BANDUNGDinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat melaksanakan konsolidasi dengan pelaku usaha Kopi Arabika Java Preanger, dalam rangka menyamakan persepsi dan langkah terkait rencana menjalin kemitraan dengan pihak lain. Kemitraan yang ideal harus mampu meningkatkan peluang dan manfaat untuk mendorong percepatan dalam peningkatan kesejahtraan.

Konsolidasi tersebut dipandu Kepala Bidang Produksi “Ir. Yayan C. Permana, MM.”, didampingi Kepala Bidang Pengolahan, Pemasaran dan Usaha Perkebunan “Ir. Yeyep Sudrajat, MM.”, hadir juga perwakilan pejabat struktural lingkup Dinas Perkebunan. Acara diselenggarakan di ruang rapat Lt. 3 Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Jl. Surapati No. 67 Bandung pada Senin (11 Maret 2019).

Dalam pembukaan acara, Yayan mengingatkan agar nasib kopi jangan sampai seperti nasib komoditas yang lain, yaitu bagus di awal layu dalam perjalanannya. Bicara tentang permodalan, memang telah menjadi masalah sejak dulu. Maka dari itu sebaiknya, investasi/ kemitraan yang dijalin harus menguntungkan kedua belah pihak, oleh sebab itu harus ada sinergitas dan kolaborasi yang baik diantara yang bermitra, dengan demikian diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani, ungkap Yayan.

Hal senada diungkap oleh Yeyep saat menambahkan kata pembuka. “Kopi Jawa Barat belum unggul dari sisi jumlah, tetapi sudah banyak penghargaan yang diraih dari berbagai event sehingga dilirik oleh pengusaha. Namun, Yeyep berpesan pada semua pihak perkopian Jawa Barat, agar dalam menjalin kemitraan, harus membuat kata sepakat terlebih dahulu dan bersikap lebih hati-hati, karena  posisi petani biasanya tidak punya daya tawar.

Pihaknya kembali mengingatkan tentang bantuan benih kopi dari Gubernur, yang telah disalurkan sejak tahun 2014, pasti saat ini sudah banyak yang panen dan   sebentar lagi akan berada pada fase produksi. Bantuan benih penyaluran tiga tahun  terakhir, tentu akan menjadi penambah tonase kopi Jawa Barat pada tahun ini, katanya, seraya mengakhiri pengantarnya.

Berbagai tanggapan dan masukan menarik, disampaikan oleh peserta konsolidasi.  Kurnia, sebagai pelaku usaha kopi yang juga ketua APEKI Kabupaten Bandung Barat, mengatakan pada intinya petani itu tidak punya modal, biasanya sudah punya buyer masing-masing dan sudah solid.  Namun demikian apabila buyer baru yang akan berimitra, sistemnya lebih baik dari yang ada sekarang, maka tentu bisa dipertimbangkan, masalah harga relative akan mengikuti perkembangan, tuturnya.

Disisi lain, Aleh petani kopi dari  Pangalengan Kabupaten Bandung, berpendapat bermitra dengan perusahaan besar, sah-sah saja asal tidak menjadikan petani sebagai budak perahan atau mati kutu. Aleh berharap, Disbun sebagai pembina petani kopi berkomitmen untuk menyelamatkan petani.

Menurut Aleh kemitraan harus berkelanjutan dan harus bisa menanggulangi modal untuk membeli kopi di tingkat petani, istilahnya “Bapak angkat harus bisa mengayomi petani” pungkas Aleh.

Pernyataan senada diungkap Dudi, pelaku kopi dari Ciwidey-Bandung, menurutnya bekerjasama harus dengan yang bisa memberikan uang dimuka, karena kalau dengan bank berat dalam pelunasannya.  Pada intinya tengkulak diawalnya manis dalam kerjasama namun setelah lama-lama ingin menguasai semua sistem tata niaga, dan menjadikan petani sebagai buruh, ucap Dudi.

Dukungan senada muncul dari “Asep” petani kopi asal Cibeber Kabupaten Bandung Barat. Menurutnya petani harus bisa menentukan harga, bukan investor. Asep  mengingatkan kopi Jawa Barat punya ciri khas tersendiri dibanding kopi dari daerah dan dari Negara lain, sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Harga harus menguntungkan berbagai pihak, petani, pengolah dan investor, tutur Asep.

Dipihak lain, Eti pemilik kopi Wanoja asal Kabupaten Bandung, melontarkan konsep kemitraan yang menurutnya lebih ideal, yaitu kerjasama berupa bagi hasil, dimana keuntungan dibagi 2 antara investor dengan petani/pengolah.

Tanggapan pamungkas muncul dari  pelaku kopi “Ayi Suteja” dari  Gunung Puntang-Bandung, pihaknya menjelaskan  jika investor sudah tahu kualitas dan kuantitas satu jenis kopi, biasanya investor tersebut langsung menghubungi petani karena mereka  sudah mempertimbangkan berbagai aspek dan berbagai kemungkinan.

Oleh sebab itu, Ayi berpesan agar petani sebagai produsen tidak menjual hanya kepada satu buyer saja, namum ke berbagai investor/buyer, akan tetapi  harus bisa memilih buyer  yang berkelanjutan, bukan buyer yang jual putus.

Ayi juga mengingatkan, bahwa buyer yang dipilih harus peduli pada petani, minimal mau memberikan  pelatihan kepada petani, oleh karena itu harus terlebih dahulu diketahui profil dan track record dari calon investor tersebut, katanya.

Sebagai tanggapan pamungkas, Yayan menutup dengan berbagai kata-kata bijak. Pihaknya mengamanatkan, bahwa dalam menjalin kerjasama bisnis harus dijalin dengan baik, harus sudah ada gambaran mengenai kerjasama yang akan dilaksanakan, harus saling menguntungkan dan harus saling percaya, ungkapnya.

Begitu pula Yeyep, menggarisbawahi tentang rencana pembangunan pabrik di Jawa Barat oleh calon investor. Yeyep berharap petani harus berhati-hati dalam menghadapi konglomerasi, jangan sampai dirugikan, karena calon investor memiliki modal yang besar.

Yeyep mengingatkan kembali, tentang tujuan menjalin kerjasama hanya semata-mata untuk   meningkatkan pendapatan petani. Karena itu petani harus punya bayangan dalam menjalin kerja sama dengan siapapun. Jangan sampai kerjasama yang dijalin malah membawa kerugian kelak, tutupnya. (Siti Purnama)


Dibaca : 132 kali