•    
  •    
  •    
  •    

Tren Pasar Teh Dalam Kemasan

13 November 2013 13:12:43 Dibaca: 4872x

Teh panas terus menghadapi tantangan yang meningkat dari teh dalam bentuk kemasan siap minum yang dikategorikan sebagai minuman ringan. Munculnya tren kaum mapan yang semakin meningkat di kalangan penduduk perkotaan di Indonesia, serta faktor iklim yang panas di negara itu tetap menjadi faktor utama meningkatnya permintaan teh dalam kemasan siap minum ketimbang dengan dengan es teh yang lebih tradisional , yang dibuat dari teh yang baru diseduh. Meskipun demikian, teh panas masih dianggap lebih sehat dibanding teh dalam kemasan (RTD), karena teh panas pada umumnya baru diseduh dari daun teh tanpa menambahkan pengawet lain atau bahan buatan. Popularitas teh panas tetap terkonsentrasi di antara orang tua dan konsumen yang sadar akan kesehatan , sementara teh siap minum tetap paling populer di kalangan konsumen muda.

PT. Gunung Slamat meraih 28% pangsa pasar teh di Indonesia menjadikannya sebagai perusahaan yang terdepan dalam penjualan teh pada tahun 2012. Pasar yang disorot oleh perusahaan tersebut yakni pada teh panas dengan merk diantaranya Cap Botol Biru, Cap Botol Hijau, Teh Poci, Teh Celup Sosro, Teh Seduh Sosro, Sosro Heritage, Teh Cap Sadel, Teh Cap Trompet, Teh Cap Berko dan Teh Cap Sepatu.

Sebagian besar produk yang ditawarkan di bawah merek tersebut terdiri dari loose tea, meskipun dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi pergeseran bertahap menuju pengembangan kantong teh, dan perusahaan telah meluncurkan beberapa produk dalam kantong. Memang, banyak produk perusahaan hanya tersedia dalam kantong teh, termasuk Teh Celup Sosro, Teh seduh Sosro dan Sosro Heritage . Masing-masing produk mengandung campuran unik dari melati, teh hitam dan teh hijau . Dalam upaya untuk memasuki meningkatnya permintaan untuk teh premium , tahun 2010 PT. Gunung Slamat meluncurkan Sosro Heritage di 12 varietas, dengan tujuan memperluas persepsi teh di kalangan konsumen lokal. Peluncuran baru membantu meningkatkan pertumbuhan penjualan perusahaan , dan berhasil meningkatkn pangsa nilainya lebih dari dua persen antara tahun 2012 dan 2017.

Kecenderungan minum teh, yang sudah secara turun temurun di kalangan masyarakat Indonesia, diharapkan tidak berubah dalam beberapa waktu ke depan. Bahkan saat kesulitan ekonomi, konsumen lebih cenderung untuk lebih memilih merek yang lebih murah daripada mengurangi konsumsi teh mereka. Meskipun basis volume yang sudah yang besar, teh diperkirakan masih mencatat pertumbuhan volume yang positif pada periode proyeksi. Promosi oleh perusahaan teh, serta cakupan manfaat kesehatan dari minum teh di media massa , diharapkan memainkan peran penting dalam mempertahankan pertumbuhan penjualan teh yang baik pada periode proyeksi .


Sumber : Euromonitor.com
Penulis :

Index Sorotan