•    
  •    
  •    
  •    
Tanaman tebu sebagai salah satu tanaman perkebunan potensial dan merupakan komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi di Sumatera Barat. Potensi pengembangan tebu rakyat di Sumatera Barat setiap tahunnya meningkat, hal ini dapat dilihat dari peningkatan produksi tebu di Sumatera Barat yaitu 14.908 ton pada tahun 2010, 14.915 ton pada tahun 2011, 14.921 ton pada tahun 2012, dan 14.923 ton pada tahun 2013, sehingga tanaman tebu menjadi sangat prospektif dalam pengembangannya dan memiliki peluang yang sangat besar dalam meningkatan perekonomian suatu wilayah, salah satunya dengan mengolah tebu menjadi gula merah (saka), pengolahan hasil pertanian menjadi berbagai produk dan bahan baku bagi kebutuhan industri seperti ini disebut agroindustri. Agroindustri merupakan komponen kedua dalam agribsnis setelah komponen produksi pertanian, komponen pengolahan ini menjadi penting karena akan meningkatkan kualitas, penyerapan tenaga kerja, keterampilan produsen dan pendapatan produsen. doa qunut mengingat jenis industri pertanian yang dapat dikembangkan sangat banyak maka perlu diprioritaskan pertumbuhan agroindustri yang mampu menangkap efek ganda yang tinggi baik bagi kepentingan pembangunan nasional, maupun pembangunan pedesaan Kabupaten Agam merupakan penghasil tebu terbesar dan memiliki areal penanaman tebu terluas di Sumatera Barat. Areal penanaman tebu yang luas disebabkan karena agroklimat Kabupaten Agam cocok untuk penanaman tanaman tebu. Salah satu Kecamatan dengan niat sholat jenazah produksi tebu terluas di Kabupaten Agam adalah Kecamatan Canduang dengan Nagari Bukik Batabuah sebagai Nagari sentral produksi tebu pada tahun 2013 dapat dilihat dari luas lahan dan total produksi tebu, sebagian besar tebu di Nagari Bukik Batabuah diolah menjadi gula merah (saka) dengan total produksi gula merah (saka) 2.486 ton pada tahun 2014 yang diolah oleh industri rumah tangga secara tradisional (Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat 2015). Pengolahan tebu menjadi gula merah (saka) yang dilakukan oleh industri rumah tangga di Nagari Bukik Batabuah menjadi pekerjaan utama dari sebagian besar masyarakat sekitar, yaitu sekitar 80% dari total penduduk Nagari Bukik Batabuah menggantungkan kebutuhan ekonomi keluarga mereka dengan mengolah tebu menjadi gula merah (saka) secara tradisional (Badan Pusat Statistik Sumatera Barat 2015), oleh karena itu dibutuhkan deskripsi mengenai gambaran ekonomi rumah tangga pengolah tebu menjadi gula merah (saka) di Kenagarian Bukik Batabuah untuk mengetahui secara garis besar keadaan ekonomi rumah tangga pengolah tebu menjadi gula merah (saka). Semoga bermanfaat ????

posted by Bangipul, 2 weeks ago