BANDUNG – Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat, “Iwa Karniwa” dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh  Kepala Biro Perekonomian,  Ir. Rahmat Taufik Garsadi, MSi. berharap Forum Perangkat Daerah (FPD) yang digelar selama 2 hari, Selasa hingga Rabu  (19-20/3/2019) oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat  menjadi suatu upaya untuk mensinergikan fokus pembangunan perkebunan, penyiapan rencana kerja dan penyampaian usulan kegiatan pembangunan perkebunan untuk tahun 2020 mendatang.

Rahmat mengatakan, perkebunan di Jawa Barat memiliki peranan penting dalam konstalasi pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan. Hal ini terlihat dari lahan perkebunan tahun 2017 tercatat seluas 475.648 Ha atau sebesar 12,85% dari total luas Jawa Barat (3.7 juta Ha), dengan melibatkan tenaga kerja  sebanyak 1.381.775 KK untuk mengelola  32 jenis komoditas,  

Salah satu komoditas perkebunan yang sedang naik daun adalah kopi, baik arabika maupun robusta. Namun yang lebih banyak mendapat perhatian dan banyak dikembangkan di Jawa Barat, jenis arabika karena harganya lebih mahal.  Demikian juga dari pihak buyer, lebih banyak mencari dan melirik jenis arabika.

“Saat ini trend peningkatan minum kopi secara global telah berimbas pada permintaan bahan baku, selayaknya kondisi tersebut ditangkap petani dan pelaku usaha kopi sebagai peluang pasar, untuk lebih meningkatkan produk yang bermutu”, kata Iwa dalam sambutan tertulisnya.

Bertolak belakang dengan trend minum kopi,   masih terdapat beberapa pekebun yang tingkat kesejahteraannya dibawah standar akibat produktivitas dan mutu hasilnya belum seperti yang diharapkan. Salah satu pemicunya, tanaman kopi eksisting banyak yang tua dan rusak, diperberat lagi dengan  pemeliharaan yang kurang serta adanya serangan OPT.

Beliau mengungkap, fokus pembangunan perkebunan tahun 2020, akan dilakukan melalui  Rencana Aksi Multipihak-Implementasi Pekerjaan (RAM-IP) hingga tahun 2023 mendatang khususnya untuk pengembangan kopi, fokus lainnya penciptaan Wira Usaha Baru bidang perkebunan untuk pelaku usaha komoditas strategis, Citarum harum dengan mengedepankan konservasi lahan di hulu Sungai Citarum, perlindungan usaha perkebunan baik dari gangguan OPT maupun non OPT.

Pihaknya juga menegaskan bahwa, pembahasan usulan pembangunan tahun 2020, tidak bisa terlepas dari hasil yang sudah dicapai dan apa yang menjadi koreksi di tahun 2017 maupun 2018. Ketika membuat perencanaan pasti berdasarkan plan (rencana) dan budget (keuangan), oleh sebab itu jangan sampai  ada aktivitas yang tidak dilaksanakan sehingga terdapat silpa yang fantastis, ujarnya seraya menutup arahannya.

Sejalan dengan arahan Sekda, Kepala Dinas Perkebunan “Ir. Doddy Firman Nugraha”, mengatakan keberhasilan pelaksanaan program/kegiatan pembangunan perkebunan tidak terlepas dari adanya kolaborasi pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota dalam mengawal seluruh proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan monitoring yang secara defakto sangat memahami permasalahan di lapangan.

Doddy mengatakan Forum PD ini pada dasarnya merupakan musrenbang OPD di mana setelah hasil musrenbang kecamatan, OPD terkait diminta untuk menyikapi usulan-usulan dari masyarakat dan dituangkan ke dalam renja OPD yang bisa dipakai untuk kegiatan tahun 2020 sesuai dengan skala prioritas yang ada.

Tujuan dari Forum PD ini, untuk mencapai kesepahaman bersama tentang Rencana Kerja (Renja) Dinas Perkebunan Tahun 2020 sehingga dapat berjalan secara sistematis, efektif dan efisien serta menghasilkan manfaat bagi seluruh pelaku usaha perkebunan, ucap Doddy.

Forum PD yang mengangkat tema; “akselerasi dan sinergitas perencanaan sebagai jembatan mewujudkan inovasi dan kolaborasi pembangunan perkebunan” tersebut digelar di Ball Room Hotel Papandayan, Jl. Gatot Subroto no.83 Bandung yang dihadiri 150 orang peserta perwakilan Bappeda Kab/Kota, Dinas Kab/Kota yang menangani perkebunan, ketua asosiasi komoditas perkebunan, stakeholders terkait, mitra Disbun tingkat provinsi dan pejabat struktural lingkup Dinas Perkebunan Provinsi.

Hadir sebagai narasumber, Kepala Bagian Perencanaan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan Ir. Deden Indrateja, Kepala Unit Kerja Perekonomi dan Sumberdaya Alam Bappeda Provinsi  Jawa Barat, Dr. Iendra Sofyan ST.MSi., pakar teh dari KBP Chakra, Dr. Sukirman, Sekjen Dekopi/Ketua Coffe Lover Indonesia, Dr. Jamil Musanip, pakar kelapa/promotor emas hijau, Prof.Wisnu Gardjito,  Tim Akselerasi Pembangunan (TAP) Jawa Barat, Dr. Angga Dwiartama, Testimoni petani kopi arabika Java Preanger, Moch Aleh dan Redaktur Pelaksana Majalah Trubus, Sardi Duryatmo.

Point-point penting terkait fokus kegiatan nasional Tahun 2020 disampaikan  Deden secara ringkas. Menurutnya ada 7 fokus kegiatan yaitu, terkait; 1). Produksi & Perbanyakan benih unggul perkebunan (BUN500), 2). Hilirisasi Produk Perkebunan, 3). Pengembangan Pertanian Organik, 4). Peningkatan produksi, produktivitas, dan ekspor rempah (pala, lada, cengkeh), kopi, kakao, karet, kelapa, tebu, 5). Peningkatan infrastruktur penyediaan air (embung, dam parit dan bangunan air lainnya, 6). Fokus Komoditas dan Kawasan/Cluster, 7). Sinergi Program/Kegiatan Lintas eselon I & Kementerian/Lembaga.

Hal senada disampaikan Iendra.  Fokus kegiatan perkebunan di Jawa Barat, dalam rangka mendukung Jabar Juara  antara lain pengembangan klaster komoditas kopi, teh, kelapa dan karet serta Implementasi RAM-IP Pengembangan Usaha Kopi sesuai Kepgub No. 69 Tahun 2018.

Untuk mewujudkan pekebun juara, Iendra mengatakan  dapat dilakukan melalui aktivitas;  1). penjaminan ketersediaan benih berkualitas, 2). peningkatan kualitas dan pemberdayaan sumberdaya pertanian seperti perlindungan dan pemberdayaan pekebun, 3). pengendalian OPT, 4). peningkatan sarana dan prasarana, perlindungan lahan produktif serta teknologi pertanian, 5). peningkatan produksi dan nilai tambah.

Sejalan dengan program pusat dan Bappeda, Angga  (TAP), menguraikan fokus program pembangunan perkebunan tahun 2020, adalah 1). Kemitraan Usaha Perkebunan, 2). Pengembangan kawasan terpadu bidang perkebunan dan kehutanan, 3). Pengembangan aplikasi online pendukung produksi dan pemasaran produk perkebunan dan kehutanan. Khusus program unggulan sub sektor perkebunan, mewujudkan komunitas pekebun juara, klaster tani juara, revitalisasi fasilitator daerah dan pemandu lapang, tutur Angga.

Yang tak kalah pentingnya, masalah kemitraan dengan pabrikan teh, Sukirman mengatakan bahwa pola kemitraan dengan pabrikan harus berorientasi mutu dan ekspor, dengan demikian diharapkan akan memberikan manfaat lebih baik bagi petani teh. Pihaknya memberikan gambaran analisis usaha tani teh, akan menguntungkan jika produktivitas tanaman teh diatas 3.000 ton kering/ha/th. Jika demikian, keuntungan bisa mencapai Rp. 2 juta /bl/Ha, melebihi keuntungan sawit, ujarnya.

Sesuai dengan konsep pembangunan  “Pentahelix”, di mana unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pengusaha, dan media bersatu membangun kebersamaan dalam pembangunan, maka pada Forum PD ini, Disbun juga menghadirkan media trubus. Sardi, sebagai redaktur trubus,  menjelaskan peran media dalam pembangunan perkebunan bisa sebagai edukasi,  agen pembaru (agent of social change), membantu mempercepat proses peralihan masyarakat.

Menurutnya, mustahil pembangunan perkebunan akan diketahui halayak perkembangannya tanpa kehadiran media, dan mustahil inovasi dapat diadopsi dan elaborasi tanpa peran media. Media massa  bukan sekedar arus lalu lintas informasi, akan tetapi berfungsi sebagai power untuk mengatur opini masyarakat, mempengaruhi terbentuknya consensus, dan kiblat masyarakat dalam mengambil keputusan, ungkapnya.

Jelas sudah benang merah kolaborasi pentahelix dalam membangun perkebunan di Jawa Barat, melalui aktivitas klasterisasi komoditas, kawasan berbasis korporasi, RAM-IP pengembangan usaha kopi, Citarum harum, kemitraan petani/pelaku usaha  dengan perusahaan besar baik swasta maupun Negara.  (Siti Purnama).


Dibaca : 799 kali