Indonesia sampai saat ini masih mengimpor tembakau jenis virginia, burley dan oriental karena produksi dalam negeri masih belum memenuhi kebutuhan. Impor yang paling besar adalah virginia. Djajadi, Ketua Program Tanaman Tembakau, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Balitbang Kementan pada Perkebunannews.com

Setiap tahun Indonesia mengimpor 130.000 ton dengan nilai USD 525 juta. Karena itu program pertembakauan nasional harus berupaya meningkatkan produksi dalam negeri dan mutu juga mengendalikan impor. Industri rokok kretek membutuhkan tembakau untuk menjadi pengisi (filler) dan aroma serta rasa. Tembakau virginia untuk pengisi sehingga kebutuhannya banyak. Sedang tembakau dalam negeri seperti Temanggung yang merupakan tembakau aromatik dan Madura sebagai tembakau semi aromatik dalam blending rokok kretek berfungsi sebagai varian rasa dan aroma. Porsi antara pengisi dan aroma/rasa setiap perusahaan berbeda-beda. Rata-rata pengisi sampai 70%. Impor tembakau virginia banyak dari China, Zimbawe, Brasil. Sedang burley dari Yunani dan Turki juga oriental.

Tembakau mempunyai peranan penting untuk pendapatan negara dalam bentuk cukai rokok yang jumlahnya tidak sedikit. Sedang di sentra produksi tembakau punya peranan dalam sosial ekonomi masyarakat. Survei yang dilakukan Djajadi di Probolinggo, Pamekasan, Temanggung, dan Lombok Timur menunjukkan pada musim kemarau, tembakau masih jadi harapan untuk sumber pendapatan petani lahan kering dan tadah hujan. Sekitar 40-70% total pendapatan petani berasal dari tembakau. Tembakau di Probolinggo jadi harapan, sebab belum ada tanaman alternatif lain saat musim kemarau. Tembakau tidak membutuhkan air banyak. Sisi sosialnya dalam musim kemarau , tembakau memberi banyak lapangan kerja. Di Lombok bahkan penting pada aspek keamanan. Kalau gagal panen tembakau biasanya keamanan jadi masalah.

Program penelitian tembakau di Balittas berdasarkan identifikasi masalah di lapangan yaitu kemurnian varietas masih rendah, teknis budidaya tidak sesuai GAP, pengendalian HPT masih menggunakan pestisida, pasca panen rajangan tidak tergantung sinar matahari, prosesing tembakau cerutu tidak gunakan asap sirap mudah terbakar, diversifikasi tembakau untuk parfum dan pestisida. Dari sisi varietas program penelitian adalah berfokus pada program pemuliaan untuk tingkatkan keunggulan, legalitas varietas unggul lokal yang banyak jumlahnya. Sedang teknis budidaya hasilkan inovasi teknologi seperti pemupukan. Hampir semua petani termbakau belum menggunakan pupuk berimbang. Masih hanya menggunakan pupuk nitrogen yaitu urea dan ZA saja dan tidak menggunakan P dan K. VUB yang dilepas didukung dengan teknis budidaya yaitu pemupukan dan jarak tanam optimal. Untuk pengendalian OPT dibuat pestisida hayati.

Balittas sendiri mengkoleksi banyak sekali varietas tembakau virginia dan sudah melepas beberapa varietas unggul. Saat ini juga sudah melakukan pelepasan varietas bekerjasama dengan perusahaan benih di Lombok untuk tingkatkan produksi dan mutu tembakau virginia. Sentra produksi tembakau ada 15 provinsi, terluas di Jatim yaitu 60%, dari luas areal . Dari 210.000 ha luas tanam tembakau Indonesia setiap tahun, sekitar 109.000 ada disini. Sedang luas tanam tembakau lokal yang paling luas Madura, setiap tahun mencapai 40.000 ha.

 

Sumber : https://perkebunannews.com 
Penulis : admin

Dibaca : 24 kali