BANDUNG – Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat “Dody Firman Nugraha” memberikan sambutan arahan sesaat sebelum membuka secara resmi Sosialisasi Pemetaan Komoditas Strategis Perkebunan di ruang rapat Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Jl. Surapati No. 67 Bandung pada Selasa (19 Februari 2019). 

Sosialisasi yang dimotori oleh Bidang Pengembangan dan Perlindungan Perkebunan tersebut  dihadiri kurang lebih 42 orang peserta, yang terdiri dari pejabat dan staf teknis  dinas kabupaten/kota yang menangani perkebunan.  Selain itu, tampak pula hadir perwakilan unit Eselon III Lingkup Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat.    

Dalam sambutan arahannya, Dody mengatakan bahwa pemetaan merupakan pemotretan secara spasial lokasi, kondisi dan kesesuaian lahan suatu komoditas, maka dari itu “untuk dapat terpetakan dalam pola ruang RTRW Provinsi Jawa Barat, kita harus mempunyai data yang terdigitasi”, katanya.

Lebih lanjut pihaknya menyampaikan,  agar kawasan perkebunan terpetakan secara tersendiri dalam  kawasan budidaya pada pola ruang, selayaknya Dinas Perkebunan memiliki peta spasial seluruh komoditas perkebunan eksisting. Atas dasar ini Dody mengatakan; “Sosialisasi ini saya kira dapat menjadi sarana peningkatan kapasitas seorang petugas dalam memahami teknik pemetaan dan manfaat data spasial”.

Perlu diingat kembali, bahwa instrument pemetaan sudah diamanatkan sejak terbit Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Kebijakan Satu Peta Pada Tingkat Ketelitian peta skala 1: 50.000, ungkap Dody.

Mengacu pada Perpres tersebut, ditambah lagi dengan kebutuhan pola ruang kawasan budidaya maka pemetaan komoditas strategis ini wajib dilaksanakan baik ditingkat provinsi dengan ketelitian peta skala 1: 250.000 (peta tinjau) maupun di tingkat kabupaten/kota dengan ketelitian peta skala 1: 50.000 (peta semi detil), lanjutnya.

“Ditinjau dari sisi lain, bagi insan perkebunan, tentunya peta ini sangat bermanfaat, mengingat komoditas perkebunan merupakan tanaman yang berumur puluhan tahun. Jadi jika sekali salah lokasi tanam maka seterusnya produksi tanaman tersebut tidak akan bisa mencapai optimal sebagaimana layaknya jika tanaman tersebut ditanam pada lokasi lahan yang sesuai”, ungkapnya.

Atas dasar pentingnya data spasial inilah, bidang pengembangan dan perlindungan perkebunan menyusun peta komoditas strategis untuk 3 komoditas terlebih dahulu yaitu kopi arabika, kopi robusta dan teh.  Adapun alasan mengutamakan ketiga komoditas tersebut karena kopi sedang booming dan teh merupakan icon Jawa Barat walau saat ini kondisinya tidak seberuntung kopi, namun harus tetap kita akui bahwa teh terluas di Indonesia ini berada di Jawa Barat, ungkap Dody.

Kami sangat sadar bahwa peta seluruh komoditas strategis dan komoditas bukan strategis sampai saat ini belum tersedia, namun sedang diupayakan agar peta tersebut dapat tersedia secara bertahap. Oleh karena itu, saya nilai sosialisasi ini salah satu jawaban kebutuhan akan data spasial, sudah semakin mendesak. 

“Dulu aktivitas pemetaan selalu dipandang sebelah mata dan dianggap kurang bermanfaat, bahkan terkesan hanya sebatas dokumen yang disimpan dalam lemari atau dipajang di tembok ruangan kantor”, katanya. 

Mulai saat  ini mainset tersebut harus dirubah dan mari belajar memahami betapa pentingnya data yang terdigitasi, dan betapa besarnya manfaat peta atau data spasial dalam pembangunan perkebunan khususnya dalam penentuan lokasi aktivitas pengembangan tanaman perkebunan, ajak Dody.

Melalui konsep ini saya yakin  perkebunan akan memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap pembangunan Jawa Barat dan akan mampu mengurangi kesenjangan antar wilayah serta secara tidak langsung juga akan menurunkan angka pengangguran yang pada akhirnya perkebunan dapat menjadi sektor unggulan di Jawa Barat, ungkap Dody sambil mengakhiri arahannya...

Usai sambutan arahan dan setelah dibuka secara resmi oleh Kadisbun, agenda dilanjutkan dengan penyampaikan materi masing-masing narasumber.   Narasumber pertama merupakan Peneliti bidang pemetaan dan evaluasi sumber daya lahan “Ir. Suratman MSi.” asal Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) Bogor. Beliau menyampaikan materi  pengembangan data spasial dan analisis sumber daya lahan perkebunan. 

Narasumber kedua merupakan seorang tenaga pengajar “Dr. Sony Darmawan” asal Institut Teknologi Nasional (ITENAS), menyampaikan materi perkembangan tekhnologi geospasial untuk pemetaan lahan perkebunan.

Sedangkan narasumber ketiga “Ir. Hariadi Asoen” merupakan tenaga pengajar teknik planologi yang juga merangkap sebagai konsultan pemetaan dari Universitas Islam Bandung (UNISBA) menyampaikan materi pemanfaatan data spasial dalam pembangunan perkebunan.

Semua peserta sangat antusias dan tertib dalam mengikuti sosialisasi, berbagai pertanyaan dan masukan menarik disampaikan peserta pada saat tanya jawab dengan narasumber.  Perwakilan 3 kabupaten (Tasikmalaya, Sumedang dan Pangandaran) menyampaikan dua hal yang perlu mendapat prioritas dalam melaksanakan pemetaan yaitu 1). Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pemahaman GIS, 2). Penyedian prasarana kebutuhan pemetaan, baik berupa soft ware, hard ware maupun peralatan lainnya.

Sosialisasi berakhir dengan sukses dan ditutup secara resmi oleh Kepala Seksi Penataan Lahan Perkebunan.

 

Penulis : Ir. Siti Purnama, MP


Dibaca : 220 kali