Anda pasti masih mengingat peribahasa “Habis manis sepah dibuang” yang bermakna sesuatu itu dimanfaatkan apabila ada perlunya dan setelah tidak berguna akan dicampakkan atau ditinggalkan begitu saja. Rasanya nasib tanaman kina hampir mirip dengan arti peribahasa tersebut karena kina saat ini mulai dilupakan dan tersingkirkan keberadaannya oleh komoditi lain yang dianggap lebih komersial, padahal zaman dahulu disaat mata pasar dunia tertuju pada kina Indonesia, tanaman ini menjadi primadona para pengusaha perkebunan serta menjadi andalan pemerintah kolonial masa itu.

Kina rasanya memang pahit, dan karena rasa pahitnya itu maka kina diburu banyak orang. Kandungan zat kimia pada tanaman kina dianggap mujarab untuk menyembuhkan penyakit malaria yang pada awal abad ke-20 penyakit itu sangat mewabah di berbagai belahan dunia termasuk di wilayah Hindia Belanda (Indonesia). Sehingga pada masa itu agribisnis kina berkembang cukup pesat serta membuahkan keuntungan yang sangat manis.

Jaman terus berubah, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan semakin maju, termasuk teknologi pengobatan malaria yang dulu sangat tergantung pada kina maka kini lambat laun peran kina tersebut semakin berkurang, sehingga akhirnya rasa pahit kina semakin terasa pahit karena mulai ditinggalkan jaman. Itulah sebabnya “Pahit Kina Dulu Tak Sepahit Kina Kini”.

Mengenal Tanaman Kina

Sepintas melihat pohonnya tak disangka tanaman ini merupakan tanaman obat, beberapa penyakit ternyata dapat diatasi dengan alkaloid kinine yang terkandung dalam kulit kina. Tanaman Kina (Cinchona sp.) merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Selatan, habitatnya terhampar di sepanjang pegunungan Andes yang meliputi wilayah Venezuela, Colombia, Equador, Peru sampai ke Bolivia.

Banyak pendapat tentang asal muasal kata kina atau Chinchona, antara lain ada yang mengatakan berasal dari bahasa Inca yaitu “quina” atau “china” yang berarti kulit penghindar penyakit demam; ada juga yang menyebutkan bahwa sebutan Cinchona itu konon berasal dari nama seorang permaisuri Raja Muda Peru; ada juga yang berpendapat kata Chinchona berasal dari nama seorang gadis yang menderita penyakit malaria dengan minum rebusan kulit batang pohon kina si gadis yang bernama “Comtessa Del Cinchon” itu berangsur-angsur sembuh dari sakitnya. Pendapat lainnya juga mengatakan bahwa kata “kina” berasal dari seorang warga Spanyol bernama gravin “Del Chincon” yang mengenalkan khasiat kulit kina ke Eropa. Manakah yang benar? Apapun yang menjadi asal usul kata Chinchona, yang pasti pohon tersebut kini nama kina (Chinchona) telah melekat dalam ingatan warga Jawa Barat sebagai tempat dimana pohon itu dulu pernah dibudidayakan dengan baik. Kina rasanya memang sangat pahit dan telah menghantarkan para pebisnis tanaman kina zaman dulu merasakan manisnya profit yang didapatkan dari agribisnis kina. Konon khabarnya puncak kejayaan kina di Indonesia dialami hingga pecah Perang Dunia II, dimana lebih dari 90 persen kebutuhan bubuk kina dunia dihasilkan dari perkebunan kina di wilayah Priangan seluas 17.000 ha dengan volume sekitar 11.000-12.400 ton kulit kina kering per tahun.

Menurut catatan sejarah, tanaman kina pertama kali dibawa ke Pulau Jawa berasal dari kiriman kebun percobaan di Leiden, Belanda. Pada tahun 1852 bibit pohon kina tersebut dibawa ke Pulau Jawa, namun konon karena lama di perjalanan bibit tersebut tiba dalam keadaan sudah layu. Seorang hortulanus (pengawas) Kebun Raya bernama Teysman berhasil mengambil steknya dan akhirnya berhasil tumbuh. Pohon tersebut merupakan pohon kina pertama yang tumbuh di luar Amerika Latin (sebelumnya Inggris dan Perancis telah mencoba di negeri jajahan Afrika, namun karena iklimnya tidak cocok, maka tak sebatangpun bibit kina yang tumbuh). Kemudian pada tahun 1854 sebanyak 500 bibit kina didatangkan dari Bolivia dan ditanam di Cibodas hingga tumbuh sebanyak 75 pohon yang terdiri atas 10 klon.

Menurut deskripsinya tanaman kina dibagi dalam 3 species yaitu Chinchona succirubra, Chinchona calisaya dan Chinchona ledgeriana. Namun demikian di Indonesia, hanya 2 spesies yang dianggap penting yaitu C. succirubra Pavon (kina succi) yang biasa dipakai sebagai batang bawah dan C. ledgriana (kina ledger) sebagai bahan tanaman batang atas.

 

Kulit kina banyak mengandung alkaloid-alkaloid yang berguna untuk obat. Di antara alkaloid tersebut ada dua alkaloid yang sangat penting yaitu kinine untuk penyakit malaria dan kinidine untuk penyakit jantung. Manfaat lain dari kulit kina ini antara lain adalah untuk depuratif, influenza, disentri, diare, dan tonik. Kulit kina kering jemur dari batang utama di perkebunan kina Indonesia mempunyai standar mutu yang memenuhi persyaratan Internasional yaitu memiliki kadar kinin sulfat pada kelas SQ7 (garam kina yang mengandung quinine sulphate, quinine bisulphate, dan kandungan lain). Kelas kualitas ini bahkan lebih besar daripada yang dihasilkan di Afrika.

 

Perkembangan Agribisnis Kina di Jawa Barat

Tanaman kina (Chincona sp.) pernah melambungkan nama tanah priangan ke seantero jagat raya, hal ini dikarenakan lebih dari 90 persen kebutuhan bubuk kina dunia dipasok dari berbagai perkebunan kina yang terdapat di dataran tinggi Bandung, yaitu di daerah pangalengan dan di bukit tunggul lembang, yang ditanam di perkebunan milik PTPN VIII.

Meskipun jumlah populasi tanaman kina saat ini jauh menurun dibandingkan dengan puluhan tahun lalu, namun Jawa Barat hingga kini masih menjadi produsen utama kina nasional. Disamping Jawa Barat memang kina dibudidayakan juga di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Barat. Tak dipungkiri, karena pilihan pertimbangan aspek bisnis maka komoditas kina saat ini mulai dibatasi, bahkan pada beberapa kebun keberadaannya sudah diganti dengan jenis komoditas lainnya. Tentu saja saat ini tumbuhan penghasil kinine ini tersebut semakin diabaikan keberadaannya dengan hadirnya berbagai tanaman perkebunan lainnya yang dianggap lebih bernilai ekonomis

Di Jawa Barat, daerah perkebunan kina di Pangalengan terletak di Cikembang, Purbasari, dan Malabar. Di daerah Ciwidey, terdapat di Rancabolang dan Rancabali. Sebagian lagi terdapat di daerah Lembang dan Subang. Sebagian besar (90%), tanaman kina milik perkebunan negara, sisanya dikelola oleh rakyat dan perkebunan swasta.

Data terakhir (statistik Dinas Perkebunan Jawa Barat tahun 2013) menunjukkan bahwa luas lahan pertanaman kina dan produksi kina makin menurun. Sejak tahun 2003-2005, produksi kina Jawa Barat terus merosot rata-rata 13,8%/tahun. Tahun 2003, tercatat 1.116,60 ton, tahun 2004 sebesar 1.066,03 ton, dan tahun 2005 hanya 819,67 ton. Dan ironisnya luas lahan pertanaman kina di Jawa Barat pada tahun 2013 hanya tersisa 1.147 Ha dengan produksi 285 ton dan produktivitas 448 kg/Ha. Dari luasan tersebut terdapat perkebunan rakyat seluas 320 Ha (Kab. Bandung, Cianjur, Garut, dan Majalengka), perkebunan besar swasta seluas 211 Ha (Kab. Cianjur), perkebunan negara seluas 635 Ha (Kab. Bandung Barat). Dengan perbandingan tersebut jelas terlihat bahwa perkebunan besar negara masih mendominasi luasan pertanaman kina di Jawa Barat.

Salah satu perusahaan negara yang saat ini masih mengembangkan tanaman kina adalahPTPN VIII yang terdapat di kebun Bukit Unggul, dimana Core bussines kebun bukit unggul adalah kina dan teh. Kebun bukit unggul terdiri dari 5 afdeling (bagian) yaitu afdeling bukit unggul (ex afdeling kebun pangheotan), afdeling puncak gedeh (ex afdeling kebun kertamanah), afdeling cikembang (ex afdeling kebun talun santosa), afdeling bungamelur (ex afdeling kebun goalpara) dan afdeling cibitu (ex afdeling kebun rancabali), namun saat ini ke 5 afdeling tersebut dirubah menjadi 2 afdeling yaitu bukit unggul dengan tanaman utamanya kina dan afdeling sukawana (kebun buna) dengan tanaman teh.

Kebun bukit tunggul memiliki topografi berbukit dengan ketinggian tempat 1.200 – 1.650 meter di atas permukaan laut, mayoritas jenis tanah tergolong andosol. Luas areal konsesi kebun bukit unggul tahun 2014 tercatat seluas 1.026,59 Ha yang tersebar di dua kabupaten yaitu Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat dengan komoditi tanaman teh seluas 250,26 Ha dan tanaman kina seluas 776,33 Ha. Luas pertanaman teh terdiri dari Tanaman Menghasilkan (TM) seluas 195,40 Ha, Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) seluas 13,62 Ha, cadangan murni seluas 46,39 Ha, emplasemen seluas 4,89 Ha, lain lain 2 Ha. Sedangkan luas pertanaman kina terdiri dari Tanaman Menghasilkan (TM) seluas 468,76 Ha, Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) seluas 214,49 Ha (TBM I = 46,5 Ha; TBM II = 69,99 Ha; TBM III = 50 Ha; TBM IV = 48 Ha), TBM Jeruk 15,22 Ha, pesemaian 10,10 Ha, emplasemen 31,19 Ha, areal lainnya 10,91 Ha, cadangan 26,43 Ha intercroping KKE 447,20 Ha

Tujuan awal penanaman kina di Jawa Barat sangat berbeda dengan tujuan penanaman kopi dan teh yang pada saat itu harganya sangat tinggi. Penanaman kina hanya sekedar menjaga agar tanaman kina tidak punah karena terbukti mampu mengobati penyakit malaria, sementara pengembangan tanaman kopi dan teh semata-mata karena keperluan bisnis dimana harga produk kopi dan teh sangat tinggi, lebih tinggi dibanding harga kina.

Dilihat dari aspek ekologis, keberadaan tanaman kina sebenarnya mempunyai keunggulan, dimana tanaman tersebut mempunyai perakaran yang kuat, sehingga dapat diandalkan untuk mencegah erosi tanah maupun menyimpan cadangan air tanah. Dulu sebanyak 6.000 pohon kina yang pernah tertanam di Hulu Citarum diakui mampu menjadi areal tangkapan resapan air yang mencegah banjir dan erosi. Namun kini, ketika memandangi hulu Sungai Citarum, ternyata sudah tak tampak satu pun pohon kina yang tersisa. Semuanya gundul, rata dan telah berganti fungsi menjadi kebun sayuran.

Informasi yang diperoleh dari pengelola Kebun Bukit Tunggul, bahwa sejak beberapa puluh tahun yang lalu jumlah perkebunan kina di Jawa Barat semakin menurun, penyebabnya antara lain bahwa tanaman kina banyak yang rusak karena perang, disamping itu hubungan Indonesia dengan negara pengimpor kina terputus sehingga industri kina indonesia ”kehilangan” pasar. Penyebab lainnya adalah industri produk turunan kina dalam negeri perkembangannya tidak mengembirakan, oleh karena itu sebagai konsekwensi pertimbangan bisnis maka pihak perusahaan perkebunan banyak mengonversi tanaman kina ke jenis tanaman perkebunan lainnya yang dinilai lebih menguntungkan.

Pada saat ini kebun Bukit Tunggul memiliki dua buah pabrik yaitu pabrik pengolahan kulit kina dan teh. Untuk pengolahan kulit kina sendiri memiliki kapasitas olah sebesar 3 ton kulit kina kering tepung (K3T) per hari sedangkan untuk pengolahan teh CTC bisa mencapai kapasitas olah 8-12 ton/hari. Hasil akhir pabrik pengolah kulit kina kebun bukit tunggul saat ini hanya sampai tepung kulit kina, sedangkan untuk pengolahan selanjutnya sampai menjadi produk akhir (garam kina) dilakukan oleh PT. Sinkona Indonesia Lestari (PT.SIL) sebagai anak perusahaan PTPN VIII. Selanjutnya produk akhir dari perusahaan ini diekspor ke benua Eropa, Kanada dan Amerika.

 

Peluang dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Kina

Pahitnya agribisnis kina pada saat ini kiranya bisa kembali dirubah menjadi manis, dalam arti agribisnis kina bisa kembali menggeliat menghasilkan pundi-pundi keuntungan bagi bangsa dan negara. Terlebih lagi konon katanya produk turunan kina sekarang bukan hanya sekedar untuk obat malaria saja, tetapi juga untuk bahan asupan bagi industri minuman atau jenis obat-obatan lainnya.

Untuk tujuan pengembangan agribisnis kina selanjutnya, sebaiknya perlu difahami dulu kondisi peluang dan tantangannya. Berdasarkan kajian pengamatan lapangan dan berbagai literatur, maka diperoleh rangkuman kondisi peluang dan tantangan sebagaimana yang disajikan dalam bentuk analisis swot berikut ini:

FAKTOR INTERNAL
Kekuatan/Strength (S) Kelemahan/Weakness (W)
Ketersediaan potensi sumber daya lahan Kurangnya minat pelaku usaha
Ketersediaan industri pengolahan hasil perkebunan yang memadai Rendahnya penggunaan teknologi pengolahan hasil perkebunan
Mempunyai standar mutu yang memenuhi persyaratan Internasional yaitu memiliki kadar kinin sulfat pada kelas SQ7 Memiliki puncak pemasaran yang terbatas
FAKTOR EKSTERNAL
Peluang/Opportunity (O) Tantangan/Threat (T)
Potensi pasar masih tinggi Tingkat persaingan semakin ketat
Penelitian tentang manfaat kina makin berkembang Manfaat kina semakin beragam
Produksi kina di negara negara penghasil mulai menurun Produksi harus ditingkatkan

Berdasarkan analisis SWOT diatas, kiranya dapat kita jabarkan kedalam beberapa strategis berikut ini:

Pemanfaatankan kekuatan yang dimiliki untuk menangkap peluang yang tersedia yaitu:

  • 1.Potensi sumber daya lahan yang tersedia dapat mendukung pengembangan kina untuk memenuhi produksi kina dunia
  • 2.Keunggulan kadar kinin sulfat pada kelas SQ7 (garam kina yang mengandung quinine sulphate, quinine bisulphate, dan kandungan lain) menjadi peluang besar untuk menguasai pasar dunia yang masih tinggi potensinya
  • 3.Industri pengolahan hasil kina yang tersedia dapat ditingkatkan kemampuannya untuk menghasilkan berbagai macam bahan obat, bahan baku kosmetika, minuman penyegar dan industri penyamakan.

Menjadikan peluang yang ada untuk memperbaiki kelemahan yaitu:

  • 1.Untuk mengatasi tingkat persaingan yang semakin ketat dilakukan dengan pemanfaatan potensi pasar seoptimal mungkin
  • 2.Manfaat kina yang semakin beragam dapat diketahui melalui penelitian dan kajian yang semakin berkembang.
  • 3.Menurunnya produksi kina dari negara negara penghasil dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi kina Indonesia

Kekuatan yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk menangkis tantangan yang akan datang yaitu:

  • 1.Dengan ketersediaan potensi sumber daya lahan yang besar, dapat meningkatkan produksi
  • 2.Dengan adanya industri pengolahan hasil kina yang memadai, dapat mendukung pemenuhan kebutuhan kina yang semakin beragam manfaatnya
  • 3.Dengan mempunyai standar mutu yang memenuhi persyaratan internasional (kadar kinin sulfat pada kelas SQ7), dapat meningkatkan daya saing dalam tingkat persaingan yang semakin ketat.

Menjadikan tantangan yang ada untuk mengurangi kelemahan yang dimiliki yaitu:

  • 1.Dengan persaingan yang semakin ketat, diupayakan tetap mampu bertahan pada puncak pemasaran yang terbatas.
  • 2.Dengan semakin beragamnya manfaat kina, diupayakan agar teknologi pengolahan hasil kina dapat mengikutinya.
  • 3.Dengan peningkatan produksi, diharapkan minat pelaku usaha untuk mengembangkan kina semakin bertambah

Kesimpulan

Berdasarkan 12 strategi yang diuraikan di atas maka dapat memberikan gambaran bahwa:

  • 1.Saat ini merupakan saat yang dianggap tepat untuk melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi perkebunan kina.
  • 2.Prospek agribisnis kulit kina sebenarnya sangat cerah, karena permintaan pasar internasional semakin meningkat, sementara kebutuhan pasar tersebut belum terpenuhi oleh negara negara penghasil kina.
  • 3.Mutu kina Indonesia yang sangat prima (SQ7), mejadi salah satu modal besar untuk menghantarkan produk kina Indonesia menjadi produk yang diperhitungkan pasar dunia.
  • 4.Kulit kina merupakan bahan baku obat penyakit malaria, penyakit jantung, kosmetika, minuman penyegar dan industri penyamakan, yang banyak dibutuhkan oleh manusia.

 

Bahan Bacaan:

  • 1.Data Statistik Perkebunan Provinsi Jawa Barat, 2014.
  • 2.Profil Kebun Bukit Tunggul PTPN VIII, 2014
  • 3.Sultoni, A. 1995. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Kina. Asosiasi Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Indonesia. Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung. Jakarta, Februari 2000 Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS Editor : Kemal Prihatman
Sumber : Dinas Perkebunan
Penulis : Siti Purnama

Dibaca : 1705 kali