum internasional dia selalu lantang menyuarakan kepentingan pelaku usaha teh di Indonesia agar produk tehnya dapat dihargai sejajar dengan produk teh mancanegara. Bahkan atas prakarsa beliaulah sebuah forum bergengsi tingkat dunia IGG on Tea (Inter Govermental Group on Tea) telah dapat dilaksanakan pada tahun 2014 ini di Kota Bandung.

Sebagai Ketua Dewan Teh Indonesia Rahmat Badrudin sangat piawai dalam menyampaikan paparannya tentang berbagai hal yang menyangkut Teh. Pidatonya enak didengar, rangkaian kalimatnya sangat sistematis dan menarik perhatian, bahasa inggrisnya sangat fasih, sama fasihnya dengan tutur kata bahasa sundanya yang sopan. Pantaslah beliau dijuluki sebagai Komandan Bisnis Teh Indonesia .

Permasalahan bisnis teh di Indonesia saat ini memang belum bisa dibilang menggembirakan, banyak permasalahan dari hulu hingga hilir yang menjadi pekerjaan rumah seluruh pemangku kepentingan agribisnis teh di tanah air. Mengenai kondisi itu dalam sebuah Forum Penyelamatan Agribisnis Teh Nasional di Bandung Rahmat Badrudin pernah mengungkapkannya dalam bentuk sajak sbb:

 

BALADA POHON TEH

Telah hadir aku di bumi pertiwi selama dua puluh dasawarsa,

Dibawa Belanda dari China menyeberangi samudra Hindia,

Beranak pinak di berbagai tanah pilihan Nusantara,

Hidupku sejahtera, menyangga air mencegah banjir,

Mengairi sawah ladang, dikelilingi hutan yang terjaga.

Di awal Republik merdeka, di saat Negeri ini butuh dana,

Aku tak pernah alpa menimba devisa, melancarkan roda ekonomi Negara,

Aku layaknya garam-kehidupan bangsa, menyediakan lapangan kerja,

Ibarat gincu-Negeri, memukau siapapun yang menatapnya,

Tanpa kehadiranku, tak terbayangkan paras Indonesia merdeka.

Karenanya tak berlebihanlah kalau aku dengan lantang berkata,

Aku telah berperan menghidupi Indonesia dikala sengsara,

Hei kawan, Hei Indonesia! Sekarang aku lagi nestapa....

Dalam dua dasawarsa ini kau terus mengambil dan mengambil....

Tanpa memberi, melakukan pembiaran atas kesehatanku

Berdalihkan harga terimbas kelebihan pasokan Dunia,

Habis manis sepah dibuang.

Kalau tidak ada solusi, dan kau tetap tidak peduli, ajalku akan tiba,

Bencana dan huru hara pasti datang,

Namun, aku berbesar hati,

Alhamdulillah terlihat setitik cahaya, seutas tali,

Harapan kugantungkan pada Dewan Teh Indonesia yang dengan Pemerintah dan berbekal buku “Secangkir kisah Pecinta Teh”

Bertekad menjadikan ku kembali menjadi tuan di rumah sendiri,

Berkiprah di kancah Dunia,

“BANGKITLAH TEH INDONESIA!”

 

Rahmat Badrudin Sang Motivator

“Sang Motivator” sebuah sebutan yang pantas diberikat kepada seorang Rachmat Badruddin. Beliau selalu menunjukkan perhatian kepada siapapun yang dikenalnya. Nasehat motivasi tentang kemajuan berusaha selalu menjadi bahan pembicaraan beliau terhadap rekan-rekan disekitarnya. Salah satu nasehatnya yang cukup berkesan adalah: “Pada setiap sukses yang diraih selalu menempel benih kehancurannya”. Bibit kehancuran selalu melekat pada diri seseorang disaat sedang berada pada kesuksesan, oleh karena itu selalulah mawas diri, kontrol ucapan dan perbuatan. Hidup hanya sekali, jangan biarkan diri kita hancur karena ingin meraih sukses dengan cepat”

Beliau juga mencontohkan ucapan Presiden JF Kennedy “Kalau sebuah system tidak bisa membantu mensejahterakan yang banyak tapi miskin, maka system tersebut tidak akan bisa menyelamatkan yang sedikit tapi kaya”. Semboyan ini sangat tepat diterapkan dalam pengembangan ekonomi negara yaitu “Sejahterakan Perkebunan rakyat/petani agar perkebunan besar negara dan swasta selamat”.

Terima Kasih Pak Rahmat, engkaulah salah satu sumber inspirasi bagi generasi muda perkebunan. Semoga semua perjuangan yang telah dirintis menjadi pembuka jalan bagi generasi penerus pembangunan perkebunan, jangan berhenti memberi semangat, walau usiamu sudah tak muda lagi namun semangat juang mu mencerminkan semangat anak muda yang tak gentar melangkah menapaki jalan kebun menuju gerbang kesuksesan. Semoga generasi muda perkebunan mampu berbuat sepertimu. Terima kasih segalanya, sukses terus untuk mu pak Rahmat.

 

(Hasil Wawancana Siti Purnama)