Dewasa ini dikalangan masyarakat tengah berkembang suatu pemahaman gaya hidup baru, yaitu suatu fanatisme terhadap pemilihan bahan pangan atau produk pertanian yang berlabel “Produk Organik”. Akibatnya dipasaran bahan pangan saat ini seolah terdapat dua pemilihan jenis produk, yaitu ‘Produk Organik’ yang harganya relatif lebih tinggi dan ‘Produk Non Organik’ yang harganya relatif lebih murah.

Tentu saja pemahaman serupa itu merupakah celah bisnis yang dapat dimanfaatkan oleh para pedagang yang kurang bertanggungjawab, yang biasanya mensiasati agar semua barang dagangannya dapat dianggap berlabel ‘Produk Organik’ agar mendapatkan keuntungan lebih. Namun demikian, tentu saja masih banyak pihak yang bertanggungjawab, yaitu mereka yang menyikapinya secara positif dengan cara berupaya memahami tentang bagaimana produk organik tersebut dihasilkan, bagaimana prinsip-prinsip pertanian organik tersebut dijalankan, kemudian memberikan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi produk organik, sekaligus berupaya mempraktekan sendiri dan mendorong semua pihak untuk mulai menjalankan proses produksi dengan prinsip-prinsip pertanian organik.

Produk Organik vs Produk Non Organik

Barangkali pemahaman yang paling mudah diketahui masyarakat awam tentang Produk Pangan Organik adalah produk pangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi yang bersifat alami atau terbebas dari asupan bahan kimia an organik, terutama pupuk maupun pestisida berbahan kimia an organik. Produk pangan yang dihasilkan dari sistem pertanian organik dinyatakan lebih sehat, lebih aman, kandungan gizi dan komponen bioaktifnya lebih beragam, serta kandungan unsur kimia yang dibutuhkan tubuh lebih tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian, dari segi organoleptik dipastikan bahwa pangan organik lebih baik terutama dari segi cita rasa, karena dihasilkan dari sistem pertanian yang sangat bersahabat dengan lingkungan serta sangat memperhatikan ecological, economical, sociological sustainability.

Beberapa jenis produk organik sejauh ini semakin beragam tersebar dipasaran produk pangan, antara lain berupa bahan pangan pokok (Beras dan Palawija), buah-buahan, sayuran, rempah dan herbal, Ayam organik, Susu dan yogurt kambing organik, Produk perkebunan organik (Vanilla, VCO, mete, kopi, teh, kayu manis).

Sejalan dengan semakin merebaknya keberadaan produk pangan organik diberbagai outlet, ternyata produk pangan non organik pun keberadaannya tidak berkurang. Bderbagai keunggulan dan kelemahan dari kedua jenis produk tersebut sejauh ini semakin banyak dibicarakan dan menjadi bahan diskusi yang menarik. Sekarang pilihannya sangat tergantung kepada hati nurani kita semua sebagai konsumen yang membutuhkannya.

Apa yang dimaksud Pertanian Organik?

Menurut sistem standardisasi Indonesia, SNI 01–6729–2002, pengertian pertanian organik adalah sistem manajemen produksi holistik yang meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agro-ekosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah.

Pertanian organik merupakan suatu sistem budidaya yang dilaksanakan secara terpadu dengan bersandar kepada pengembangan kesehatan faktor – faktor yang berperan dalam pelaksanaan pertanian itu sendiri mulai dari keragaman hayati, menunjang berjalannya siklus biologi secara aman dan wajar serta ditunjang oleh upaya memberdayakan aktifitas biologi tanah dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pertanian.

Selain hal tersebut diatas, pertanian organik berpijak pada pemahaman yang mendasar bahwa untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian maka harus dilaksanakan suatu pola pertanian yang mandiri dan merdeka dari ketergantungan terhadap faktor produksi dari luar seperti racun kimia buatan dan pupuk kimia buatan. Jadi secara harfiah jika dijelaskan maka pertanian organik adalah suatu sistem pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan menjauhkan petani dari ketergantungan terhadap pihak luar dan meningkatkan produksi dengan jalan memberdayakan potensi lokal yang ada di lingkungan petani dengan tetap bersandar kepada berlangsungnya keragaman hayati dan siklus biologi lingkungan.

Prinsip-prinsip Pertanian Organik

Empat prinsip untuk mengidentifikasi pertanian organik:

  • 1.Prinsip Kesehatan
  • Pertanian Organik harus mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah, kesehatan tanaman, hewan, dan manusia sebagai sesuatu yang utuh dan tak dapat dibagi atau dipisahkan.
  • 2.Prinsip Ekologi
  • Pertanian organik harus berdasarkan kepada siklus dan sistem ekologi yang hidup, bekerja dengannya, melampauinya dan membantu mempertahankannya
  • 3.Prinsip Keadilan
  • Pertanian organik harus dibangun berdasarkan hubungan yang memastikan adanya kejujuran dan keadilan dengan lingkungan umum dan peluang kehidupan
  • 4.Prinsip Kepedulian
  • Pertanian Organik harus dikelola dalam cara yang penuh kehati-hatian dan bertanggungjawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi dan lingkungan sekarang dan masa datang

Tujuan Pertanian Organik

Tujuan pengembangan pertanian organik ditopang oleh 3 (tiga) pilar yaitu pilar ekonomi yang dapat dikemas untuk peningkatan daya saing produk dan peningkatan pendapatan petani, pilar lingkungan diharapkan dapat terkondisikan untuk mendukung kelangsungan biodiversitas dan menghindari terjadinya pencemaran dan potensi pencemaran, pilar sosial dirancang dan direncanakan agar mampu meningkatkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat petani dan sekaligus menjaga kesehatan masyarakat.

 

Ruang Lingkup Pertanian Organik

Pangan Organik diproduksi dari sistem pertanian organik yang memiliki tujuan sebagian berikut:

  • 1.Mengembangkan dan mempertahankan keanekaragaman hayati dalam sistem pertanian secara keseluruhan;
  • 2.Meningkatkan aktivitas biologis tanah;
  • 3.Menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang;
  • 4.Mendaur ulang limbah yang berasal dari tumbuhan dan hewan untuk mengembalikan nutrisi ke lahan sehingga meminimalkan penggunaan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui;
  • 5.Mengandalkan sumberdaya yang dapat diperbaharui pada sistem pertanian yang dikelola secara lokal;
  • 6.Mempromosikan penggunaan tanah, air dan udara secara sehat, serta meminimalkan semua bentuk polusi yang dihasilkan oleh praktek-praktek pertanian;
  • 7.Menangani produk pertanian dengan penekanan pada cara pengolahan yang hati-hati untuk menjaga integritas organik dan mutu produk pada seluruh tahapan; dan bisa diterapkan pada seluruh lahan pertanian yang ada melalui suatu periode konversi, dimana lama waktunya ditentukan oleh faktor spesifik lokasi seperti sejarah lahan serta jenis tanaman dan hewan yang akan diproduksi.

Sejarah Perkembangan Pertanian Organik

Sejak nenek moyang kita mengenal ilmu bercocok tanam, dan melakukan bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari hari maka sebenarnya teknik bercocok tanam yang diterapkan tersebut sudah termasuk dalam pertanian organik karena tidak pernah terpikirkan untuk menggunakan pupuk selain dari pembusukan tanaman yang berada disekitarnya. Ini membuktikan bahwa pada zaman dahulu kala sangat kental dengan budaya daur ulang limbah organik sisa hasil panen sebagai pupuk, misalnya bekas jerami padi yang sudah dipanen selalu ditinggalkan di lahan sawah dan dibiarkan sampai membusuk untuk selanjutnya dimanfaatkan sebagai pupuk, kulit buah kopi yang sudah dikupas, sering kali ditumpuk pada tempat tertentu dan dibiarkan sampai membusuk untuk kemudian dijadikan sebagai pupuk pada pertanaman selanjutnya dan bahkan dapat digunakan pada tanaman lain seperti tanaman sayuran yang dimanfaatkan sebagai tanaman sela.

Pertanian tradisional dalam berbagai bentuk, yang telah dilakukan sejak ribuan tahun lalu di seluruh dunia, merupakan pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia sintetik. Pertanian dengan memanfaatkan ekologi hutan (kebun hutan, forest gardening) merupakan salah satu sistem produksi pangan organik pada masa prasejarah yang dipercayai merupakan pemanfaatan ekosistem pertanian yang pertama.

Masih banyak lagi contoh praktik pertanian organik yang secara tak sadar sebenarnya sudah diterapkan sejak berpuluh puluh tahun lalu dan pertanian yang ada saat ini sebetulnya proses pertanian yang sudah terkontaminasi dengan penggunaan bahan-bahan, obat-obatan dan pupuk buatan (kimiawi), atau dapat juga korban akibat kebijakan para pemimpin bangsa yang ingin mendongkrak produktivitas pertanian setinggi mungkin dengan cara instan tanpa memikirkan keberlangsungan sumber daya yang menjadi landasan pertanian tersebut.

Mengamati intensifikasi pertanian yang dilakukan melalui gerakan Revolusi Hijau sejak tahun 1970-an, lebih mengutamakan penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi. Memang terbukti selama beberapa tahun upaya tersebut mampu meningkatkan produksi pertanian secara mencolok. Melihat keberhasilan peningkatan produksi yang begitu drastis, mulailah berkembang pesat penggunaan pupuk kimia untuk merangsang pertumbuhan tanaman dan penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan gangguan hama penyakit pada tanaman yang secara cepat hasilnya dapat terlihat. Bahkan taubahnya pertanian pada zaman ini tergolong dalam “pertanian instan” karena segala apa yang dibutuhkan untuk melipat gandakan produksi dapat dilakukan dengan cepat akibat kehadiran berbagai bahan-bahan kimiawi.

Penggunaan sarana produksi sintetis (kimiawi) secara terus menerus tanpa berpikir panjang ternyata telah menyebabkan terjadinya akumulasi bahan kimia di dalam tanah. Akhir-akhir ini para ahli juga sudah banyak melakukan penelitian bahwa penggunaan bahan kimia sintetis menyebabkan kerusakan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah yang berujung pada penurunan produktivitas tanah. Maka dari itu sekitar tahun 1990, pertanian organik mulai berhembus keras di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia dan sejak saat itulah mulai bermunculan berbagai organisasi dan perusahaan yang memproduksi produk organik.

Tuntutan pertanian organik disebabkan oleh adanya permintaan yang cenderung dipicu oleh gerakan gaya hidup sehat (Back to Nature), ketakutan akan residu pestisida, pupuk kimia, GMO, hormon tumbuh dan adanya pertimbangan bahwa kandungan nutrisi pertanian organik atau pangan organik lebih tinggi dari pangan non organik. Disamping permintaan disebabkan pula oleh adanya penawaran yang dipicu oleh mulai menurunnya produktivitas lahan, meningkatnya biaya input dan terancamnya kelangsungan usaha.

 

Penerapan Sistem Pertanian Organik

Dalam pelaksanaannya, pertanian organik harus dilakukan dalam suatu sistem budidaya pertanian yang terpola secara baik dan teratur. Berbagai hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pertanian secara organik antara lain :

  • 1.Dokumentasi

Dokumentasi yang dimaksud disini adalah MENCATAT SECARA TERATUR DAN DETAIL segala proses yang dilakukan selama melaksanakan budidaya pertanian antara lain :

  • a.Sejarah penggunaan lahan sebelum dikonversikan sebagai lahan pertanian organik
  • b.Segala hal yang berkaitan dengan status penggunaan lahan, seperti pemilik, penyewa (jika disewa), dan luas maupun kondisi situasi lahan (peta situasi, topografi, dan sebagainya)
  • c.Pelaksanaan kegiatan pengolahan tanah
  • d.Pelaksanaan proses budidaya mulai dari pembibitan (bibit, jumlah bibit, asal bibit, tanggal pembibitan,perlakuan sebelum semai, perlakuan sebelum tanam), penanaman (jumlah tanaman, tanggal tanam), penyiangan (waktu penyiangan, dan lain lain), perawatan dan pemeliharaan (serangan OPT dan cara pengendaliannya, bahan yang digunakan, dosis, jumlah serangan, dan lain lain), pemupukan (pupuk yang digunakan, dosis, waktu dan intensitas pemberian pupuk), pemanenan (waktu panen dan hasil produksi)
  • e.Pasca panen, mulai dari pengemasan, pengepakan, penghitungan hasil, dan penjualan serta pasar.
  • 2.Lahan

Dalam melaksanakan usaha pertanian secara organik, kita haruslah memperhatikan berbagai persyaratan terhadap lahan yang diperuntukkan untuk pertanian organik antara lain :

  • a.Lahan yang akan digunakan dalam usaha pertanian secara organik haruslah BEBAS dari BAHAN KIMIA SINTETIS baik yang berasal dari pupuk maupun pestisida
  • b.Jika lahan yang akan digunakan dalam usaha pertanian organik berasal dari lahan yang sebelumnya untuk usaha pertanian non organik (konvensional), maka lahan tersebut harus dikonversikan terlebih dahulu dengan ketentuan sebagai berikut :
  • 1)Untuk tanaman semusim diperlukan waktu konversi (recovery) lahan minimal 2 (dua) tahun dan untuk tanaman tahunan diperlukan waktu selama 3 (tiga) tahun, selain itu juga tergantung kepada kepada kondisi lahan yang akan digunakan tetapi waktunya tidak boleh kurang dari 12 (dua belas) bulan
  • 2)Lahan yang sedang dalam konversi (recovery) tidak boleh di rubah bolak balik antara organik dan konvensional
  • 3)Jika lahan yang akan digunakan adalah satu hamparan namun konversi (recovery) lahan tidak dilakukan secara bersamaan maka perlu ada pemisahan yang tegas antara lahan organik dan non organik untuk menghindari terjadinya kontaminasi dari lahan non organik ke lahan organik.
  • 3.Benih dan Bibit

Untuk pelaksanaan pertanian organik kita juga harus memperhatikan benih dan bibit yang akan digunakan.antara lain :

  • a.Benih dan bibit tidak boleh berasal dari produk rekayasa genetika (genetically modified organism = GMO)
  • b.Benih dan bibit yang digunakan untuk pertanian organik harus berasal dari produk pertanian organik, jika hal ini tidak terpenuhi maka ada beberapa syarat lain yang mesti dilaksanakan, yaitu :
  • 1)Untuk tahap awal dapat digunakan benih dan bibit yang tidak dikenai perlakuan dengan bahan – bahan yang dilarang digunakan dalam pertanian organik
  • 2)Jika hal diatas tidak juga bisa terpenuhi maka diperbolehkan menggunakan benih dan bibit yang diberi perlakuan dengan bahan – bahan yang direkomendasikan untuk pertanian organik.
  • 4.Manajemen Kesuburan Tanah

Pada pertanian organik, tanah selain kita tanami dengan tujuan produksi yang menguntungkan secara ekonomi, kita juga harus memperhatikan kesuburan dan aktivitas biologis tanah, seperti:

  • a.Kesuburan dan aktivitas biologis tanah harus dijaga atau ditingkatkan dengan cara :
  • 1)ditanami dengan tanaman leguminoceae, pemberian pupuk hijau atau menanam tanaman yang mempunyai perakaran dalam melalui program rotasi tanaman yang sesuai
  • 2)mencampurkan bahan organik ke dalam tanah baik yang dikompos maupun tidak, dan hasil samping peternakan seperti kotoran hewan dapat digunakan asalkan berasal dari system produksi yang juga organik
  • 3)untuk aktivasi kompos dapat dilakukan penambahan mikro organisme ataupun bahan – bahan lain yang berbasis tanaman yang sesuai
  • 4)bahan – bahan biodinamik dari stone meal, kotoran hewan atau tanaman boleh dipergunakan untuk tujuan penyuburan dan peningkatan aktivitas biologis tanah
  • b.Mematuhi atauran maupun larangan yang berkaitan dengan penggunaan bahan untuk penyubur tanah yang direkomendasikan maupun dilarang dalam pertanian organik.
  • 5.Pengendalian Hama, Penyakit dan Gulma

Jika dalam pertanian non organik pengendalian terhadap hama, penyakit dan gulma bisa dilaksanakan dengan menggunakan berbagai macam bahan sintetis maka dalam pertanian organik ada hal – hal yang harus dipatuhi, yaitu :

  • a.Hama, penyakit dan gulma harus dikendalikan dengan salah satu atau kombinasi dari cara – cara berikut :
  • 1)pemilihan spesies dan varietas yang sesuai
  • 2)program rotasi tanam yang tepat dan teratur pelaksanaannya
  • 3)pelaksanaan pengolah tanah secara mekanis dan mengikuti kaidah konservasi tanah
  • 4)perlindungan terhadap musuh alami hama penyakit dan gulma melalui penyediaan habitat yang cocok seperti pembuatan pagar hidup (barrier crop) dan tempat sarang serta zona penyangga ekologi
  • 5)keragaman ekosistem pada satu lahan
  • 6)pemberian musuh alami termasuk pelepasan predator dan parasit
  • 7)pemberian biodinamik dari stone meal, kotoran ternak atau tanaman
  • 8)penggunaan mulsa
  • 9)penggembalaan ternak
  • 10)pengendalian secara mekanis seperti penggunaan perangkap, penghalang, cahaya dan suara
  • 11)penggunaan sterilisasi uap bila rotasi yang sesuai untuk memperbaharui tanah tidak dapat dilakukan
  • b.Jika serangan hama dan penyakit sangat berat dan tindakan yang dilakukan dengan cara – cara tersebut diatas dianggap kurang memadai maka dapat digunakan bahan –bahan lain yang diperbolehkan dalam pertanian organik.
  • 6.Pupuk Kandang

Pada pertanian organik dianjurkan untuk mengkombinasikan budidaya tanaman dengan usaha peternakan. Keuntungan yang bisa didapatkan antara lain :

  • a.Petani tidak lagi tergantung dengan sumber pupuk dari luar karena sudah memiliki sumber pupuk sendiri dan tidak terbatas
  • b.Sebagai salah satu upaya daur ulang nutrisi tanah karena makanan ternak bisa didapatkan dari sisa tanaman dan kotoran ternak dikembalikan ke tanah sebagai pupuk
  • c.Diversifikasi usaha dari petani sebagai salah satu tambahan pemasukan bagi petani.
  • 7.Sumber Air

Dalam pertanian organik, ketersediaan air yang permanen adalah satu hal yang tidak bisa di tawar – tawar. Salah satu jalan keluar adalah dengan menyiapkan kolam penampungan air (embung) di lahan yangt diusahakan.

  • 8.Pemanfaatan Sumber Daya Lokal

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa sebagai upaya untuk meningkatkan kemandirian petani dan memutus ketergantungan petani terhadap faktor produksi dari luar maka sangat dianjurkan petani untuk memanfaatkan sumber daya lokal yang ada di sekitar petani. Sumberdaya lokal ini tidak diberikan batasan dalam bentuk tertentu, namun selagi memberikan kemudahan dan keuntungan bagi petani dalam pertanian organik penggunaannya diperbolehkan selagi tidak bertentangan dengan aturan – aturan dalam pelaksanaan Sistem Produksi pertanian Organik.

 

Penanganan Pasca Panen

Integritas produk pangan organik harus dipertahankan sejak dari lahan sampai tiba di konsumen. Hal tersebut dikarenakan bahwa selama pengiriman terdapat banyak titik yang rentan kontaminasi yang dapat mengugurkan prinsip-prinsip perlakuan organik.

Untuk mensertifikasi bahwa satu produk pangan yang dipasarkan adalah produk organik, maka pada tingkat ritel, prosesor, pengepak, dan distributor harus mengikuti standar perlakuan sedetail mungkin agar dapat diverifikasi prinsip keorganikannya, seperti yang dituntut pada tingkat petani. Adapun beberapa langlah yang perlu dilakukan dalam tahapan penanganan pasca panen produk organik adalah sbb:

  • Pencucian produk organik segar dilakukan dengan menggunakan air standar baku yang diizinkan untuk sistem pangan organik.
  • Tidak mencampur produk organik dengan produk non-organik dalam penanganan pasca panen termasuk dalam pengolahan, penyimpanan dan transportasi.
  • Produk organik harus disimpan dalam cara yang dapat menghindari pencampuran atau pertukaran dengan produk konvensional
  • Produk organik curah harus dipisahkan dan diberi tanda yang jelas
  • Sebelum menggunakan satu area, pengaruh dari satu kemungkinan perlakuan pestisida harus dihilangkan terlebih dahulu
  • Area penyimpanan dan kontainer harus bebas dari residu produk non-organik
  • Penyimpanan harus bebas dari hama dan serangga dan dibersihkan menggunakan metode yang tepat dan diperbolehkan
  • Produk organik dan produk konvensional harus ditransportasikan terpisah, kecuali jika dikemas dan dilabel dengan benar
  • Pengiriman harus tepat untuk produk tersebut, perlakuan kasar harus dihindari
  • Semua peralatan, kendaraan, dan kontainer harus bersih dan bebas dari residu non-organik atau materi lain yang dapat mengkontaminasi produk
  • Secara umum proses mekanis, fisik, dan fermentatif atau kombinasi diantaranya harus hanya menghasilkan pangan organik
  • Pengendalian hama yang direkomendasikan, secara umum hama harus dihindari dengan metode sanitasi yang baik. Suatu perlakuan dengan bahan pengendali hama harus diambil sebagai usaha terakhir.
  • Pengendalian hama yang diizinkan bisa melalui Barrier fisik (seperti screen), Sound, ultra-sound, Light and UV-light, Traps (incl. pheromone traps and static bait traps), Temperature control, Controlled atmosphere, Diatomaceous earth
  • Pengendalian hama yang dapat diatur melalui Tiap jenis fumigasi dari area penyimpanan atau prosesing harus mendapat izin khusus terlebih dahulu. Pangan atau bahan mentah organik tidak boleh terdapat di pabrik atau penyimpanan selama fumigasi. Waktu withdrawal harus diset oleh lembaga sertifikasi tetapi harus sekurang- kurangnya double dari waktu yang direkomendasikan.
  • Pengendalian hama yang dilarang melalui Irradiasi, Fumigasi pada makanan atau bahan mentah, Fumigasi pabrik atau ruang penyimpanan dengan ethylenoxide or lindane
  • Anti-coagulant rodenticida dilarang untuk digunakan di dalam atau diluar plant processing atau pangan organik.
  • Material kemasan yang diharuskan antara lain pengemasan yang harus dihindari, adalah sistim daur ulang, semua material yang digunakan harus bermutu food grade, bersih, dan tepat untuk tujuan spesifik, dan tidak boleh mengkontaminasi makanan, semua material kemasan harus memenuhi semua peraturan yang berlaku.
  • Material kemasan yang diatur adalah kemasan yang terbuat dari PVC (polyvinyl chloride).
  • Material kemasan yang dilarang adalah material kemasan yang mengandung timbal

 

Pemasaran Pertanian Organik

  • Pola pemasaran produk pertanian organik bisa menggunakan pola lama ataupun pola-pola baru, yang penting prinsip-prinsip penanganan produk organik tetap dijalankan secara benar. Adapun beberapa cara yang dapat dimanfaatkan untuk sistem pemasaran produk organik adalah melalui: Pasar Tradisional, Pasar Moderen dan Sistem Penjualan langsung.
  • Pasar pangan organik sejauh ini sudah berkembang dengan sangat dinamis dan terus tumbuh. Bahkan di tingkat internasional sudah ada beberapa organisasi yang secara khusus menangani masalah produk organik tersebut, antara lain: Organic Trade Association, dan organic dairy food.
  • Menurut laporan Global Industry Analysts , bahwa pada tahun 2009 pasar global pangan dan minuman organik diproyeksikan akan melebihi US$86 trilyun.Kondisi tersebut cenderung terus meningkat, termasuk permintaan ekspor, meningkatnya jumlah gerai dan toko organik, semakin semaraknya supermarket yang membuka outlet organik. Demikian halnya total produknya pun semakin beragam, yaitu mulai dari sayuran segar sampai daging dan produk probiotik.
  • Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pemasaran produk pangan organik selama ini adalah:
  • 1.Masalah dari segi Supply
  • Terbatasnya jumlah supplier produk organik di Indonesia
  • Kurangnya pemahaman filosofi organik di kalangan petani
  • Secara umum masih dikelola secara tradisional dan skala kecil
  • Keaslian produk organik (dibutuhkan sertifikasi )
  • Supply tidak konsisten (sering putus) baik dari kualitas, kuantitas dan kontinuitas
  • Penanganan pasca panen yang kurang baik (mutu turun dan kehilangan sifat organik)
  • Kurangnya kerjasama antara supplier dan supermarket (resiko waste)
  • Kurangnya pengetahuan tentang produk organik oleh buyer di supermarket
  • 2.Masalah dari segi Pemasaran
  • Kurangnya pengetahuan dan pemahaman konsumen soal produk organik
  • Penampilan produk dan packaging kurang menarik dimata konsumen
  • Harga lebih mahal dari produk non-organik
  • Kurang gencarnya promosi
  • 3.Masalah dari segi Konsumen
  • 4.Faktor eksternal (produk organik import)

Sertifikasi Produk Organik

Untuk melindungi konsumen dari maraknya pilihan produk organik dan non organik di pasaran, maka diperlukan adanya upaya sertifikasi produk pangan tersebut yang ditangani atau diketahui oleh pemerintah. Adapun beberapa lembagam sertifikasi yang diakui pemerintah adalah sebagai beriku:

 

Daftar Lembaga Sertifikasi Organik

Yang Diakreditasi Oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN)

No Nama Lembaga

Sertifikasi Organik

Alamat Ruang lingkup
1. Lembaga Sertifikasi Organik Sucofindo

No sertifikat

OKPO-LS-001

Graha Sucofindo Lt. 6 Jl. Raya Pasar Minggu Kav. 34 Jakarta 12780

Telp. (021) 7986875

Produk Segar (Tanaman dan Produk Tanaman : pangan, hortikultura, palawija dan perkebunan; Ternak dan produk Ternak :susu, telur, daging dan madu)
2. Lembaga Sertifikasi Organik MAL

No Sertifikat :

OKPO-LS-002

Jl. Raya Bogor No. 19 Km. 33.5 Cimanggis Depok Telp. (021) 874020 Produk Segar : pangan, hortikultura, palawija dan perkebunan; Ternak dan Produk Hasil Ternak : daging, susu, telur dan madu; Pakan Ternak
3. Lembaga Sertifikasi Organik INOFICE

No Sertifikat :

OKPO-LS-003

Jl. Tentara Pelajar No. 1 Bogor Telp. (0251) 8382641 Produk Segar Tanaman ; Produk Segar Ternak
4. Lembaga Sertifikasi Organik Sumatera Barat

No Sertifikat :

OKPO-LS-004

Jl. Raden Saleh No. 4 A Padang Telp. (0751) 26017 Produk Segar : pangan, hortikultura
5. Lembaga Sertifikasi Organik LeSOS

No Sertifikat :

OKPO-LS-005

PO BOX 03 Trawas Mojokerto 61375 Telp. (0321) 618754 Produk Segar Tanaman dan produk Tanaman
6. Lembaga Sertifikasi BIOCert Indonesia

No Sertifikat :

OKPO-LS-006

Komplek Budi Agung Jln. Kamper Blok M. No.1 Sukadamai-Bogor

Tlp/Fax. (0251) 8316294

Email : biocert@biocert.or.id

Tanaman dan produk tanaman, pangan, palawija, hortikultura, rempah-rempah, pemasar dan restoran, peternakan, perikanan dan produk khusus seperti jamur.
7. Lembaga Sertifikasi Organik PERSADA

No Sertifikat :

OKPO-LS-007

Jl. Nogorojo No 20 Komplek polri, Gowok, Depok, Sleman Yogyakarta

Telp. (0274) 488420

Fax. (0274) 889477

Tanaman dan produk tanaman : (pangan,palawija, hortikultura dan perkebunan); Produk ternak dan hasil peternakan : (telur, daging, susu,susu kambing dan madu) ; Produk-produk olahan tanaman dan ternak.

Sebagai informasi dan gambaran pemahaman bagi para pelaku usaha yang berkepentingan memperoleh sertifikat pertanian/pangan organik, maka dalam teknik pertanian/pangan organik sebetulnya :

  • Yang disertifikasi itu bukan produk atau hasil akhirnya akan tetapi proses untuk menghasilkan pangan organik tersebut, untuk memberikan jaminan kepada konsumen bahwa produk tersebut telah diproses sesuai standar organik.
  • Sertifikasi melindungi konsumen dan produsen dari pemalsuan produk organik dan juga akan meningkatkan daya saing produk tersebut
  • Standar yang digunakan adalah standar Minimum (paling sederhana), jangan menggunakan standar yang berat (maksimum), standar harus dapat dilaksanakan oleh sebagian besar petani (jangan terlalu keras/ketat), dapat diterima oleh konsumen (tapi jangan terlalu longgar), dapat di inspeksi/ditelusuri, Jangan ngambang (standar ganda), jelas dalam membuat keputusan

 

Kesimpulan

  • 1.Kebijakan pengembangan pertanian organik dapat mengantisipasi kelangkaan pupuk kimia sintetis, mahalnya pestisida kimia sintetis, menghasilkan produk yang aman dikonsumsi dan diproses secara ramah lingkungan.
  • 2.Organik adalah istilah pelabelan yang menyatakan bahwa suatu produk telah diproduksi sesuai dengan standar produksi organik dan disertifikasi oleh otoritas atau lembaga sertifikasi resmi.
  • 3.Pangan organik adalah pangan yang berasal dari suatu lahan pertanian organik yang menerapkan praktek-praktek pengelolaan yang bertujuan untuk memelihara ekosistem dalam mencapai produktivitas yang bekelanjutan, dan melakukan pengendalian gulma, hama dan penyakit, melalui berbagai cara seperti daur ulang sisa-sisa tumbuhan dan ternak, seleksi dan pergiliran tanaman, pengelolaan air, pengolahan lahan dan penanaman serta penggunaan bahan hayati.
  • 4.Lembaga Sertifikasi Organik adalah lembaga yang bertanggung jawab untuk melakukan sertifikasi/verifikasi bahwa produk yang dijual atau dilabel sebagai “organik” adalah diproduksi, diolah, ditangani, dan diimpor sesuai Standar Nasional Indonesia Sistem Pangan Organik.
  • 5.Poktan/Gapoktan pertanian organik yang telah memiliki dokumen sistem mutu dan telah menerapkan dan memelihara sistem pertanianan organik dengan benar dan konsisten, dapat mengajukan permohonan sertifikasi kepada Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) yang telah diakreditasi oleh KAN.
  • 6.Sertifikasi organik ini diharapkan mampu membangun citra produk organik Indonesia dan juga untuk mensukseskan program Indonesia sebagai “Kitchen organic food in the world
  • 7.Sasaran jangka pendek dari sistem pertanian organik adalah kesadaran masyarakat dan petani akan perlunya melestarikan lahan dan menjaga lingkungan dengan mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis seperti pupuk kimia dan pestisida. Dan untuk jangka panjang potensi pasar produk organik di dunia terbuka lebar bagi Indonesia.

 

Bahan Bacaan

  • 1.SNI 01 – 6729 – 2002 tentang Sistem Pangan Organik
  • 2.Apriantono, Anton. 2007 Pidato menteri pertanian Republik Indonesi Pada Workshop dan Kongres II Maporina Menghantarkan Indonesia Menjadi Produsen Organik Terkemuka, Jakarta.
  • 3.Sutanto,R.,2002. Pertanian Organik Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Kanisius Yogyakarta.
  • 4.Bahan Bimtek Pangan Organik Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat
Sumber : Dinas Perkebunan
Penulis : Siti Purnama

Dibaca : 3890 kali