•    
  •    
  •    
  •    

ENOK SRI KURNIASIH

Dari ribuan Alumni Bimtek Wira Usaha Baru (WUB) yang diselenggarakan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, terdapat sosok pengusaha pejuang yang pernah mengalami jatuh bangun dalam perjalanan kariernya, sebelum akhirnya memantapkan diri menekuni pilihan usaha mengolah kekayaan sumber daya alam di tanah kelahirannya sendiri. Dialah Enok Sri Kurniasih, yang akrab dipanggil Enok, lahir di Banjarsari Ciamis tahun 1974,  Sarjana Kehutanan Unwim Angkatan 1993, yang pada tahun 2016 menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Barat sebagai salah satu Alumni WUB berprestasi di bidang perkebunan.

Enok yang didukung oleh suaminya, Dede Supriadi, sekarang dikenal sebagai pengrajin olahan Nata de Coco dari Banjarsari Ciamis, yaitu sejenis makanan/manisan yang mirip agar-agar, biasanya berbentuk dadu kecil berwarna putih, yang bila digigit/dipegang terasa kenyal-kenyal,  terbuat dari olahan air kelapa atau limbah santan kelapa melalui proses bacterisasi oleh Acetobacter Xylinum.

Keunikan dari Nata de Coco produksi Enok ini adalah selain disajikan dalam jenis natural atau jenis manisan biasa saja, juga diolah dengan berbagai pilihan rasa, seperti: Rasa Jeruk, Rasa Melon, Rasa Mangga, Rasa Honje, Campuran Susu, dlsb. Berbagai produk olahannya tersebut sekarang sudah mulai banyak dikenal di berbagai toko manisan beberapa kota di Jawa Barat, bahkan untuk jenis produk bahan olahannya sendiri (lembaran Nata de Coco ukuran 1,5x40x60 cm) sudah lama memasok beberapa pengrajin manisan di kota Cianjur, Sukabumi dan Bogor.  

 

Perjalanan Karier

Memiliki usaha sebagai pengrajin produk olahan Nata de Coco sebagaimana yang ditekuninya sekarang, bukanlah cita-cita yang sebelumnya diidam-idamkan oleh Enok. Sebagai seorang remaja yang dibesarkan dilingkungan pedesaan yang masih asri dengan suasana kebun dan hutan telah sejak lama menginspirasi Enok untuk menjadi pengelola hutan yang kaya dengan sumber daya alamnya. Oleh karenanya setelah lulus SMA di Ciamis tahun 1993 selanjutnya Enok melanjutkan kuliah di Jurusan Kehutanan Universitas Winaya Mukti (Unwim) Bandung.

Malang tak dapat dihindari, sewaktu menjalani masa perkuliahannya di bulan Oktober tahun 1994 Enok mengalami kecelakaan lalu lintas, yaitu ketika rombongan mahasiswa Unwim akan mengikuti kegiatan Kemah Wanabhakti di Udayana Bali, namun baru sampai wilayah Alasroban Semarang tiba-tiba bis rombongan mahasiswa tersebut jatuh mengalami kecelakaan terperosok ke jurang. Dalam kecelakaan tersebut bagian tangan kanan Enok Kurniasih mengalami patah tulang dan harus diamputasi dari sekitar sikut.

Setelah kejadian itu Enok mengalami shok dan sempat istirahat kuliah selama setahun. Namun kemudian berkat dorongan moril dari Menteri Kehutanan saat itu (Inten Suweno) akhirnya Enok merasa termotovasi lagi untuk terus menyelesaikan kuliahnya.

Setelah lulus menjadi Sarjana Kehutanan Enok mencoba melamar kerja kesana kemari, bahkan pada suatu kesempatan dia hampir lulus di seleksi akhir penerimaan pegawai di salah satu Bank Nasional, tetapi pada tahap seleksi kesehatan dia dinyatakan tidak lulus. Tanpa kenal menyerah Enok terus berjuang mencari pekerjaan, hingga akhirnya pada sekitar tahun 2000-an dia mendapat kesempatan bekerja pada perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di Pontianak Kalimantan.

Pekerjaan di Kalimantan tersebut tidak lama dijalani oleh Enok, karena orang tuanya di Banjarsari merasa khawatir putrinya bekerja jauh di pulau sebrang. Akhirnya pada pertengahan tahun 2000-an Enok dipanggil pulang untuk mencari pekerjaan di kampung halamannya saja. Kebetulan pada waktu itu di Banjasari tengah ada kegiatan industri pembuatan Nata de Coco yang di pelopori oleh H. Endus Zaenal Mustofa dengan nama perusahaannya Trinajaya. Di perusahaan itulah Enok Kurniasih diterima bekerja sebagai tenaga personalia, dengan gajih yang tidak begitu besar untuk ukuran kebutuhan hidup saat itu, tetapi ada kebahagiaan lain yang didapatkan Enok yaitu bisa dekat dengan keluarga yang menyayanginya.

Karakter Enok yang kreatif dan berfikiran maju terus berfikir bagaimana caranya meningkatkan pendapatan bagi kehidupannya, sehingga selama menangani personalia perusahaan dia juga belajar agar bisa memproduksi sendiri Nata de Coco di rumahnya. Maka dengan ijin dan bimbingan dari H. Endus Zaenal Mustofa, yang dianggap sebagai gurunya dan penyelamat dari keterpurukan ekonominya, enok mulai belajar memproduksi Nata de Coco.

Upaya pengembangan usaha mandiri yang dilakukan Enok tesebut lambat laun membuahkan hasil. Dari produksi skala kecil di rumahnya, kemudian mengajak dan menularkan ilmunya ke tetangganya. Hingga akhirnya usaha produksi rumahan tersebut berkembang menjadi industri kelompok.

Pada Tahap awal produk Nata de Coco dari Enok dkk di terima di Perusahaan Trinajaya sebagai bapak angkat perusahaannya, dan sebagiannya lagi dipasarkan sendiri ke berbagai daerah, antara lain Tasikmalaya, Bandung, Cianjur dan Bogor.

Perusahaan Trinajaya sendiri yang sejauh itu berperan sebagai bapak angkat bagi Enok dkk, jaringan pasarnya semakin luas, bahkan memiliki pasar khusus di luar negeri. Perkembangan selanjutnya Trinajaya dibeli oleh investor dan sekarang berubah nama menjadi PT. Haldin.

Dengan berubahnya status bapak angkat perusahaan tersebut maka terjadi penyesuaian aturan pasokan barang hasil industri rumahan ke perusahaan tersebut, yang akhirnya mengharuskan kelompok pengrajin Enok Kurniasih dkk untuk mencari peluang pasar lain yang bisa ditembus.

Berkat kegigihannya tersebut akhirnya sekitar tahun 2010-an peluang pasarpun terbuka lebar, pesanan mulai berdatangan dari berbagai kota terutama dari Bandung, Bogor dan Cianjur, dimana Enok bersama kelompoknya mampu memasok barang sekitar 10-12 ton per minggunya. Waktu itu jenis produknya yang dikirim masih berupa lembaran Nata de Coco, belum dalam bentuk produk olahannya.

 

Kolap karena ditipu

Perjalan usaha yang dijalani Enok Kurniasih tersebut ternyata tidak selalu berjalan mulus, dimana pada suatu saat (sekitar tahun 2011-2012) perputaran uang penjualan produk Nata de Coco tersebut mengalami kemacetan atau tidak dibayar oleh mitranya senilai Rp 97 jutaan. Berbagai upaya untuk menagih utang sudah dilakukannya, tapi tidak berhasil. Bahkan banyak pula yang menawarkan jasa penagih hutang. Akhirnya Enok bersama suaminya pasrah menerima nasib sambil berserah diri kepada Allah SWT atas musibah tersebut.

Bagi Enok dan kelompoknya tentu saja uang senilai itu merupakan modal usaha yang cukup besar, apalagi uang sebanyak itu merupakan modal dari anggota kelompok yang harus dipertanggung-jawabkannya. Akibatnya Enok dan Suaminya meminjam uang dari Bank Jabar sebanyak dua tahap untuk melunasi semua kerugian anggota kelompoknya tersebut. Gara-gara kejadian itu Enok dan suaminya menjadi sangat terpuruk karena tidak bisa menjalankan produksi lagi, bahkan sempat beralih mencari nafkah secara serabutan untuk bisa menyambung hidup.

Sebagai seorang yang memiliki jiwa pejuang, Enok beserta suami tidak mau terus-menerus meratapi keterpurukannya itu. Mereka mencoba bangkit kembali di tahun 2014 dari kondisi ‘nol’ dalam jenis usaha yang sama, yaitu masih memproduksi Nata de Coco.

 

Alumnus Bimtek WUB

Sambil menekuni kembali usahanya, Enok juga terus melengkapi diri dengan berbagai ilmu dan pergaulan di bidang pengembangan usaha, agar mampu memahami seluk beluk dunia usaha, serta agar tidak mengalami kembali kasus penipuan yang sempat menyengsarakannya.

Pada tahun 2014 Enok Kurniasih mengikuti kesempatan seleksi pelatihan Wira Usaha Baru yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia, dimana peminatnya cukup banyak, ratusan. Pelaksanaan seleksi itu sendiri dilakukan beberaha tahap, dan akhirnya Enok berhasil lulus sampai tahap akhir sekitar 10 orang. Selanjutnya Enok mengikuti bimbingan wirausaha baru Bank Indonesia di Lembang selama 4 hari, kemudian di coaching selama 1 tahun.

Dengan berbekal ilmu dari pelatihan dan Coaching WUB tersebut kemudian Enok Kurniasih menerapkannya dalam kegiatan pengelolaan keseharian usahanya, hingga suatu saat mendapat kesempatan untuk ikut pameran produk UKM pada acara Tasik Kreatif Festifal tahun 2015.

Ini ajang pameran pertama yang akan diikuti oleh Enok Kurniasih. Menghadapi kesempatan pameran tersebut Enok Kurniasih merasa kurang percaya diri, mengingat jenis produknya cuma Nata de Coco original yang sudah banyak tersebar dipasaran.

Atas saran pembimbing WUB-nya maka Enok Kurniasih mencoba membuat inovasi jenis olahan produk Nata de Coco dalam bentuk lain, yaitu Sirop Nata de Coco yang dicampur susu. Inovasi tersebut ternyata membuahkan hasil yang lumayan, keuntungan penjualan menjadi berlipat. Sejak saat itulah Enok Kurniasih terus berinovasi mengolah aneka jenis Nata de Coco yang dikemas dalam berbagai bentuk sesuai permintaan pasar.

Melengkapi diri dengan berbagai ilmu pengetahuan tidak surut dilakukan Enok Kurniasih, dimana pada tahun 2015 dia ikut dalam pelatihan Wira Usaha Baru yang diselenggarakan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat.

Dalam pelatihan WUB kali ini Enok Kurniasih mendapatkan ilmu baru, terutama dalam hal Public Speaking, kemampuan negosiasi, pengembangan jejaring usaha, perencanaan produksi, pembukuan, dlsb. Disamping itu ada berbagai kesempatan mengikuti pameran produk bagi para alumni pelatihan WUB di berbagai daerah, termasuk event2 pameran di luar provinsi.

Dari perjalanan panjang luka liku pengembangan usaha yang dilakukan oleh Enok Kurniasih tersebut, akhirnya pada saat acara Gelar Produk Alumni WUB Tahun 2016 di halaman Gedung Sate, Enok Kurniasih mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Barat sebagai Pelaku Usaha WUB teladan di Bidang Perkebunan.

 

Bantuan Alat Tangan Palsu

Terkait dengan kejadian kecelakaan yang pernah menimpa Enok Kurniasih pada tahun 1994, setelah sebagian tangan kanannya diamputasi maka aktivitas kesehariannya terasa sedikit mengalami hambatan. Bahkan pada beberapa kesempatan berkarir kondisi itu selalu menjadi pertimbangan yang menyebabkan dia tidak dapat meraih kesempatan tersebut.

Enok sangat menyadari keterbatasan tersebut, dan pada suatu hari dia mendapat informasi dari temannya, bahwa sebuah LSM Kamboja bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Indonesia, tengah menjalankan program bantuan bagi para dipabel, yaitu berupa alat bantu kaki dan tangan palsu. Kemudian Enok mencoba mengajukan permohonan melalui e-mail ke Cambodia Trust yang berkantor di RS. Fatmawati Jakarta, dan Alhamdulillah permohonannya tersebut direspon, sehingga akhirnya enok pada tahun 2012 mendapatkan bantuan alat tangan palsu, yang digunakannya hingga sekarang.

  

 

Inovator dan Motivator Daerah

Enok Sri Kurniasi beserta suaminya dikenal sebagai pelaku usaha yang ramah dan bersahabat dengan semua kalangan, terutama mitra-mitra usaha binaannya. Dia selalu tampil dengan penuh semangat, tidak mengeluh dan selalu memberikan bimbingan kepada para pelaku pemula yang ingin mengikuti usahanya.

Dalam mengembangkan usahanya enok sangat mementingkan perlunya jejaring kerja, baik berupa kemitraan kepada anggota kelompoknya, maupun kemitraan kepada para pemasar produknya. Enok sangat mengutamakan perlunya kebersamaan kelompok, dia tidak mau kerja sendirian tanpa mengajak teman senasib sepenangungan. Sampi saat ini dari seluruh jejaring usahanya diperkirakan terdat 50 orang yang terlibat. Sehingga sosok Enok sudah dianggap sebagai Inovator bagi rekan-rekannya, sekaligus sebagai motivator dalam pengembangan ekonomi di wilayah Kabupaten Ciamis.

Sampai saat ini dari semua jejaring usaha yang menjalin kemitraan dengannya terdapat beberapa produk turunan dari kelapa, bukan hanya Nata de Coco sebagai produk utamanya, tetapi ada juga Minyak Kelapa, CPO, Gula Kelapa, Kripik/Cemilan, Abon Terekel (surundeng), Juice Honje, dlsb. Semua produk kelompoknya tersebut selalu dikutsertakan dalam berbagai event promosi/pameran yang diikutinya.

Demikian halnya dengan kemitraan usaha yang tetap dijalin dengan PT. Haldin selaku industri besar Nata de Coco di daerah Banjar, dimana sisa air santan kelapa dari pabrik tersebut yang dulu sempat jadi kasus heboh limbah pencemaran lingkungan, maka saat ini bisa dimanfaatkan menjadi bahan baku olahan Nata de Coco yang dikelola Enok Kurniasih untuk didistribusikan kepada para anggotanya. Sehingga kendala keterbatasan bahan baku air kelapa untuk pembuatan Nata de Coco di kelompoknya dapat diatasi.

 

Cita-cita dan harapan

Sebagai pribadi pelaku usaha tentu saja Enok Kurniasih punya mimpi masa depan yang dicita-citakannya, antara lain:

  • Ingin mendirikan perkumpulan atau semacam Asosiasi Pelaku Usaha Nata de Coco, yang nantinya diharapkan dapat mengatasi berbagai persoalan para pelaku usaha Nata de Coco, baik dalam persoalan bahan baku, teknik pengolahan, pemasaran, serta hal-hal lainnya, termasuk dalam mengatasi kasus-kasus yang menimpa pelaku/pengrajin Nata de Coco.
  • Ingin memiliki rumah produksi dengan standar peralatan yang memadai sesuai persyaratan, sekaligus berfungsi sebagai balai latihan untuk menstrasfer ilmu kepada masyarakat, sehingga diharapkan akan lebih banyak memberikan kesempatan bekerja bagi masyarakat secara luas.