•    
  •    
  •    
  •    

NIKMATNYA KOPI SANG PILOT

Kemunculan pria gagah ini di dunia perkopian barulah masuk tahun ke 4 atau ke 5, tetapi prestasinya langsung melesat tinggi bagai deru pesawat tempur. Prestasi Bronze Medal untuk cita rasa kopi kelas dunia yang diraihnya di ajang MICE (Melbourne International Coffee Expo) 2017 pada bulan Maret lalu, membuktikan bahwa kemunculannya di dunia perkopian nasional maupun internasional tersebut telah dijalaninya secara serius dan penuh perhitungan, walaupun harus ditebus dengan meninggalkan dunia penerbangan yang Sam impikan di Amerika Serikat.
Dialah Sammy Broery Yusuf Legi, dengan panggilan akrabnya “Sam”, seorang mantan pilot kelahiran Manado tahun 1971 yang dibesarkan di Kota Bandung, alumnus SMPN 5 Bandung, kemudian SMA di Jawa Timur, sempat di terima  di Universitas Merdeka Malang, kemudian balik lagi ke Bandung. Mimpinya untuk menjadi seorang penerbang telah membawanya ke Negeri Paman Sam pada tahun 1993 untuk menuntut ilmu menjadi seorang  pilot dan mendapat Private Pilot Licence (PPL) pada tahun 1993, kemudian hijrah ke beberapa Negara untuk menambah pengalaman di dunia Usaha. Dan Australia adalah salah satu Negara yang membentuk sikap Sam dalam berdagang.
Hari-harinya sebagai seorang pilot telah dilalui Sam dengan penuh kedisiplinan keseriusan, ketekunan, focus dan selalu menjaga komitmen. Namun demikian kecintaannya terhadap tanah kelahirannya, Indonesia, telah mengalahkan segalanya, sehingga pada tahun 1996 Sam memutuskan untuk kembali pulang ke tanah air dan mengembangkan bisnis di negerinya sendiri.   
Sekembalinya di tanah air Sam mencoba berbagai peluang bisnis di pulau Bali, yang akhirnya pada tahun 2013 Sam telah menentukan pilihan bisnisnya pada bisnis kopi, yaitu berupa usaha jual beli green bean di daerah Bali dan NTB. Nampaknya harum aroma kopi NTB yang dia kelola bersama para petani setempat telah menyebabkan Sang Pilot cinta berat dengan pekerjaannya hingga akhirnya Sam memutuskan untuk terus hinggap mendarat di dunia perkopian yang dia pernah kembangkan di Bali. Pengalaman dalam dunia penerbangan, serta pergaulannya dengan para pemain kopi kelas dunia menyebabkan Sam cepat memahami tata niaga kopi specialty baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan pertimbangan bisnis dan hasil pencermatannya terhadap perkembangan perkopian tanah air, termasuk juga karena panggilan rasa cintanya terhadap ibunda yang tinggal di Bandung, maka pada tahun 2014 Sam hijrah ke Kota Bandung sekaligus mengembangkan hobinya di dunia perkopian dengan cara membangun Samm’s farm coffee di kawasan Gunung Manglayang Bandung Utara. Di kawasan tersebut Sam mulai mengembangkan kebun kopi sekitar 10 ha di lahan perhutani dengan dukungan benih unggul dan mentor teknik budidaya dari salah seorang pakar kopi Jawa Barat H. Dinuri, serta bantuan dan dukungan dari rekan-rekannya di Negri Paman Sam.
Pada awal pengembangan lahan kebun kopi di kawasan Manglayang, kemampuan Sam dalam teknik budidaya kopi sempat disangsikan oleh para petani kopi setempat yang sudah lebih dulu berkebun kopi di kawasan tersebut. Tetapi dengan bekal keyakinan dan pengetahuan yang diperoleh dari para Mentornya, serta keahliannya dalam hal meracik pupuk organik maka dengan penuh keyakinan dia terapkan segenap kemampuannya tersebut pada tanaman kopi yang mulai dibangunnya.
Berkat kerja keras dan ketekunannya, maka setahun kemudian kopi yg dia tanam sudah tumbuh subur dan mulai belajar berbuah. Kondisi tersebut jauh meninggalkan pertumbuhan kopi yang ditanam para petani kopi sekitarnya. Akhirnya para petani tersebut mulai mengakui kemampuan Sam dan berbalik berguru kepadanya, terutama dalam hal pemanfaatan pupuk organik, yang menurut Sam berupa tekonologi “NATURAL FARMING” yang memanfaatkan kearifan local.
Sambil menunggu hasil kopi dari kebunnya sendiri, Sam mengembangkan usaha pengolahan biji kopi dengan cara menampung hasil panen buah kopi (chery) dari petani kopi setempat. Pergaulan Sam dengan petani kopi di kawasan manglayang terus terjalin dengan baik, sebagaimana  layaknya sistem inti-flasma yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Karena target produksi kopi yang dikembang Sam ini berorientasi sebagai kopi specialty, maka beberapa persyaratan kualitas produk diterapkan dan disepakati dengan para petani, termasuk harga jual beli buah kopi yang cukup tinggi dibanding kawasan lainnya. Tahap berikutnya Sam memperluas lahan kopinya seluas 6 Ha di lokasi yang sama, kemudian di Palintang sekitar 10 Ha serta di Pangalengan sekitar 10 Ha.
Sebagai pendatang baru di dunia perkopian Jawa Barat, tentu saja perjalanan Sam tidak semulus laju pesawat terbang yang pernah dikemudikannya. Berbagai tantangan dari para pesaingnya sering berdatangan silih berganti, terutama dari para kaki tangan bandar-bandar besar yang merasa terusik dengan sistem kemitraan usaha kopi yang dirintis Sam bersama petani kopi di Kawasan Gunung Manglayang tersebut. Namun demikian semua itu dihadapinya dengan penuh rasa percaya diri, serta lebih mengedepankan pendekatan kemitraan. Satu kata kunci yang selalu dipegang Sam adalah “LAKUKAN SEGALANYA DENGAN HATI”.
Persaingan harga kopi tak jarang mendistorsi komitmen yang telah dibangun dalam kemitraan tersebut. Sering terjadi  beberapa petani tidak mau menjaga komitmen dalam hal menjual hasil panen kopinya ke pihak lain karena tergiur harga yang lebih tinggi, padahal semua itu hanya sekedar iming-iming   sesaat yang akan mengecewakan petani dikemudian hari. "Gangguan komitmen semacam ini yang harus menjadi perhatian pemerintah, perlu dilakukan pembinaan terhadap mental para petani kopi, agar menjaga kemitraan usaha yang sudah dijalin demi kemajuan bersama," kata Sam.
Waktu terus berjalan, dimana dalam kurun waktu 2014-2016 kebangkitan kembali perkopian Jawa Barat tengah hangat-hangatnya dipacu dan dikembangkan. Dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menata kembali agribisnis kopi di Jawa Barat terus digalakan, baik dalam hal penjaminan mutu kopi dengan cara mendorong diperolehnya Sertifikat Indikasi Geografis Kopi Arabika Java Preanger, kemudian dengan diberikannya stimulan peningkatan produksi melalui pemberian benih kopi gratis bersertifikat dari Gubernur untuk para petani kopi Jabar, dukungan teknologi budidaya, dukungan sarana prasarana unit pengolahan hasil kopi, dukungan pembinaan mutu hasil, maupun dukungan penguatan kelembagaan.
Dalam suasana semangat perkopian Jawa Barat serupa itulah maka Sam merasa yakin untuk terus membangun usaha kopinya di Jawa Barat. Keseriusan usaha tersebut dia buktikan dengan membangun outlet kopi Manglayang dengan nama GEDOGAN COFFEE HOUSE, yang beralamat di Jl. Cimanuk No.6 Bandung dan di Jl. Seram No.1 Bandung dengan nama GEDOGAN COFFEE & TEA.  Berkat keseriusan dan ketekunannya itu maka hanya  dalam rentang waktu 1 tahun Sam telah memiliki 2 outlet kopi berkelas di Kota Bandung.  
Setiap hari Gedogan Coffee Hause dan  Gedogan Coffee & Tea selalu diramaikan oleh  pengunjung dari berbagai kalangan usia, baik remaja, mahasiswa maupun para pencinta kopi fanatik. Kopi Manglayang specialty yang disajikan dengan berbagai macam racikan dan memiliki cita rasa yang khas telah menjadi buah bibir pencinta kopi fanatik di Kota Bandung, maupun tamu luar kota bahkan tamu mancanegara yang datang ke kota Bandung.  Berbagai produk unggulan yang disajikan di kedua outlet ini adalah red wine coffee serta produk turunannya yaitu body scrab coffee.

 

Promosi Gedogan Coffee Hause dan  Gedogan Coffee & Tea dari mulut ke mulut nampaknya telah tembus ke pihak promotor festival kopi tingkat dunia, sehingga beberapa permintaan ekspor Kopi Manglayang mulai datang dari beberapa pihak, salah satunya dari  Australia. Untuk menyikapi permintaan ekspor tersebut, maka Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Perkebunan, memfasilitasi untuk menjajaki peluang pasar kopi tersebut melalui KJRI di Sydney, Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) dan Indonesian Investment Promotion Centre (IIPC) di Sydney.
Akhirnya penjajakan kesempatan pasar ekspor kopi itu mulai menampakan hasilnya, yaitu pada bulan Maret lalu melalui kompetisi dalam rangka The Australian International Coffee Awards (AICA) pada Melbourne International Coffee Expo (MICE) 2017, maka Sample kopi dari Gunung Manglayang milik Samm’s Farm beserta Kopi Frinza Milik H. Wildan diikutsertakan dalam kompetisi tersebut. Hasilnya sungguh luar biasa, Sample kopi milik Samm’s  Farm meraih medali perunggu (Bronze Medal) untuk kategori 'Espresso single origin' sedangkan Sampel Kopi Frinza milik H. Wildan mendapatkan mendali emas (Gold Medal) untuk kategori "Cappucino-Milk Blend"
Prestasi internasional tersebut otomatis menjadi  hadiah  istimewa bagi Pemerintah Provinsi  Jawa Barat yang tengah semangat membangun perkopian Jawa Barat, setelah sebelumnya pada tahun  2016  mendapat prestasi serupa di ajang festival kopi SCAA Atlanta  yang telah melambungkan beberapa nama petani kopi Jabar seperti: Ayi Suteja, H. Wildan, Asep Sukmana dan yang lainnya  sebagai champion di ajang uji cita rasa kopi tersebut.
Samm’s  Farm dengan Gedogan Coffee nya memang  belum lama berkiprah di dunia kopi Jawa Barat, namun prestasi dan sukses story Sang Mantan Pilot ini perlu menjadi teladan bagi para petani kopi Jawa Barat. Sam berharap, para petani kopi Jawa Barat tetap fokus untuk  memproduksi kopi specialty berkelas dunia, dan konsisten dengan mutu.  “Lahan kopi di Jawa Barat sangat terbatas, sehingga kalo bermain di kelas reguler dengan target memaksimalkan volume maka akan kalah bersaing dengan daerah lain yang memiliki lahan luas. Oleh karena itu sebaiknya fokus saja di jenis kopi specialty, meskipun dengan volume terbatas tetapi memiliki harga jual serta daya saing yang tinggi”, katanya. Untuk sekelas kopi Java Preanger peluang daya saing serupa itu sangat mungkin dicapai. Lahan di Jabar sangat subur, kaya nutrisi, iklimnyapun mendukung, semua itu terbukti dalam berbagai event festival kopi bahwa kopi asal Jawa Barat selalu mendapat tempat sebagai champion. Mari para petani Jabar untuk terus melesat terbang tinggi meraih prestasi di dunia perkopian dengan mengusung 3 (tiga) kata kunci: Disiplin, Fokus dan Komitmen.

(Siti Purnama)