•    
  •    
  •    
  •    
Go-Jek atau transportasi online sering menjadi sorotan di Indonesia. Pasalnya transportasi online di Indonesia merupakan hal yang baru. Bukan hanya masyarakat menengah ke bawah. Para artis, hingga pejabat tak segan-segan untuk mencoba transportasi online ini. Terlepas dari kebijakan transportasi online yang belum singkron dengan undang-undang atau peraturan mentri, pada faktanya transportasi online membawa banyak manfaat. Meskipun terkadang terjadi konflik dengan transportasi konfensional Kepala Lembaga Demografis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Turro S. Wongkaren dalam laporan tertulisnya mengatakan, Go-Jek memiliki dampak yang besar bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan survey yang dilakukan lembaganya itu, penghasilan keseluruhan mitra pengemudi Go-Jek sebesar Rp 8,2 triliun sedangkan pendapatan mitra UMKM sebesar Rp 1,7 triliun. , Mitra UMKM ini merupakan usaha yang tergabung dalam aplikasi Go-Food. Bila digabung cara sadap Whatsapp dengan Whatsweb angkanya bisa mencapai Rp 10 triliun. Ini ada dibatas bawah karena yang disurvei hanya driver sepeda motor dan UMKM. Belum yang lain seperti Go-Car dan sebagainya. Mengingat selain Go-Car atau Go-Food masih ada Grab-Car atau Grab-Food yang sudah melebur dengan Uber-Eat. Terlebih, kata Turro, sebanyak 89 persen responden yang disurvei, memberikan dampak yang baik bagi masyarakat umum. Bahkan, sebagian besar responden menyatakan bila Go-Jek bubar, hal itu akan berdampak buruk bagi kehidupan mereka. Survei ini dilakukan terhadap 7.500 responden terdiri atas 3.315 pengemudi roda dua, 3.465 konsumen, dan 806 mitra UMKM dari 9 wilayah. 9 wilayah itu antara lain Bandung, Bali, Balikpapan, Jabodetabek, Yogyakarta, Makasar, Medan, Palembang, dan Surabaya Di sisi lain, survey yang dilakukannya itu menyatakan sebanyak 30 persen mitra UMKM merasa diuntungkan dan 64 persen lainnya tidak ada. Salah satu temuan menarik dari survei itu adalah soal karakteristik dari para pelanggan ojek online. Diketahui jika para pelanggan Ojol rata-rata memiliki anggaran pengeluaran bulanan sebesar Rp2,55 juta per bulan. Jika transportasi online dan mitranya ditata dengan baik oleh pemerintah, bukan tidak mungkin transportasi online bisa menjadi kekuatan ekonomi Indonesia. Tentu syaratnya pemerintah harus menyiapkan payung hukum agar para driver dan mitra transportasi online bisa terhindar dari tidakan yang merugikan sewaktu-waktu.

posted by harihermawan, 2 months ago